Showing posts with label Animalia. Show all posts
Showing posts with label Animalia. Show all posts

Cacing pipih, Platyhelminthes

Platyhelminthes adalah cacing berbentuk pipih, triploblastik, dan aselomata.


Cara Hidup dan Habitat
Platyhelminthes hidup bebas di air laut, air tawar, atau tempat yang lembap dengan cara memakan sisa organisme dan tumbuhan atau hewan kecil. Ada cacing yang hidup sebagai endoparasit atau parasitdi dalam tubuh inang. Namun ada pula yang hidup sebagai ektoparasit dengan memakan lendir dan sel-sel di permukaan tubuh inang.

Ukuran dan Bentuk Tubuh
Ukuran tubuh Platyhelminthes bervariasi, mulai kurang dari 1 mm hingga lebih dari 20 m. Bentuk tubuh Platyhelminthes pipih dorsoventral, simetri bilateral, beruas atau tidak beruas. Platyhelminthes merupakan hewan yang paling primitive di antara hewan bilateral lainnya.

Struktur Tubuh Platyhelminthes

Struktur dan Fungsi Tubuh
Tubuh Platyhelminthes terdiri atas tiga lapisan embrionik. Tubuhnya aselomata atau tidak memiliki rongga tubuh. Ada Platyhelminthes yang sudah memiliki sistem pencernaan maknaan, terutama yang hidup bebas. Platyhelminthes tidak memiliki sistem pernapasan dan sistem peredaran darah, sehingga pertukaran dan transportasi zat terjadi secara difusi. Sistem saraf Platyhelminthes berupa beberapa pasang benang saraf. Alat ekskresi masih sangat sederhana, yaitu berupa saluran bercabang yang berakhir pada flame cell atau sel api. Alat indera berupa bintik mata untuk mendeteksi adanya sinar dan sel kemoreseptor.

Struktur Tubuh Platyhelminthes

Cara Reproduksi
Platyhelminthes bereproduksi secara seksual, aseksual, atau keduanya. Pada umumnya Platyhelminthes bersifat hermafrodit karena memiliki testis dan ovarium. Reproduksi aseksual Platyhelminthes dilakukan dengan cara fragmentasi.

Klasifikasi
Turballaria
     Hampir semuanya hidup bebas di alam. Sebagian besar hidup di dasar laut, pasir, lumpur, atau di bawah batu karang. Ada pula yang hidup bersimbiosis dengan ganggang, serta bersimbiosis komensalisme di rongga mantel Mollusca dan di insang Crusticeae. Beberapa jenis Turbellaria hidup parasit di usus Mollusca dan di rongga tubuh Echinodermata.
     Bentuk tubuh Turbellaria pada umumnya lonjong hingga panjang, pipih dorsoventral, dan tidak beruas. Ukuran tubuh antara 0.5 mm-60 cm, namun sebagian besar berukuran sekitar 1 cm. Sisi-sisi kepala melebar membentuk tentakel yang disebut aurikel. Pada bagian ventral, terdapat silia untuk merayap. Tubuhnya ditutupi epidermis yang berlendir. Lendir ini berfungsi untuk melekat dan membalut mangsanya. Turbellaria memiliki rhabdite pada lapisan epidermisnya, berupa struktur seperti batang yang dihasilkan saat sekresi mukus dan berfungsi untuk pertahanan diri.
     Turbellaria memiliki sistem pencernaan yang terdiri atas mulut, faring, dan rongga gastrovaskuler yang disebut enteron atau usus. Dinding ususnya hanya terdiri atas satu lapisan sel fagosit dan sel kelenjar. Dinding ususnya mengalami pelebaran lateral guna memperluas penyerapak sari makanan. Turbellaria tidak memiliki anus.
     Sistem sarafnya bervariasi, ada yang berbentuk jala saraf, ada pula yang berbentuk benang saraf. Turbellaria memiliki sepasang atau lebih bintik mata. Pada umumnya Turbellaria menunjukkan gerak fototaksis nehatif. Turbellaria juga memiliki indera peraba berupa sel kemoreseptor.
     Alat ekskresi berupa protonefridia, berbentuk saluran bercabang yang berakhir pada flame bulb atau flame cell. Sel api berbentuk seperti bola lampu yang di dalamnya terdapat beberapa silia. Sisa metabolisme berupa ammonia yang dikeluarkan secara difusi melalui permukaan tubuh.
     Turbellaria bereproduksi secara aseksual, seksual, atau keduanya. Pada umumnya hermafrodit, tapi ada pula yang tidak hermafrodit. Reproduksi seksualnya secara mutual, yaitu dua individu saling bertukar sperma untuk membuahi ovum pada individu pasangannya. Reproduksi aseksualnya secara pertunasan atau membelah diri.
Terdapat sekitar 3.000 spesies Turbellaria, antara lain Symsagittifera roscoffensis, Mesostoma, Dugesia, Bipalium, dan Leptoplana.

Turbellaria

Monogenea
Monogenea hidup ektoparasit pada ikan, amfibi, dan reptile. Cacing ini memakan lendir dan sel permukaan tubuh inang. Cacing dewasa berukuran 0,2-0,5 mm. Pada umumnya, monogenea bersifat hermafrodit dan mengalami pembuahan sendiri. Cacing ini memiliki alat penempek pada bagian anterior yang disebut prohaptor dan opistator di bagian posterior. Opistator dilengkapi dengan duri, kait, jangkar, atau alaat pengisap, dan biasanya  lebih sering digunakan untuk menempel pada tubuh inang. Misalnya Gyrodactylus salaris.

Monogenea

Struktur Tubuh Monogenea

Trematoda
Disebut juga cacng isap atau flukes. Tubuhnya berbentuk lonjong hingga panjang yang dilapisi kutikula. Cacing dewasa berukuran 0,2 mm-6 cm. Trematoda hidup endoparasit pada ikan, amfibi, reptil, burung, mamalia, juga manusia. Namun ada pula yang ektoparasit. Pada daur hidupnya, Trematoda memiliki inang utama sebagai tempat hidup saat dewasa dan inang perantara sebagai tempat hidup larvanya. Trematoda memiliki satu atau dua alat pengisap untuk menempel pada tubuh inang. Contohnya cacing hati pada hewan ternak herbivora (Fasciola hepatica), cacing hati pada manusia (Clonorchis sinensis), dan blood flukes (Schistosoma japonicum, Schistosoma mansoni).

Struktur Tubuh Trematoda

Trematoda

Siklus Hidup Fasciola hepatica

Cestoda
Cestoda atau cacing pita hidup parasit di usus vertebrata. Tubuh cacing pita ditutupi oleh kutikula, tidak memiliki mulut dan alat pencernaan, serta tidak memiliki alat indera. Tubuh cacing dewasa terdiri atas kepala (skoleks), leher pendek (strobilus), dan proglotid. Skoleks dilengkapi alat pengisap atau sucker dan alat kait atau rostellum untuk melekat pada organ tubuh inang. Lehernya merupakan daerah pertunasan, dengan cara strobilasi menghasilkan strobilus berupa serangkaian proglotid dengan jumlah mencapai 1.000 buah. Proglotid yang terdekat dengan leher adalah proglotid termuda. Setiap proglotid memiliki alat kelamin jantan maupun betina. Pembuahan dapat terjadi dalam satu proglotid maupun antarproglotid dari individu yang sama maupun berbeda. Telur yang sudah dibuahi akan memenuhi uterus yang bercabang-cabang, sedangkan organ lainnya berdegenerasi. Proglotid yang mengandung telur akan terlepas bersama tinja. Daur hidup cacing pita membutuhkan satu atau dua inang perantara.

Struktur Tubuh Cestoda

Peranan
-          Gyrodactus salaris (Salmon fluke), kelas Monogenea, menyerang ikan di kolam pembenihan.
-  Schistosoma mansoni (blood flukes), menyebabkan skistosomiasis, yang menyebabkan terjadinya pendarahan saat mengeluarkan feses, kerusakan hati, gangguan jantung dan limpa, serta gangguan ginjal. Penyakit ini disebut juga demam keong karena perantaranya merupakan keong Oncomelania hupensis lindoensis.

-     Taenia saginata, Taenia solium, dan Dibothriocephalus,kelas Cestoda hidup parasit di usus manusia.

Ubur-ubur Sisir, Ctenophora

Ctenophora dikenal sebagai ubur-ubur sisir atau comb jelly yang hidup di laut. Tubuh Ctenophora berbentuk simetri radial, berdiameter antara 1-10 cm. Sebagian besar berbentuk bulat atau oval, namun ada yang berbentuk memanjang seperti pita hingga mencapai panjang 1 m. Ctenophora tidak memiliki alat sengat nematosista, sehingga ia menangkap mangsanya dengan menggunakan tentakel yang dilengkapi dengan struktur sel-sel perekat ‘koloblas’ atau lasso cell. Tentakel Ctenophora berjumlah sepasang, berukuran panjang, dan dapat ditarik kembali. Ctenophora memiliki satu mulut untuk memasukkan makanan, dan dua lubang pengeluaran untuk mengeluarkan air dan sisa zat padat.


Ctenophora merupakan hewan terbesar yang menggunakan silia untuk lokomosi atau sebagai alat pergerakannya. Kemiripan Ctenoophora dengan Cnidaria diduga sebagai hasil evolusi kovergen akibat hidup di lingkungan yang sama. Filum Ctenophora dibagi menjadi dua kelas, yaitu Tentacula (contohnya Mertensia ovum) dan Nuda (contohnya Neis cordigera). Terdapat hanya sekitar 100 spesies ubur-ubur sisir.


Cnidaria, Hewan Berongga yang Memiliki Sengat

Cnidaria adalah hewan invertebrata yang memiliki rongga tubuh sebagai alat pencernaan makanan atau disebut sebagai gastrovaskuler dan memiliki alat sengat sebagai pertahanan diri dan menangkap mangsanya.

Cara Hidup dan Habitat
Sebagian besar Cnidaria hidup di air laut dan hanya beberapa spesies tinggal di air tawar. Cnidaria hidup di perairan dangkal secara berkoloni atau soliter. Cnidaria yang berbentuk polip hidup dengan cara sesil atau menempel di suatu substrat, sedangkan Cnidaria yang berbentuk medusa bergerak melayang atau berenang bebas di dalam air. Cnidaria hidup heterotrof sebagai karnivora dengan memakan udang (Crustacea) dan ikan kecil.

Ukuran dan Bentuk Tubuh
Ukuran tubuh Cnidaria bervariasi mulai dari beberapa millimeter sampai berdiameter 2 m. Tubuh Cnidaria berbentuk simetri radial dan dapat dibedakan menjadi polip dan medusa. Polip berbentuk silindris yang memiliki dua ujung, dengan salah satu ujung sebagai oral yang dikelilingi tentakel, dan ujung yang lain sebagai aboral yang menempel pada substrat. Medusa berbentuk seperti lonceng, paying, atau mangkok terbalik, di mana bagian cembung mengarah ke atas dan bagian cekung yang memiliki mulut dan tentakel mengarah ke bawah.

Struktur dan Fungsi Tubuh
Cnidaria termasuk eumetazoa karena tubuhnya sudah tersusun atas jaringan sejati. Cnidaria merupakan hewan diploblastik atau memiliki dua lapisan embrionik yaitu endodermis dan ektodermis.
Tubuh Cnidaria terdiri atas tiga lapisan, yaitu:
-          Epidermis, yang tersusun atas 5 macam sel yaitu sel epitel otot, sel interstisial, sel knidosit atau knidoblas, sel kelenjar lendir, dan sel saraf indra. Sel knidosit mengandung kapsul penyengat nematosista yang banyak terdapat di tentakel dan ujung oral. Racun yang dikeluarkan nemosista umumnya tidak membahayakan manusia, namun ada yang menyebabkan rasa sakit, panas, bahkan kematian. Nematosista hanya dapat digunakan sekali saja, sehingga perlu dibentuk knidosit baru. Sel interstisial berfungsi dalam regenerasi dan menghasilkan tipe sel lainnya. Sel indra berhubungan dengan sel saraf yang tersusun seperti jala pada epidermis yang berdekatan dengan mesoglea.
-          Mesoglea, rongga yang berisi bahan seperti gelatin dan tidak mengandung sel. Mesoglea terletak di antara epidermis dan gastrodermis.
-          Gastrodermis, terdiri atas beberapa macam sel, yaitu sel otot pencerna berflagela, sel kelenjar enzim, dan sel kelenjar lendir. Sebagian besar Cnidaria memiliki nematosista pada gastrodermisnya.

Pergerakan
Kontraksi otot Cnidaria berpengaruh terhadap cairan di dalam rongga gastrovaskuler yang berfungsi sebagai rangka hidrostatik. Polip hanya dapat bergerak meliuk-liuk sedangkan medusa dapat berenang bebas dengan cara berdenyut akibat kontraksi otot melingkar. Gerakan medusa secara vertikal saja, sedangkan pergerakan horizontal bergantung pada arus laut.

Cara Mencerna Makanan
Makanan masuk ke dalam mulut dengan bantuan tentakel, kemudian masuk ke rongga gastrovaskuler. Di dalam rongga gastrovaskuler terdapat enzim semacam tripsin untuk mencerna protein. Makanan akan hancur dan kemudian diaduk hingga merata oleh gerakan flagella. Sel otot pencerna memiliki pseudopodia untuk menangkap dan menelan partikel makanan. Pencernaan dilanjutkan secara intraseluler. Sari makanan hasil pencernaan diedarkan ke seluruh tubuh secara difusi, sebagian disimpan sebagai cadangan makanan berupa lemak dan glikogen. Sisa pencernaan maknaan dibuang melalui mulut. Cnidaria tidak memiliki anus.

Pernapasan dan Eksresi
Cnidaria tidak memiliki alat pernapasan dan ekskresi. Pertukaran gas dilakukan oleh seluruh permukaan tubuhnya secara difusi. Sisa-sisa metabolisme berupa ammonia juga dibuang secara difusi.

Reproduksi
Cnidaria bereproduksi secara aseksual dan seksual. Reproduksi secara aseksual dengan pembentukan tunas. Tunas dibentuk oleh Cnidariaa yang berbentuk polip dan tumbuh di dekat kaki polip.
Reproduksi seksual Cnidaria umumnya dilakukan oleh Cnidaria berbentuk medusa dengan cara membentuk sel gamet jantan atau betina.
Cnidaria ada yang diesis dan ada pula yang hermafrodit. Reproduksi secara aseksual pada stadium polip dan reproduksi  seksual paa tahap medusa dapat terjadi secara bergantian, disebut metagenesis. Baik polip maupun medusa memiliki kromosom diploid (2n). Fertilisasi dapat terjadi secara eksternal di air atau secara internal di manubrium atau gonad.
Siklus Hidup Aurelia sp.

Siklus Hidup Obelia sp.

Klasifikasi
Terdapat sekitar 10.000 spesies Cnidaria yang telah diidentifikasi. Cnidaria dibagi menjadi beberapa kelas, antara lain:
-          Hydrozoa, yang sebagian besar hidup di laut dan hanya sebagian kecil hidup di air tawar. Hydrozoa hidup sebagai polip, medusa, atau keduanya. Gastrodermisnya tidak mengandung nematosista. Polipnya hidup secara soliter. Hydrozoa memiliki dua macam alat indera yaitu oseli sebagai pengindera cahaya dan statosista sebagai alat keseimbangan. Beberapa medusa menunjukkan gerak fototaksis negatif namun ada pula yang menunjukkan gerak fototaksis positif. Contoh Hydrozoa antara lain Physalia, Obelia, dan Hydra.

Polip Hydrozoa

Medusa Hydrozoa

-          Scyphozoa, hidup di laut dan merupakan ubur-ubur sejati karena fase medusa mendominasi siklus hidupnya. Pada umumnya medusa berenang bebas, berbentuk seperti paying berdiameter 2-40 cm, bahkan ada yang mencapai 2 m. Ordo Stauroedusae memiliki medusa bertangkai pada bagian aboral dan sesil pada ganggang dan benda lainnya. Ada Scyphozoa yang tidak memiliki fase polip, namun ada juga yang berbentuk polip dengan ukuran kecil berupa skifistoma. Scyphozoa umumnya diesis dan gonad terdapat di gastrodermis. Sel telur atau sperma masuk ke dalam rongga gastrovaskuler dan dikeluarkan melalui mulut. Fertilisasi dapat terjadi secara eksternal di air atau di koral. Contoh Scyphozoa antara lain, Periphylla, Chrysaora, Aurelia, Cyanea, dan Rhizostoma.

Scyphozoa

-          Cubozoa, mengalami metamorfosis lengkap dari polip hingga medusa paying berbentuk kotak, dan memiliki lensa mata yang kompleks. Cubozoa merupakan ubur-ubur sejati. Medusa berbentuk lonceng dengan empat sisi datar. Tinggi lonceng mencapai 17 cm, jumlah tentakel empat rumpun dengan panjang mencapai 2 m. Cubozoa mampu berenang cepat secara horizontal dengan bagian aboral sebagai anteriornya. Beberapa jenis Cubozoa membahayakan para perenang karena sengatan nematosistanya dapat menyebabkan luka yang sulit disembuhkan, bahkan ada yang menyebabkan kematian dalam waktu 3-20 menit. Contohnya Chironex fleckeri di perairan Indo-Pasifik.

Cubozoa

-          Anthozoa, yang memiliki bentuk bunga. Anthozoa hidup sebagai polip soliter atau berkoloni dan tidak memiliki bentuk medusa. Ada Anthozoa yang berbentuk rangka dalam atau rangka luar dari kapur. Rongga gastrovaskulernya bersekat dan mengandung nematosista. Gonad terdapat di dastrodermis. Terdapat sekitar 6.000 spesies Anthozoa antara lain sebagai berikut:
o   Metridium dan Edwardsia, dapat merayap dengan pedal semacam kaki
o   Acropora, Fungia, Astrangia, memiliki rangka luar dari zat kapur yang disebut karang batu
o   Antipathies, koral hitam, rangka tersusun dari zat tanduk, dan berbentuk seperti ranting tumbuhan yang bercabang-cabang berwarna hitam
o   Cerianthus, polip berbentuk seperti anemon panjang, bertentakel banyak, dan terbungkus selubung dari lendir dan pasir yang mengeras
o   Corallium, digunakan untuk perhiasan

Anthozoa

Peranan
-          Cnidaria dari kelas Anthozoa sebagai pembentuk ekosistem terumbu karang
-          Beberapa jenis ubur-ubur yng tidak beracun dapat dikonsumsi dan diperjualbelikan sebagai ubur-ubur asin

-          Kerangka luar beberapa jenis Cnidaria dapat digunakan sebagai hiasan akuarium

Hewan Spons, Porifera

Porifera adalah hewan invertebrata yang tidak memiliki jaringan sejati, atau disebut juga sebagai parazoa. Porifera termasuk hewan diploblastik aselomata yang tidak beruas, memiliki permukaan tubuh berpori seperti spons, dan memiliki alat gerak berupa flagella atau bulu cambuk.

Habitat dan Cara Hidup

Porifera, yang disebut sebagai anggota Animalia paling primitif ini sebagian besar memiliki habitat air laut, dan sebagian kecil berhabitat air tawar. Porifera dewasa hidup sesil atau melekat pada suatu tempat. Porifera hidup secara heterotrof dengan memakan plankton dan bakteri.

Ukuran dan Bentuk Tubuh

Ukuran tubuh porifera bervariasi, dari sebesar kacang polong hingga setinggi 90 cm dengan diameter 1 m. Tubuh porifera berwarna warni, baik warna pucat maupun cerah. Sebagian besar tubuhnya berbentuk asimetri, namun ada pula yang berbentuk simetri radial.
Pada permukaan tubuh porifera, terdapat ostium atau lubang-lubang yang disebut juga pori-pori sebagai lubang masuknya air. Air kemudian mengalir ke rongga tubuh yang disebut sebagai spongosol dan keluar melalui oskulum atau lubang pengeluaran porifera. Berdasarkan tipe saluran air, berikut klasifikasi porifera:
-   Askonoid, memiliki saluran air pada sel porosit berbentuk tabung dan memanjang dari permukaan tubuh hingga spongosol. Askonoid tidak ada yang berukuran besar karena getaran flagella tidak mampu mendorong air dari spongosol keluar melalui oskulum. Contohnya Leucosolenia.
-   Sikonoid, memiliki dinding tubuh yang melipat secara horizontal. Lipatan bagian dalam membenruk saluran flagella atau flagella canal atau kantong yang dilapisi oleh sel koanosit, sedangkan lipatan luar berfungsi sebagai ostium atau saluran air masuk. Contohnya Sycon ciliatum.
-   Leukonoid, memiliki saluran flagella berlipat-lipat membentuk rongga kecil berflagella. Leukonoid tidak memiliki spongosol, namun fungsi spongosol digantikan oleh saluran-saluran kecil menuju oskulum. Banyaknya lipatan ini menyebabkan leukonoid memiliki bentuk tubuh tidak beraturan. Contonya Leuconia yang berukuran tinggi 10 cm dengan diameter 1 cm, memiliki sekitar 2.250.000 rongga kecil berflagella dan mempu mengeluarkan air dari dalam tubuh setiap harinya sebanyak 22,5 liter.

Struktur dan Fungsi Tubuh

Tubuh porifera tidak tersusun atas jaringan sejati, namun dibentuk oleh sekumpulan sel yang tersusun longgar. Tubuh porifera memiliki tiga lapisan sel, yaitu:
-       Pinakosit atau pinakoderm, sebagai sel lapisan terluar. Sel ini berbentuk pipih, tersusun rapat, dan berfungsi melindungi tubuh bagian dalam. Pinakosit memiliki daya kontraksi, dan di antara pinakosit terdapat ostium yang membentuk saluran air menuju spongosol.
-    Mesohil atau mesoglea, sebagai sel lapisan tengah. Sel ini berupa protein bergelatin yang mengandung bahan tulang dan sel ameboid yang disebut amebosit. Amebosit memiliki banyak macam dengan fungsi yang berbeda, yaitu untuk mengedarkan makanan dan oksigen, membuang partikel sisa metabolisme, membuat serat spons atau spikula, serta membentuk sel reproduktif.
-    Koanosit, sebagai sel lapisan dalam yang melapisi rongga atrium atau spongosol. Sel ini berbentuk agak lonjong dengan salah satu ujungnya melekat pada mesohil dan ujung lainnya berada di spongosol, berflagella, serta dikelilingi oleh mikrovili berlapis mucus. Koanosit berfungsi sebagai pencerna makanan secara intraseluler.
Porifera yang lunak mampu berdiri tegak pada substrat karena ditunjang oleh sejumlah spikula yang berasal dari zat kapur atau zat silikat, serta serat organik yang terdiri atas skleroprotein yang mengandung belerang. Keduanya berfungsi sebagai rangka pada porifera.

Fisiologi

Proses fisiologi porifera bergantung pada aliran air. Air yang masuk melalui ostium membawa partikel makanan dan oksigen. Getaran flagella pada koanosit membawa air ke arah oskulum. Partikel makanan akan terjerat dalam mukus, kemudian ditelan secara fagositosis dan dicerna secara intraseluler di dalam koanosit. Sari makanan hasil pencernaan kasuk ke dalam amebosit yang terletak bersebalahan dengan koanosit, kemudian diedarkan ke sel lainnya. Pertukaran gas terjadi secara difusi.

Cara Reproduksi

Porifera bereproduksi secara aseksual maupun seksual. Reproduksi aseksual porifera dilakukan dengan pembentukan tunas, yaitu sel amebosit yang mudah dilepaskan dan tumbuh menjadi individu baru serta dengan cara pembentukan gemula, yaitu sekumpulan arkeosit atau amebosit dengan pseudopodia yang tumpul dan bernukleus besar yang mengandung cadangan makanan dan dikelilingi oleh amebosit yang membentuk lapisan luar yang keras atau terkadang mengandung spikula.
Pada umumnya porifera bersifat hermaprodit, namun ovum dan sel sperma diproduksi dalam waktu yang berbeda. Beberapa jenis ada yang diesis. Sprema dikeluarkan bersama aliran air menuju oskulum dan masuk ke individu lain melalui ostium. Fertilisasi terjadi di mesohil dam menghasilkan embrio yang akan tumbuh menjadi larva berflagella atau disebut juga larva amfiblastula. Larva amfiblastula keluar bersama aliran air melalui oskulum dan berenang bebas lalu menempel pada suatu substrat hingga tumbuh menjadi porifera dewasa.

Klasifikasi

Terdapat sekitar 10.000 spesies porifera yang teridentifikasi. Berdasarkan kerangka penyusun tubuhnya, profirera dibedakan menjadi:
-     Calcarea, atau Calcispongiae. Memiliki rangka dari kalsium karbonat atau zat kapur, berwarna pucat dan memiliki tinggi kurang dari 10 cm serta permukaan tubuh berbulu. Calcarea memiliki tipe saluran air askonoid, sikonoid, dan leukonoid. Contohnya Leucosolenia, Clathrina, dan Sycon ciliatum.
-       Hexactinellida, atau Hyalospongiae. Memiliki rangka dari silika dengan bentuk tubuh silindris, datar, atau bertangkai. Tinggi tubuhnya mencapai 90 cm dengan tipe saluran air sikonoid. Contohnya Euplactella aspergillum dan Hyalonema.
-          Demospongiae, memiliki rangka dari serabut spongin dengan tinggi dan diameter lebih dari 1 m. Berwarna cerah atau hitam. Umumnya hidup di tepi pantai atau di air tawar. Contohnya Oscarella, Microciona, Halicondria, dan Cliona celata.
-          Sclerospongiae atau spons karang. Memiliki rangka dari kalsium karbonat yang terjalin dalam serat spons, sehingga tampak seperti batu koral. Memiliki diameter hingga 1 m. Contohnya Ceratoporella dan Stromatospongia.

Calcarea

Demospongiae

Hexactinellida

Sclerospongiae

Peranan

-          Axinella cannabina sebagai hiasan akuarium.
-          Kerangka Spongia dan Hippospongia sebagai spons mandi.
-          Cliona membantu pelapukan batu karang dan cangkang mollusca.
-          Sebagian porifera yang hidup pada jenis karang tertentu dapat mengganggu peternakan tiram.

Total Pageviews

Praditya. Powered by Blogger.

Translate

Search