Penganiayaan Selama Seribu Tahun Masa Damai (Sekitar 320-1079 M)

Oleh karena penganiayaan selama seribu tahun ini terpisah dan tersebar luas, kita hanya memiliki sedikit catatan tentang orang-orangyang menjadi martir bagi Kristus. Namun, masing-masing menceritakan kisah penderitaan dan kesengsaraan yang sama, dan pada akhirnya kematian karena kasih mereka kepada Tuhan dan iman kepada-Nya. Tentu saja Dia tetap menyertai mereka tidak peduli di mana pun mereka menderita, memberikan kekuatan dan kesabaran kepada mereka untuk bertahan sampai mereka masuk kemuliaan yang kekal, seperti halnya Dia bertahan dan sekarang menunggu semua orang yang mati dalam nama-Nya dengan tangan terbuka. Di bawah ini ada beberapa kisah dan tempat mereka meninggal.

a)      Persia: Sekitar 320 M
Banyak orang di Persia adalah penyembah dewa matahari dan ketika Injil mulai disebarkan ke negara itu, imam kafir mereka menjadi khawatir bahwa mereka akan kehilangan pengaruh yang telah mereka miliki atas kehidupan orang-orang. Jadi, mereka mengeluh kepada raja mereka, Sapores, bahwa orang-orang Kristen adalah musuh-musuh negara dan berkomunikasi dengan orang-orang Romawi, yang merupakan musuh Per¬sia yang dibenci. Hampir setiap perang dengan Romawi selalu berakhir dengan tragis bagi orang-orang Persia. Sapores segera memerintahkan agar orang-orang Kristen dianiaya di seluruh kekaisarannya. Jadi, banyak tokoh di gereja dan pemerintahan di Persia yang saleh segera ditangkap dan dibunuh sebagai martir.
Ketika Kaisar Konstantinus diberi tahu ten tang penganiayaan di Persia, ia me¬nulis surat kepada Sapores dan memberi tahu bahwa orang yang menganiaya orang-orang Kristen akan selalu mengalami tragedi dan orang-orang yang memperlakukan mereka dengan baik akan mengalami kesuksesan besar. Ia menceritakan kemenangan-kemenangannya sendiri atas pesaingnya sesama kaisar Romawi dan berkata, “Saya mengalahkan mereka dengan iman kepada Kristus semata, dan karena iman ini, Allah menolong saya dalam setiap peperangan dan membuat saya berkemenangan. Ia juga memperluas kekaisaran saya dari Laut Barat sampai bagian terjauh di Timur. Untuk mendapatkan semua ini, saya tidak pernah mempersembahkan kurban kepada ilah-ilah kuno atau menggunakan seni sihir apa pun. Saya hanya berdoa kepada Allah yang Mahatinggi dan mengikuti salib Kristus yang diberikan kepada saya sebagai panji saya. Perhatikan semua ini sebab saya akan bersukacita jika kamu juga berlimpah dalam kemuliaan karena kamu memperlakukan orang-orang Kristen dengan baik; dan kamu dan saya serta kamu dan mereka, bisa menikmati kedamaian yang langgeng.”
Akibat imbauan Konstantinus, penganiayaan di Persia berakhir untuk sementara, tetapi diulangi bertahun-tahun sesudahnya ketika penguasa yang tidak bersimpati terhadap kekristenan menjadi raja di Persia.

b)      Mesir: Sekitar 325-340 M
Sekitar tahun 318 M, Arius, seorang imam Kristen di Alexandria, Mesir, menerbitkan doktrin yang menyatakan bahwa Yesus Kristus hanya ciptaan semata yang tidak ada dari kekekalan dan karena itu tidak sejajar dengan Allah. Untuk mengatasi doktrin ini, Konstantinus mengimbau diadakan Konsili Ekumenikal (dari kata Yunani ‘oikumenos’, keluarga Allah) di Nicaea. Konsili mengutuk Arius dan pengajarannya, yang sekarang disebut Arianisme serta menyatakan kesetaraan yang sempurna antara Bapa dengan Anak; dan Bapa dan Anak terdiri dari “satu zat.”
Meskipun sudah ada keputusan konsili, masalah Arianisme belum terselesaikan. Kaisar Konstantinus II, anak Konstantinus, mendukung Arianisme setelah kematian ayahnya, demikian juga Valens, satu di antara penerusnya, yang berbagi kekuasaan kekaisaran dengan saudaranya, Valentinian I, yang mengangkatnya menjadi kaisar di Timur. Dengan bertakhtanya Konstantinus II, kaum Arian meningkat kekuasaannya dan mulai menganiaya orang-orang Kristen Ortodoks; maksudnya, orang-orang Kristen yang berpegang pada iman ten tang keilahian Kristus. Athanasius, bapa Yunani dari Alexandria, yang adalah pembela ortodoksi Kristen terhadap Arianisme dan banyak Uskupnya dibuang dari Alexandria dan posisi mereka diisi oleh kaum Arian.
Komandan pasukan Romawi di Mesir, Artemius, yang mengaku sebagai seorang Kristen, dicopot jabatannya, kemudian harta miliknya kemudian kepalanya.

c)      Romawi: 361 M
Pada tahun 361 M, Konstantinus II mati, digantikan oleh Julian, yang memerintah sebagai kaisar Romawi selama dua tahun. Meskipun dibesarkan dalam iman Kristen, Kaisar Julian menyangkal kekristenan dan menyatakan bahwa ia seorang kafir, ia akan menghidupkan kembali agama Romawi. Ia tidak membuat keputusan publik menentang kekristenan, tetapi memulihkan penyembahan berhala dan memanggil kembali semua orang kafir yang diasingkan. Meskipun ia mengizinkan kebebasan praktik agama kepada siapa pun, ia melarang orang-orang Kristen memegangjabatan pemerintah atau militer dan mencabut kembali hak-hak yang diberikan Konstantinus kepada imam. Uskup Arezzo di Italia, Donatus, pertapa, Hilarinus, dan hakim Romawi, Gordian disiksa dan dieksekusi.

d)      Ancyra atau Ankara, Turki: 362 M
Di kota bagian timur Ancyra, Uskup Basil dimasukkan ke dalam penjara karena menentang kekafiran dengan gigih. Ketika ia berada di penjara, Kaisar Julian datang ke Ancyra lalu menyuruh Basil diperhadapkan kepadanya, memutuskan bahwa ia akan memeriksa Basil sendiri. Selama pemeriksaan, Julian melakukan segala sesuatu yang bisa ia lakukan untuk meyakinkan uskup itu untuk menghentikan kegiatan menentang orang-orang kafir, tetapi Basil tidak menjadi lunak kemudian menubuatkan kematian Kaisar dan berkata bahwa ia akan disiksa dalam kekekalan. Julian menjadi marah ketika mendengar hal ini dan memerintahkan agar daging Basil dicabik setiap hari di tujuh temp at berbeda sampai kulit dan dagingnya tidak memiliki tempat yang tidak robek. Namun sebelum hal itu terjadi, Basil sudah meninggal karena luka-lukanya yang sangat parah. Hal itu terjadi pada 28 Juni 362.

e)      Palestina: 363 M
Tidak ada catatan yang tertinggal tentang orang-orang yang menjadi martir di Palestina. Kita hanya tahu secara umum bagaimana cara mereka menyerahkan hidup mereka kepada Kristus. Banyak orang yang dibakar hidup-hidup, beberapa orang diseret di jalan-jalan dalam keadaan telanjang sampai mereka mati karena kehilangan darah atau sakit yang hebat, yang lain direbus sampai mati atau dilempari batu dan banyak orang yang dipukuli kepalanya sampai otaknya keluar.

f)       Alexandria: Sekitar 363 M
Di Alexandria orang-orang Kristen yang menjadi martir begitu banyak jumlahnya sehingga sulit dihitung. Mereka dibunuh dengan pedang, dibakar, disalibkan, dan dilempari batu. Beberapa orang perutnya dibe1ah terbuka dan dimasuki butir-butir gandum. Babi-babi kemudian dilepaskan ke arah mereka supaya makan butir-butir gandum itu dan usus mereka. Berapa lama martir itu hidup selama penyiksaan tentu saja tergantung pada rasa lapar babi-babi itu.

g)      Thrace: Sekitar 363 M
Seorang Kristen bernama Emilianus dibakar di tiang dan seorang yang bernama Domitius, disembelih dengan pedang di gua tempat ia berusaha bersembunyi dari para penganiaya.
Kaisar Julian mati pada tahun 363 M karena luka-luka dalam peperangan di Persia, dan digantikan oleh Jovian, yang melaku¬kan perdamaian dengan Persia dengan memberikan semua wilayah Romawi di seberang Sungai Tigris. Jovian hanya memerintah selama satu tahun dan memulihkan kedamaian sementara kepada gereja. Pada tahun 364 M Valentian I menjadi kaisar Romawi di Barat dan memerintah bersama saudaranya Valens di Timur. Valens adalah penganut Arian dan sekali lagi gereja yang sejati mengalami penganiayaan. Valenti an I memerintah di Barat dari 364 sampai 375 dan Valens memerintah di Timur dari 364 sampai 378. Ia terbunuh pada tahun 378 M dalam peperangan me1awan Visigoth (Goth Timur) dekat kota Adrianople.
Dicatat bahwa banyak orang Goth adalah orang Kristen; kekristenan te1ah tersebar di antara mereka me1alui seorang Goth yang bertobat, seorang sarjana saleh bernama Ulfilas. Se1ama lebih dari 40 tahun ia bekerja, pertama-tama membuat abjad Gothik sehingga ia bisa menerjemahkan Alkitab kemudian mengajar umatnya iman kepada Kristus.

h)      Alexandria: 386 M
Kaisar memberi otoritas kepada George, Uskup Alexandria yang menganut Arianisme untuk menganiaya orang Kristen sejati di kota itu. Uskup mulai melakukannya dengan kekejaman yang luar biasa. Beberapa pemimpin pemerintahan, jenderal pasukan Mesir dan pejabat Romawi tingkat tinggi ikut membantunya. Selama penganiayaan, imam ortodoks diusir dari Alexandria dan gereja-gereja mereka ditutup. Kedahsyatan hukuman yang dikenakan pada orang-orang Kristen sarna besarnya seperti hal yang dilakukan oleh orang-orang kafir, jika orang Kristen melarikan diri dari penganiayaan, se1uruh keluarganya dieksekusi dan harta bendanya dirampas.

i)        Spanyol: 586 M
Hermenigildus adalah anak laki -laki tertua Leovigildus, Raja Goth. Awalnya ia seorang Arian, tetapi kemudian bertobat pada iman ortodoks karena istrinya yang saleh, Ingonda. Ketika ayahnya mendengar ten tang pertobatannya, ia memindahkannya sebagai gubernur Seville di barat daya Spanyol dan mengancam untuk mengeksekusinya kecuali ia menyangkal imannya kepada Kristus.
Untuk mencegah eksekusinya, Hermenigildus mengumpulkan tentara orang-orang percaya ortodoks di seke1ilingnya, yang akan berperang baginya. Oleh karena pemberontakan Hermenigildus, raja memulai penganiayaan terhadap orang percaya yang sejati dan memimpin tentara yang kuat ke Seville. Hermenigildus pertama bersernbu¬nyi di Seville sendiri kemudian ketika peperangan bertambah hebat, ia me1arikan diri ke Asieta [kota yang tidak dikenal], tempat ia ditangkap sete1ah dikepung untuk sesaat.
Dikurung dalam kurungan dan dirantai, Hermenigildus dibawa kembali ke Seville yang pada perayaan Paskah ia menolak untuk menerima hosti komuni dari Uskup Arian dan dengan perintah dari ayahnya ia segera dicincang oleh penjaganya. Hal ini terjadi pada 13 April 586.

j)        Lombardy (Italia): 683 M
Uskup kota Bergamo di wilayah Lombardy, yang bernama John, menggabungkan pasu¬kannya dengan pasukan Uskup Milan untuk menghapuskan kesalahan Arianisme dari gereja. Mereka bersama-sama semakin sukses dalam me1awan bidat sampai john dibunuh pada 11 Juli 683.

k)      Jerman: 689 M
Kiffien, seorang Uskup Romawi yang saleh, yang berkhotbah kepada orang-orang kafir di Franconia, Jerman. Di Wurzburg ia mempertobatkan gubernur, Gozbert, yang kesaksiannya begitu saleh sehingga dalam selang waktu dua tahun hal itu mengilhami sebagian besar penduduk kota itu untuk bertobat. Pada 689 M, Kiffien meyakinkan gubernur bahwa pernikahannya dengan janda saudaranya adalah berdosa. Oleh karena itu janda itu menyuruh ia dipenggal kepalanya.

l)        Spanyol: 850 M
Lahir di Corduba, Spanyol, dan dibesarkan dalam iman Kristen, Perfectus menjadi orang yang sangat cerdas dan membaca semua buku yang bisa ia baca. Ia juga terkenal karena kesalehannya yang luar biasa. Ketika ia masih muda, ia ditetapkan sebagai imam dan me1akukan tugasnya dengan gaya yang sangat mengagumkan. Pada tahun 850 M, ia dengan terbuka menyatakan bahwa seorang nabi daerah Asia Barat Daya adalah penipu ulung. Oleh karena itu ia segera dipenggal kepalanya sebab sebagian besar Spanyol te1ah dikuasai pengikutnya sejak 711 M, setelah mereka mengalahkan orang Visigoth.

m)    Persia: 997 M
Uskup Prague, Adalbert makin terbeban untuk mempertobatkan orang kafir, jadi ia pergi ke Persia kemudian mempertobatkan dan membaptis banyak orang. Hal ini membuat imam-imam kafir sangat marah sehingga mereka menyerangnya dan membunuhnya dengan anak panah yang panjang.

n)      Polandia: 1079
Bolislaus, yang adalah raja Polandia kedua, seorang yang ramah, tetapi memiliki hati yang kejam. Ia segera dikenal atas tindakannya yang sadis. Stanislus, Uskup Cracow di Sungai Vistula, dengan berani menceritakan kesalahan raja dalam percakapan pribadinya dengan sang raja dengan harapan bahwa ia dapat menghentikan kekejamannya terhadap rakyatnya. Meskipun dengan sukarela mengakui besarnya kejahatannya, Bolislaus menjadi marah karena Uskup itu berulang-ulang mencari kesempatan untuk menegurnya. Bolislaus tidak memiliki niat untuk berubah, ia justru berusaha mencari kesempatan untuk menyingkirkan Uskup yang setia kepada tugas-tugas Kristennya.
Suatu hari Bolislaus mendengar bahwa Uskup itu berada sendirian di gereja yang terdekat dan mengirim prajurit untuk membunuhnya. Mereka menemukan Uskup ini sendirian, tetapi mereka takiub melihat hadirat ilahi pada dirinya dan takut untuk membunuhnya. Ketika mereka melaporkannya kepada raja, ia sangat marah dan merenggut sebilah pisau dari satu prajuritnya, bergegas ke kapel; dan di sana menusuk Stanislus beberapa kali ketika orang yang baik itu berlutut di mezbah. Stanislus mati seketika.

Penganiayaan terhadap orang-orang Kristen terjadi secara tak teratur selama hampir seribu tahun, tetapi kemudian Iblis sekali lagi mengikatkan dirinya di Romawi dan mengirim para pekerjanya keluar dalam us aha sistematis lainnya untuk menghancurkan gereja. Hanya kali ini penganiayaan tidak datang dari orang-orang kafir, melainkan dari orang-orang yang menyebut diri mereka sendiri sebagai orang Kristen dan yang tindakannya yang penuh kemarahan dan sadis terhadap orang-orang yang berpaut pada iman kepada Kristus, jauh lebih hebat daripada imajinasi orang-orang kafir yang paling liar.

Konstantinus Agung (Kaisar Romawi: 306-337 M)

Pada tahun 293 M, ketika Kaisar Diocletian menjadikan Constantius kaisar atas Gaul dan Inggris, anak Constantius, Konstantinus, ditahan di pengadilan Galerius, Kaisar Timur sebagai sandera. Pada tahun 305 M, ia melepaskan diri dan bergabung dengan ayahnya di Barat. 

Ketika Diocletian mundur sebagai kaisar Romawi pada tahun yang sama, Galerius, yang menggantikannya, memilih Maximian dan Severus sebagai kaisar di bawahnya. Constantius memilih anaknya, Konstantinus, sebagai kaisar di bawahnya. Meskipun Italia dan Afrika merupakan bagian dari kekaisaran di Barat, Constantius menolak untuk memerintah di sana karena kesulitan untuk mengatur mereka. Ia memilih untuk berkuasa hanya di Prancis, Spanyol, dan Inggris. Jadi, Italia dan Afrika masuk di bawah kekuasaan Maximian di Timur. Meskipun penganiayaan berlanjut di Timur untuk beberapa saat, di Barat di bawah kekuasaan Constantius dan Konstantinus penganiayaan itu sudah berhenti secara jelas.Kedua orang itu antusias untuk menjaga hubungan yang baik dengan warga negara mereka, mendukung dan memperlakukan sernua sama. 

Constantius seorang sipil, yang penuh perhatian, lemah lembut, lunak dan memberi kebebasan, yang ingin rnelakukan kebaikan kepada sernua orang yang berada di bawah kekuasaannya. Cyrus “Muda” (424? - 401 S.M.) suatu kali berkata bahwa ia mendapat kekayaan bagi dirinya sendiri jika ia membuat teman-temannya kaya, dan Constantius sering kali berkata bahwa lebih baik bawahannya memiliki kekayaan bersama daripada menimbunnya dalam gudang perbendaharaannya sendiri. Pada dasarnya ia seorang yang puas dengan kehidupan yang sederhana, makan dan minum dari peralatan yang terbuat dari tanah liat daripada dengan bahan-bahan yang mewah. Akibat kebaikannya yang luar biasa, ada kedamaian dan ketenangan di provinsi yang ia perintah. 

Sebagai tambahan untuk sikap-sikap baiknya, dikatakan bahwa ia mengasihi dan menghargai firrnan Allah; mengarahkan hidupnya dan berkuasa berdasarkan prinsip-prinsip firman Allah. Oleh karena itu, ia tidak terlibat dalarn perang yang bertentangan dengan kesalehan dan doktrin Kristen; pun ia rnenolak untuk mernbantu para pemimpin lain yang terlibat dalam perang yang tidak adil, ia menghentikan perusakan gereja-gereja dan memerintahkan agar orang-orang Kristen dipelihara, dilindungi dan diamankan dari semua luka-luka yang disebabkan oleh penganiayaan. Namun, di bagian lain kekaisaran itu, penganiayaan masih berlan jut tanpa berkurang –hanya Constantius yang mengizinkan orang-orang Kristen mempraktikkan iman mereka tanpa dihalangi. 

Pada satu di antara kesempatan Constantius memutuskan untuk menguji apakah anggota pengadilannya adalah orang Kristen yang baik dan tulus. Ia memanggil semua pejabat dan pelayannya bersama-sama lalu rnernberi tahu rnereka bahwa hanya orang-orang yang bersedia melakukan pengurbanan kepada roh-roh jahat yang akan menyertainya dan tetap menduduki jabatannya serta bahwa orang-orang yang menolak melakukannya akan disingkirkan dan dibuang dari pengadilannya.

Ketika mendengarnya, para hadirin di sidangnya mernisahkan diri mereka sendiri menjadi kelompok-kelompok, yang darinya Kaisar memisahkan orang-orang yang ia ketahui kuat imannya dan saleh. 

Kaisar dengan tajam menegur orang-orang yang mau mempersembahkan kurban; ia rnenyebut mereka pengkhianat terhadap Allah dan tidak layak untuk menjadi anggota pengadilannya lalu memerintahkan agar mereka dibuang. Ia memuji orang-orang yang menolak untuk mempersembahkan kurban kepada roh-roh jahat dan mengakui Allah serta menyatakan bahwa mereka sendiri yang layak untuk berada di hadapannya. Ia memerintahkan agar mereka ditempatkan sebagai penasihat kepercayaannya dan pembela pribadi dan kerajaannya. Ia berkata bahwa mereka bukan hanya layak berada di kantornya, tetapi ia memandang mereka sebagai teman-temannya yang sejati dan menghargai mereka lebih dari kekayaan harta bendanya. 
Constantius meninggal pada tahun 306 M dan tentara mengelu-elukan Konstantinus sebagai Kaisar. Banyak orang Kristen percaya bahwa Konstantinus sebagai Musa kedua yang dikirimkan Allah untuk me1epaskan umat-Nya dari pembuangan menuju kebebasan yang penuh sukacita. 

Flavius Valerius Constantinus (Konstaninus), yang dilahirkan sekitar tahun 280 M, di kota Naissus di provinsi Moesia Romawi, sebuah wilayah kuno di Eropa Tenggara yang belakangan disebut Serbia. Ayahnya, Constantius, adalah anggota keluarga Romawi yang penting. Ibunya, Helena, adalah anak perempuan pemilik losmen. 

Sebelum tahun 312 M, Konstantinus tampak seperti seorang kafir yang bersikap toleran yang bersedia mengumpulkan pe1indung surgawi untuk menolongnya, tetapi tidak mengikatkan diri pada satu dewa apa pun. Namun se1ama mas a 312-324 M, ia mulai menerima Allah yang sejati dan beberapa kali memberikan sumbangan kepada gereja dan penilik (uskup) secara individual. Setelah kekalahan rival politiknya, Kaisar Lisinius, di Chrysopolis pada 18 September 324, Konstantinus secara terbuka mengaku sebagai orang Kristen. 

Meskipun ia bersikap sebagai penguasa yang murah hati seperti ayahnya, Konstantinus memerintah dengan kekuasaan yang absolut, menekan, dan tirani. Dan meskipun ia memasukkan Uskup sebagai dewan penasihatnya, dan hukum-hukumnya tentang perlakuan terhadap budak dan tahanan me nunjukkan pengaruh ajaran Kristen, ia menyuruh anak laki-lakinya yang tertua, Crispus dan istrinya yang kedua, Fausta, dihukum mati. Seperti banyak orang selama zamannya, kehidupan dan kelakuan Konstantinus merupakan campuran antara kekristenan dengan kekafiran. 

Tiga peristiwa penting menandai pemerintahan Konstantinus. Ia merupakan kaisar Romawi Kristen pertama, ia membuat agama Kristen sebagai agama resmi dan ia mendirikan kota Konstantinopel. Konstantinopel menjadi ibukota Kekaisaran Romawi Timur dan menjadi simbol kemenangan Kristen. Konstantinus mati pada tanggal22 Mei 327. Sebe1um kematiannya, ia membagi kekaisaran Romawi di an tara ketiga anaknya yang masih hidup.

Ketika Konstantinus pertama kali menjadi kaisar di Barat, ia menghadapi banyak masalah dengan orang-orang lain yang juga merasa berhak atas takhtanya. Maximian telah mundur sebagai kaisar dan anaknya, Maxentius, dipilih menjadi kaisar Romawi oleh tentara. Oleh karena Italia adalah wilayah kekaisaran Barat, ia juga merasa dirinya sebagai kaisar yang paling tinggi di seluruh kekaisaran Romawi. Kekuasaan militernya berlanjut selama pemerintahan Konstantinus. Senat Romawi sangat takut terhadap Maxentius dan mereka ragu-ragu untuk melawannya. 

Oleh karena desakan mereka, ayahnya, Maximian, yang sebelumnya menjadi kaisar, mulai merancang cara agar ia bisa mengendalikan wilayah yang jauh dari anaknya. Ia berusaha mengajak Diocletian untuk bergabung dengannya dalam usaha untuk menggulingkan Maxentius, tetapi Diocletian menolak untuk membantu. Para prajurit yang telah memilih Maxentius menjadi kaisar tahu tentang rencana ayahnya untuk memberhentikannya dan mengatakan kepada Maximian bahwa mereka tidak akan membiarkan gerakan semacam itu. 

Ketika ia tidak bisa melakukan gerakan melawan Maxentius, Maximian mengalihkan perhatiannya pada Prancis tempat Konstantinus memerintah. Ia pergi menemui Konstantinus dan pura-pura mengeluh kepada Kaisar ten tang anaknya, tetapi maksudnya sebenarnya adalah untuk membunuh Konstantinus, dan merebut kekaisaran Barat. Namun, Konstantinus telah menikah dengan anak perempuan Maximian, Fausta; dan ketika ia menemukan rencana ayahnya, ia menyampaikan berita itu kepada Konstantinus. Maximian ditangkap ketika ia berusaha melarikan diri ke Prancis dan dieksekusi. 

Sementara itu, Maxentius memerintah di Roma dengan kejahatan yang tidak bisa ditolerir. Ia bersikap seperti itu sehingga banyak orang memandangnya sebagai Firaun atau Nero lainnya karena ia menghukum mati banyak orang terhormat dan merampas harta mereka. Sering kali ia meledak-ledak kemarahannya dan memerintahkan kepada para prajuritnya untuk membunuh sejumlah besar penduduk Romawi. Ia tidak membiarkan tindakan yang ambisius dan dahsyat tanpa diperiksa. Ia juga keranjingan seni sihir. Ia sering kali memanggil roh-roh jahat untuk membantu kejahatannya dan mencari hikmat dari mereka sehing ga ia bisa melawan perang yang ia yakini dipersiapkan Konstantinus terhadapnya. 

Maxentius juga pura-pura bersikap lunak terhadap orang-orang Kristen. Berharap untuk membuat penduduk Romawi sebagai temannya, ia memerintahkan mereka untuk tidak lagi menganiaya orang Kristen dan ia sendiri menghentikan tuduhannya yang arogan terhadap mereka. Namun, hal ini hanya berlangsung sesaat, dan ia sekali lagi menjadi penganiaya secara terbuka. 

Oleh karena bosan dengan pencurahan darah dan kekuasaan Maxentius yang tirani, penduduk Romawi mengeluh kepada Konstantinus. Mereka memohon dengan sangat kepadanya untuk turut campur melepaskan kota dan negara mereka dari Maxentius. Konstantinus mendengarkan permohonan mereka dan bersimpati pada mereka. Ia menulis surat kepada Maxentius dan memohon kepadanya untuk menghentikan tindakannya yang jahat dan kekejamannya. N amun, suratnya tidak menghasilkan apa-apa. Oleh karena itu ia mengumpulkan tentaranya di Inggris dan Prancis lalu bersiap memasuki Roma pada tahun 313 M.

Maxentius bersiap-siap menyambut kedatangan tentara Konstantinus. Oleh karena ia tidak ingin bertemu Konstantinus di peperangan terbuka, ia mendirikan garnisun yang bersembunyi di sepanjang jalan menuju kota untuk menyergap pasukan Konstantinus secara tiba-tiba. Meskipun mengalami banyak pertempuran kecil, Konstantinus memenangkan setiap peperangan itu.

Konstantinus karena masih dikuasai oleh takhayul kafir, merasa khawatir dengan kekuatan sihir yang ia dug a dimiliki Maxentius dan berusaha memikirkan jalan untuk mengalahkan sihirnya. Dikisahkan bahwa ketika ia mendekat ke Roma, Konstantinus me1ihat ke atas berkali-kali ke langit dan berharap untuk mendapatkan tanda pertolongan. Sekitar senja hari pada suatu hari ia menatap ke langit se1atan dan melihat cahaya yang sangat terang dalam bentuk salib, dan di kayu itu ada tulisan: In hoc vince, yang berarti “Dengan ini mendapat kemenangan.” Eusebius Pamphilus, seorang petugas di ten tara Konstantinus, berkata bahwa ia sering kali mendengar Konstantinus menceritakan visinya tentang salib itu dan bersumpah bahwa ia juga me1ihat tanda salib serta tulisan itu. Banyak prajurit yang meneguhkan penglihatan Konstantinus juga. 

Konstantinus tidak tahu apa arti penglihatan itu dan berkonsultasi dengan banyak pasukannya tentangnya, tetapi tidak seorang pun yang memiliki jawaban. Malam itu Kristus menampakkan diri kepadanya dalam mimpi dengan memegang salib dan memberi tahu bahwa jika ia mau membuat salib semacam itu dan membawa ke dalam pertempuran bersamanya ia akan selalu menang. 

Salib itu tidak diberikan kepada Konstantinus sebagai simbol takhayul yang memiliki kuasa dalamnya untuk memenangkan peperangan, melainkan sebagai pengingat terus-menerus baginya dan tentaranya untuk mencari hikmat dan iman kepada Pribadi yang nama-Nya akan mereka bela bagi kemuliaan-Nya; dan untuk menyebarkan kerajaan-Nya. 

Keesokan harinya, Konstantinus menyuruh membuat salib dari em as dan batu berharga yang mereka bawa ke tempat pangkalannya. Dengan salib di depan mereka dan pengharapan serta keyakinan yang diperbarui bersama mereka, Konstantinus dan tentaranya bergegas menuju Roma. 

Maxentius sekarang tahu bahwa ia harus menemui pasukan Konstantinus dalam peperangan terbuka,jadi ia menggerakkan pasukannya ke lapangan di seberang Sungai Tiber. Ia kemudian menghancurkan jembatan yang mereka seberangi dan membuat jembatan lain yang terbuat dari kapal dayung dalam berbagai ukuran yang mereka tutupi dengan papan dan balok sehingga bangunan itu tampak seperti jembatan. Rencananya adalah untuk menjebak pasukan Konstantinus agar berusaha menyeberang melalui jembatan tiruan itu kemudian menyerang mereka pada saat mereka jatuh ke bawah.

Matius 7:16-17

7:16 Ia membuat lobang dan menggalinya, tetapi ia sendiri jatuh ke dalam pelubang yang dibuatnya.

7:17 Kelaliman yang dilakukannya kembali menimpa kepalanya, dan kekerasannya turun menimpa batu kepalanya.

Ketika kedua pasukan terlibat peperangan, ten tara Maxentius tidak mampu menahan kekuatan yang baru ditemukan tentara yang berperang di bawah panji-panji salib itu, dan ia dan tentaranya terdesak masuk ke kota. Dalam ketergesaan mereka untuk melarikan diri dari kehebatan serangan Konstantinus, mereka berusaha menyeberang jembatan yang mereka buat untuk menjebak tentara Konstantinus dan mereka terperangkap sendiri.

Jembatan sementara itu jatuh, terguling, dan menjatuhkan banyak tentara; Maxentius dan kudanya ke dalam sungai dan persenjataannya yang berat menariknya ke bawah lalu membenamkannya. Seolah-olah kejadian tentara Firaun yang terbenam di Laut Merah menjadi simbol nubuat ten tang Maxentius dan tentaranya. 
Seperti halnya umat Israel menderita dalam tawanan Mesir selama 400 tahun, orang-orang Kristen telah menderita penganiayaan di bawah tumit kekaisaran Romawi selama 300 tahun. Darah anak domba telah menyelamatkan orang Israel ketika malaikat maut berjalan melalui Mesir untuk melepaskan mereka dari cengkeraman Firaun yang sekuat besi dan sekarang Salib Anak Domba Allah telah memimpin ten tara pembebasan ke dalam kubu tirani Romawi yang terakhir dan membebaskan umat Allah. Hampir 1.600 tahun berlalu dan Tuhan yang sama mengawasi umat-Nya. 

Konstantinus menjadi kaisar atas seluruh kekaisaran Romawi, dan pada tahun 324 ia memindahkan takhta pemerintahannya dari Romawi ke Timur. Sebagai ibukotanya, ia memilih kota Yunani kuno Byzantium di Bosporus, yang merupakan selat yang terbentang antara Laut Hitam, di sebelah utara dan laut Marmara. Tempat itu menjadi rute perdagangan yang penting sejak zaman kuno. Konstantinus memperbesar dan memperkaya kota itu secara luar biasa. Pada tahun 330, ia menamainya sebagai “Roma Baru”, tetapi kota itu biasanya disebut Konstantinopel, “kota Konstantin.” 

Konstantinus adalah kaisar Kristen pertama dari kekaisaran Romawi dan Konstantinopel menjadi ibukota kekristenan di Barat, tetapi Romawi mendominasi kekristenan di Timur. Kekaisaran Romawi Timur yang didirikan Konstantinus tetap bertahan sampai lebih dari seribu tahun dan selama tahun-tahun itu orang-orang Kristen secara relatif hidup damai. 

Meskipun tidak ada lagi penganiayaan yang umum dan sistematis terhadap orang-orang Kristen, seperti yang terjadi di bawah kaisar- kaisar Romawi, orang-orang Kristen masih menderita penganiayaan di wilayah dunia yang terasing, seperti yang akan selalu mereka alami. Seperti tulisan Rasul Paulus yang banyak mengalami kesusahan kepada muridnya Timotius dari penjara di Roma tepat sebelum ia dipancung kepalanya, “Setiap orang yang mau hidup beribadah dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya” (2 Timotius 3:12).

Penganiayaan Kesepuluh, di Bawah Diocletian (284-305 M)

Penganiayaan sebelumnya hanya merupakan pendahuluan untuk penganiayaan di bawah Diocletian - ini adalah yang terburuk dari semuanya. Keinginannya untuk menghidupkan kembali agama kafir Roma kuno bukan hanya menuntun pada penganiayaan orang-orang Kristen, melainkan juga merupakan penganiayaan yang paling utama di kekaisaran Romawi.

Pada awal pemerintahannya, Diocletian bersikap lunak kepada orang-orang Kristen. Namun, beberapa orang dibunuh sebelum penganiayaan yang besar meledak. Di bawah ini ada beberapa contoh. 

Di Roma, si kembar Marcus dan Marcellianus dibesarkan sebagai orang Kristen oleh tutor mereka meskipun orangtua mereka masih kafir. Kesetiaan mereka kepada Kristus membungkam argumen orang-orang yang ingin menjadikan mereka kafir dan akhirnya berakibat pada pertobatan seluruh keluarga mereka. Oleh karena iman mereka, tangan mereka diikat di atas kepala mereka di tiang dan kaki mereka dipaku di tiang. Mereka dibiarkan tetap seperti itu selama satu hari satu malam kemudian ditusuk dengan tombak. Oleh karena keteguhan iman mereka, Zoe, istri kepala penjara, juga bertobat kepada Kristus. Tidak lama sesudahnya, ia dibunuh dengan digantung di pohon dan dibakar dengan kobaran api jerami di bawahnya. Setelah ia mati karena terbakar, banyak batu diikatkan ke sekeliling tubuhnya dan ia dilemparkan ke dalam sungai terdekat. 

Faith, seorang perempuan Kristen, di Aquitaine [atau Aquitania], sebuah wilayah di Prancis selatan, diletakkan di atas batang logam menyala dan dipanggang kemudian dipancung. 

Di Roma pada 287 M, Quintin dan Lucian diutus untuk memberitakan Injil ke daerah Gaul. Untuk beberapa saat mereka memberitakan Injil bersama-sama di Amiens di Prancis Utara. Kemudian Lucian pergi ke kota lain dan di sana ia menjadi martir. Quintin pergi ke Picardy dan sangat tekun dalam penginjilannya. Namun, tidak lama setelah pergi ke sana, ia ditangkap dan dijatuhi hukuman. Ia mati sebagai orang Kristen. Untuk membuat kematiannya menyedihkan, tali diikatkan pada tang an dan kakinya lalu ia direntangkan dengan kerekan sampai sendi-sendinya terlepas, kemudian ia dicambuki dengan cemeti dari kawat, dituangi minyak, dan aspal mendidih di tubuhnya yang telanjang lalu api dinyalakan pada rusuk dan ketiaknya. Setelah semua siksaan ini, ia dikembalikan ke dalam penjara dan ia segera meninggal karena luka-lukanya. Batu yang berat diikatkan ke tubuhnya dan ia dilernparkan ke dalam Sungai Somme. 

Pada tanggal 22 Juni 287, seorang Kristen bernama Alban menjadi martir pertama di Inggris. Kota St. Alban di daerah Hertfordshire diberi nama sesuai namanya. Alban sebe1umnya adalah orang kafir, tetapi pelayan Kristen yang bernama Amphibalus meyakinkannya tentang kebenaran Kristus. Ketika Amphibalus dicari penguasa karena agamanya, Alban menyembunyikannya di rumahnya. Ketika para prajurit di sana mencari-carinya, Alban berkata bahwa ia adalah Amphibalus untuk memberi waktu baginya untuk melepaskan diri. Kebohongan itu diketahui dan gubernur memerintahkan agar Alban dicambuki kemudian dipancung. 

Bede yang Dimuliakan, teolog dan ahli sejarah Anglo-Saxon yang menulis the Ecclesiastical History of English Nation pada tahun 731 M menyatakan bahwa pelaksana hukuman Alban tiba-tiba bertobat menjadi Kristen dan memohon kepada Alban supaya diizinkan mati baginya atau bersamanya. Ia diberi izin untuk mati bersamanya dan mereka berdua dipancung oleh prajurit yang dengan suka re1a bertindak sebagai pelaksana hukuman.

Selama pemerintahan Diocletian, Galerius, anak angkat dan penerusnya, dihasut oleh ibunya yang adalah orang kafir yang fanatik agar meyakinkan Kaisar agar menyingkirkan kekristenan dari kekaisaran Romawi.

Hari yang dijadwalkan untuk memulai pekerjaan berdarah adalah 23 Februari 303. Hal itu dimulai di Nicomedia, ibukota Kekaisaran Romawi Timur pada zaman Diocletian. Pada pagi-pagi hari itu, kepala polisi, sejumlah besar petugas, dan asisten mereka berjalan menuju gereja utama Kristen lalu memaksa membuka pintunya dan merobohkan bangunan itu kemudian membakar semua buku-buku kudusnya. 

Diocletian dan Galerius menyertai mereka untuk menyaksikan awal dari akhir agama Kristen. Oleh karena tidak puas dengan pembakaran buku-buku itu, mereka meratakan bangunan itu dengan tanah. Setelah itu, Diocletian mengeluarkan keputusan bahwa semua gereja dan buku Kristen harus dihancurkan serta semua orang Kristen ditangkap sebagai pengkhianat terhadap kekaisaran.

Ketika keputusan itu ditempelkan di tempat-tempat umum, seorang Kristen yang berani segera merobeknya dan mence1a nama Kaisar karena sikapnya yang tidak adil. Oleh karena sikap kebenciannya yang terbuka kepada Kaisar, ia ditangkap, disiksa, dan dibakar sampai mati.

Setiap orang Kristen di Nicomedia ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Untuk menentukan kepastian dan kekerasan hukuman mereka, Galerius dengan diam-diam memerintahkan agar istana kaisar dibakar dan orang-orang Kristen disalahkan sebagai pe1akunya. Sejak itu penganiayaan secara umum dimulai di seluruh kekaisaran dan berlangsung se1ama 10 tahun. Selama itu ribuan orang Kristen menjadi martir. Tidak peduli berapa pun umur dan jenis kelamin mereka, tidak ada seorang pun yang dikecualikan. Pada tahun 286 M, Diocletian membagi kerajaan menjadi dua Timur dan Barat sebagai tindakan untuk menguasai wilayah itu dengan lebih efektif dan penganiayaan yang hebat terjadi di Timur, yaitu di bawah kekuasaannya. Pada tahun 293 M, ia menjadikan Aurelius Valerius Constantius, ayah Konstantinus, sebagai kaisar di wilayah Barat atas Gaul dan Inggris. 

Nama “Kristen” menjadi nama yang dibenci di antara orang-orang kafir dan siapa pun yang memikul nama itu tidak menerima be1as kasihan dari mereka. Mereka sekali lagi disalahkan atas setiap bencana dan nasib buruk yang dialami orang-orang kafir. Kebohongan terburuk dan cerita yang paling tidak masuk akal bisa dikisahkan ten tang mereka, dan dengan cepat dipercayai. Bentuk siksaan yang mereka rancang jauh melampaui imajinasi.

Banyak rumah orang Kristen yang dibakar api dan se1uruh keluarga mereka ikut terbakar di dalamnya. Batu-batu yang be rat digantungkan di leher banyak orang dan mereka diikat bersama-sama lalu dimasukkan ke dalam Laut Marmara. Alat perentang, cambuk, api, pedang, belati, salib, racun, dan kelaparan sering kali digunakan secara individual maupun kolektif. Di daerah Phrygia, sebuah kota yang semua penduduknya Kristen dibakar lalu semua penduduknya didorong ke dalam kobaran api sehingga binasa. 

Akhirnya sete1ah capai dengan pembantaian, beberapa gubernur provinsi memohon kepada Kaisar agar kekejaman itu dihentikan karena tindakan di beberapa wilayah Romawi itu tidak tepat. Jadi, banyak orang Kristen yang diselamatkan dari kematian, tetapi dipotong tangan atau kakinya sedemikian rupa untuk membuat hidup mereka memilukan. Banyak orang yang dipotong te1inganya, dikerat hidungnya, dicungkil satu atau kedua matanya, dilepaskan tulangnya dari sendinya, dan dibakar dagingnya di tempat-tempat yang mencolok sehingga mereka ditandai selamanya sebagai orang Kristen. 

Seperti halnya semua penganiayaan umum, hanya beberapa cerita yang bisa dikisahkan, tetapi mewakili ribuan orang yang dianiaya tanpa belas kasihan dan mati dengan cara yang mengerikan.

Sebastian adalah kepala penjaga Kaisar di Roma. Selama masa penganiayaan karena ia menolak untuk menyangkal imannya kepada Kristus dan menyembah berhala, Diocletian memerintahkan agar ia ditembak dengan panah, yang dilakukan sampai ia dianggap sudah mati. Ketika beberapa orang Kristen muncul untuk mengambil tubuhnya dan menguburkannya, mereka melihat tanda-tanda kehidupan padaaya dan segera membawanya ke tempat yang aman lalu ia pulih dari luka -lukanya. Terlepasnya dari kematian hanya berlangsung singkat. Segera sete1ah bisa berjalan, ia mendekati Dioc1etian di jalan-jalan, menegurnya atas kekejaman, dan ketidakadilannya terhadap orang-orang Kristen. Meskipun eerkejut karena melihat Sebastian masih hidup, Kaisar segera memerintahkan agar ia ditangkap lalu dibawa ke temp at eksekusi dan dipukuli sampai mati. Untuk mencegah agar orang-orang Kristen tidak menemukan tubuhnya kali ini, ia memerintahkan agar tubuhnya dilemparkan ke saluran pem¬buangan di Roma. Namun Lucinda, seorang perempuan yang saleh, menemukan cara untuk mengambilnya dari saluran pembuangan dan menguburkannya di katakombe di antara tubuh-tubuh para martir lainnya. 

Vitus diajar prinsip-prinsip kekristenan oleh seorang perawat yang mernbesarkannya. Ketika ayahnya, Hylas, yang kafir menemukan hal ini, ia berusaha mempertobatkan ia ke kepercayaan kafir, tetapi gagal untuk meredakan kemarahan dewa-dewanya atas penghinaan yang dilakukan anaknya kepada dewa mereka, ia mengurbankan Virus kepada mereka pada tanggal 14 Juni 303. 

Orang Kristen yang baik, Victor, menghabiskan banyak waktu mengunjungi orang-orang sakit dan lemah lalu memberi banyak uang kepada orang-orang miskin. Oleh karena dikenalluas sebagai orang Kristen yang senang beramal, ia segera mendapat perhatian Kaisar dan ditangkap lalu diperintahkan untuk diikat, diseret sepanjang jalan, dicambuki, dan dilempari batu oleh orang-orang kafir sepanjangjalan. Keteguhan imannya dicela sebagai kebande1an dan ia diperintahkan untuk direntang dengan alat perentang lalu ia terus disiksa sementara perentangan dilakukan. Victor menahan siksaan itu dengan keberanian yang besar dan ketika para penyiksanya merasa kecapaian dengan tindakan mereka, mereka mernasukkan ia ke dalam sel, Di sana, ia memberitakan Kristus kepada sipir penjara dan tiga di antara mereka, Alexander, Longinus, dan Felician menerima Kristus. 
Ketika berita ini sampai pada Kaisar, ia memerintahkan ketiga sipir penjara itu pergi ke blok pe1aksana hukuman. Di sana mereka dipancung. Victor dibawa kembali ke alat perentang dan dipukuli dengan pen tung kemudian dikembalikan ke penjara. Kali ketiga ia diperiksa, mezbah kafir dengan berhala di atasnya dibawa masuk dan ia diberi dupa lalu diperintahkan untuk mempersembahkan kurban kepada berhala itu. Oleh karena marah, Victor menghentakkan kakinya ke mezbah itu dan menggulingkannya. Hal ini membuat marah sang Kaisar, yang hadir di situ sehingga ia memerintahkan agar kaki Victor dipotong. Ia kemudian dilemparkan ke dalam gilingan gandum dan diremukkan di bawah batu penggilingan itu.

Suatu kali ketika Maximus, gubernur provinsi Silisia, berada di Tarsus, tiga orang Kristen, Tarchus, Probus, dan Andronicus dibawa ke hadapannya dan berulang-ulang disiksa dan dinasihati untuk menyangkal iman mereka kepada Kristus. Ketika mereka tidak mau, mereka dikirimkan ke amphitheater untuk dieksekusi. Di sana beberapa binatang yang kelaparan dilepaskan untuk menyerang orang-orang Kristen, tetapi tidak satu pun yang mau menyerang. Penjaga hewan itu kemudian memasukkan singa betina yang ganas dan beruang yang besar yang telah membunuh tiga orang pada hari yang sarna, tetapi kedua binatang itu menolak menyerang mereka. Oleh karena frustrasi dalam usahanya menyiksa mereka sampai mati dengan gigi dan cakar binatang buas, Maximus menyuruh membunuh mereka dengan pedang. 

Romanus adalah diaken gereja di Kaisarea. Ditangkap di sana, ia dibawa ke Antiokhia dan ia dijatuhi hukuman karena imannya, dieambuki, direntang tubuhnya, dieabik dengan kaitan, dipotong dengan pisau di tubuh, dan wajahnya, giginya dicacbut, rambutnya dicabut dari kepalanya kemudian dicekik sampai mati. 

Susanna yang saleh, yang adalah keponakan Caius, penilik gereja di Roma, diperintahkan oleh Diocletian untuk menikah dengan saudaranya yang kafir yang terhormat. Oleh karena menolak, ia dihukum paneung. 
Peter, sida-sida dan budak Kaisar, menjadi orang Kristen dengan kesopanan dan kerendah-hatian yang besar. Ketika Kaisar mendengar hal ini, ia memerintahkan Peter untuk diikat ke batang logam menyala lalu dipanggang di atas api yang keeil sampai mati. Hal itu membutuhkan waktu beberapa jam.

Eulalia adalah perempuan muda yang sangat manis dari keluarga Kristen Spanyol. Ketika ia ditangkap karena menjadi orang Kristen, petugas sipil berusaha mempertobatkan ia pada paganisme, tetapi ia begitu merendahkan dewa -dewa kafir sehingga ia sangat marah lalu memerintahkan agar ia disiksa dengan siksaan yang sangat berat. Selama penyiksaannya, kaitannya disisipkan ke dalam rusuknya kemudian ditarik menembus dagingnya dan dadanya dibakar sampai hangus. Penderitaannya sangat hebat; akhirnya ia mati. Ini terjadi pada bulan Desember 303. 

Pada tahun 304, gubernur Tarragona, di Spanyol, memerintahkan Valerius, seorang penilik, dan Vincent, ditangkap, dijepit dengan rantai, dan dipenjara. Kedua orang itu berpegang erat pada iman mereka, tetapi karena alasan yang tidak diketahui penilik itu hanya dibuang dari Tarragona sementara diakennya menjalani siksaan yang mengerikan. Ia diikat pada alat perentang dan direntang sampai sendi-sendinya terlepas, kaitan disisipkan ke bagian dagingnya yang lunak kemudian ditarik, kemudian ia diikat pada batang logam menyala yang memiliki paku besar pada ujungnya, yang ditusukkan ke dalam dagingnya sementara api dinyalakan di bawahnya. Oleh karena tidak satu pun siksaan itu yang bisa mem¬bunuhnya atau mengubah imannya yang teguh, ia dimasukkan ke dalam se1 penjara yang kotor yang memiliki banyak batu api yang tajam dan pecahan kaca yang menutupi lantainya. Oleh karena siksaan itu ia meninggal pada 22 Januari 304.

Kedahsyatan dan kekejaman pengani¬ayaan orang Kristen mencapai puncaknya pada tahun 304 M, tahun sebe1um Dioc1etian mundur sebagai Kaisar Romawi. Seolah-olah orang kafir merasakan bahwa perubahan akan terjadi dan mereka ditentukan untuk menimbulkan kesusahan sehebat mungkin pada orang-orang Kristen semampu mereka sebe1um waktu penganiayaan se1esai. Sekali lagi, kita hanya bisa mengisahkan beberapa cerita tentang orang-orang yang menjadi martir pada tahun itu.

Di Afrika, seorang imam Kristen bernama Saturninus disiksa, dimasukkan ke dalam penjara dan menderita ke1aparan sampai mati. Keempat anaknya mengalami nasib yang sama. 

Di Tesalonika, di wilayah yang kemudian menjadi provinsi Makedonia di Romawi, tiga bersaudara Agrape, Chionia, dan Irene, ditangkap dan dibakar sampai mati pada 25 Maret 304. Irene diberi perlakuan khusus oleh gubernur yang tertarik pada kecantikannya. Ketika ia menegur rayuannya, ia memerintahkan agar ia ditelanjangi dan dipertontonkan di jalan-jalan kota, lalu dalam keadaan itu, ia digantung di tembok kota dan dibakar.

Empat bersaudara, Victorius, Carpophorus, Severus, dan Severianus, dipekerjakan di kantor tinggi di kota Roma. N amun, ketika terdengar bahwa mereka adalah orang-orang Kristen dan berbicara menentang penyembahan berhala, mereka ditangkap dan dicambuki dengan cemeti seperti sembilan ekor kucing yang memiliki bola timah yang diikatkan pada bagian ujungnya. Pencambukan itu begitu dahsyat sehingga keempat bersaudara itu mati di tempat pencambukan.

Timothy, seorang diaken gereja di provinsi Mauritania di Romawi, dan Maura, baru saja menikah selama beberapa minggu ketika penganiayaan menimpa mereka dan mereka ditangkap karena mereka adalah orang Kristen. Segera sete1ah mereka ditangkap, mereka dibawa ke depan gubernur provinsi, Arrianus, yang menyadari bahwa Timothy bertanggung jawab meme1ihara Kitab Suci di gerejanya. Ia memerintahkan kepada Timothy untuk menyerahkan Alkitab kepadanya untuk dibakar. Kepada perintah itu Timothy menjawab, “Jika saya memiliki anak, saya akan menyerahkan mereka kepadamu lebih dahulu untuk dipersembahkan daripada saya harus menyerahkan firman Allah.” 

Marah karena mendengar jawaban ini, Arrianus memerintahkan agar mata Timothy dibakar dengan besi yang panas menyala dan berkata, “Buku itu tidak akan berguna bagimu sebab kamu akan tidak memiliki mata untuk membaca buku itu.” 

Keberanian Timothy dalam menjalani penderitaan yang mengerikan membuat Arrianus begitu marah sehingga ia memerintahkan agar ia digantung kakinya dengan gantungan beban pada lehernya dan mulutnya disumbat, sambil berpikir bahwa itu akan menaklukkan keteguhan imannya.

Istri Timothy, Maura, yang dipaksa untuk melihat semua ini, meminta kepadanya untuk menyangkal, demi istrinya, supaya ia tidak hams menyaksikan siksaan seperti itu. Namun, ketika sumbat itu dilepaskan dari mulut Timothy sehingga ia bisa menjawab permohonan istrinya yang mendesak, bukannya menyetujui permintaannya, ia justru menuduh istrinya memiliki cinta yang salah dan menyatakan tekadnya untuk mati demi imannya kepada Kristus. 

Akibatnya, Maura memutuskan untuk mengikuti keberanian suaminya dan bersedia menyertai atau mengikutinya masuk dalam kemuliaan. Oleh karena gagal menghentikan keputusan bam Maura, Arrianus memerintahkan agar ia diberi siksaan yang berat. Timothy dan Maura disalibkan bersebelahan.

Sabinus, Uskup Assisium di provinsi Tuscany, menolak memberikan kurban kepada Jupiter, dewa tertinggi Romawi, dan menyingkirkan berhala itu darinya. Melihat itu, gubernur menyuruh tangannya yang mendorong berhala itu untuk dipotong. Namun, ketika berada di penjara, Sabinus mempertobatkan gubernur itu dan keluarganya menjadi Kristen. Oleh karena pengakuan atas iman kepada Allah yang sejati yang bam mereka temukan, mereka semua dieksekusi. Segera setelah itu, Sabinus dicambuki sampai ia mati. Hal itu terjadi pada bulan Desember 304. 

Di Phoenicia, tempat ia dilahirkan, Pamphilus terkenal sebagai seorang yang sangat cerdas dan berpendidikan tinggi sehingga ia disebut Origen kedua. Ia menjadi anggota imam di Kaisarea, ibukota Yudea Romawi, yang ditetapkan sebagai perpustakaan umum, mengabdikan dirinya untuk setiap amal dan pelayanan Kristen. Sebagai bagian dari pekerjaannya, ia menyalin bagian terbesar dari tulisan Origen dengan tangannya sendiri yang dibantu oleh imam lain, Eusebius, menghasilkan salinan Perjanjian Lama yang benar, yang sebelumnya mengalami banyak kesalahan fatal karena keteledoran atau ketidaktahuan ahli kitab sebelumnya. Oleh karena melakukan pekerjaan semacam itu, ia ditangkap, disiksa, dan dihukum mati. 

Pada tahun 305 M, Diocletian mengundurkan diri sebagai kaisar tertinggi Romawi dan menyerahkan kekaisaran kepada Aurelius Valerius Constantius, yang telah ia jadikan kaisar di Barat pada tahun 293 M dan Gaius Galerius Valerius Maximianus, yang adalah menantunya dan yang sudah memerintah sebagai kaisar bersamanya di Timur. Constantius seorang yang sikapnya lembut; watak dan karakternya baik. Di bawah pemerintahannya, orang-orang Kristen di Barat mengalami masa kelegaan untuk pertama kalinya dari penganiayaan yang telah mereka alami selama bertahun-tahun. Namun di Timur, penganiayaan yang kejam masih berlanjut di bawah kekuasaan Galerius sebab dialah yang menghasut Diocletian untuk melakukan penganiayaan besar yang akan menghapus gereja Kristen dari muka bumi.

Namun, ia gagal melakukannya, seperti juga semua penganiayaan lainnya sebab Kristus akan mendirikan gereja-Nya di atas bumi sampai Dia datang kembali. 



Kegagalan orang-orang kafir untuk menghancurkan gereja Kristus merupakan awal dari berakhirnya penganiayaan di Kekaisaran Romawi sebab Allah memiliki pemenang yang segera akan Dia tempatkan sebagai kaisar atas seluruh Romawi.

Penganiayaan Kesembilan di Bawah Aurelian (Lucius Domitius Aurelianus) (270-275 M)


Ahli sejarah mengenal Aurelian sebagai Kaisar Roma yang mengendalikan kaum barbar di seberang Sungai Rhine ke bawah pengawasan kekaisaran dan merebut kembali Inggris, Prancis, Spanyol, Syria, dan Mesir menjadi bagian kekaisaran. Orang-orang Kristen mengenalnya sebagai seorang barbar lain dan penganiaya gereja Yesus Kristus. 

Pemilik gereja di Roma, Felix, merupakan martir pertama selama pemerintahan Aurelian. Felix dipancung di tahun 274 M. 

Di Praeneste, kota yang berjarak sekitar 48 km dari Roma, seorang muda yang kaya bernama Agapetus menjual semua yang ia miliki dan memberikan uangnya kepada orang miskin. Akibatnya, sebagai orang Kristen ia ditangkap, disiksa, dan dipancung. 

Aurelian dibunuh oleh pegawainya sendiri dan digantikan oleh Tacitus. Beberapa Kaisar lainnya berturut-turut memerintah: Propus, Carns, dan anak-anaknya Carnious dan Numerian. Selama pemerintahan mereka gereja aman.

Penganiayaan Kedelapan, di Bawah Kaisar Valerian (253-260 M)

Penganiayaan ini dimulai pada bulan keempat pada tahun 257 M dan berlangsung se1ama tiga setengah tahun. Jumlah martir dan tingkat penyiksaannya sarna seperti penganiayaan sebelumnya. Kita tidak dapat menceritakan semua kisah mereka, jadi kita memilih beberapa orang untuk mewakili yang lainnya. 

Rufina dan Secunda, anak-anak perempuan yang cantik dan berpendidikan tinggi dari seorang yang terkenal di Roma, bertunangan dengan dua orang laki-laki yang kaya, Armentarius dan Verinus. Keempat orang itu semuanya mengaku Kristen. N amun, ketika penganiayaan dimulai dan kedua laki-laki muda itu menyadari bahaya bahwa mereka akan kehilangan uang mereka, mereka menyangkal iman mereka, dan berusaha membujuk perempuan-perempuan muda itu untuk me1akukan hal yang sarna. Oleh karena mereka tidak mau, laki-laki itu memberikan informasi yang menentang mereka, dan mereka ditangkap karena menjadi orang Kristen dan dibawa ke depan gubernur Roma, Junius Donatus, dan dijatuhi hukuman dengan cara dipancung. Penilik gereja di Roma, Stephen, juga dipancung. 

Pada waktu yang sama, di Toulouse, yang merupakan bagian dari Gaul Romawi, Saturninus, penilik gereja yang saleh, menolak untuk mempersembahkan kurban kepada berhala di kuil mereka ketika ia diperintahkan untuk me1akukannya. la dibawa ke puncak tangga kuil dan diikat kakinya pada ekor sapi jantan yang buas. Binatang itu kemudian didorong ke bawah dari tangga kuil itu dengan menyeret Saturninus di be1akangnya. Pada saat mereka sampai di tangga dasar, kepala orang yang saleh itu terbe1ah lalu ia mati. 

Di Roma, Sixtus menggantikan Stephen sebagai penilik gereja, tetapi masa jabatannya hanya singkat. Pada tahun 258 M, setahun setelah Stephen menjadi martir, Marcianus, gubernur Roma, mendapatkan perintah dari Kaisar Valerian yang memberi wewenang kepadanya untuk membunuh semua imam di Roma. Sixtus lalu keenam diakennya segera dibunuh. 

Di gereja di Roma juga ada seorang laki-laki saleh bernama Lawrence, yang adalah pe1ayan Injil, dan bertanggung jawab untuk membagikan barang-barang gereja (lihat Kisah Para Rasul 6:3). Marcianus dengan tamak menuntut agar Lawrence memberi tahu tempat kekayaan gereja disembunyikan. Ia berpikir bahwa ia bisa meramp as barang-barang itu untuk dirinya sendiri. Lawrence meminta waktu tiga hari untuk mengumpulkan kekayaan itu lalu menyerahkannya kepada gubernur.

Ketika hari ketiga tiba, Marcianus menuntut agar Lawrence menepati janjinya. Lawrence merentangkan tangannya pada beberapa orang Kristen yang miskin yang te1ah ia kumpulkan di tempat itu bersamanya lalu berkata, “lnilah kekayaan gereja yang paling berharga. Mereka adalah hart a benda tempat iman kepada Kristus memerintah, temp at Kristus memiliki tempat kediamanNya. Perhiasan apakah yang dimiliki gereja yang lebih berharga daripada orang-orang tempat Kristus berjanji untuk mendiaminya?” 

Ketika mendengarnya, Marcianus sangat marah dan menjadi setengah gila karena pengaruh lblis. la berteriak dalam kemarahannya: “Nyalakan api, jangan sisakan kayunya! Penjahat ini telah berusaha menipu Kaisar. Singkirkan ia, singkirkan ia! Cambuk ia dengan cemeti, sentak ia dengan kaitan, pukul ia dengan kepalan tangan, pukul ia dengan pentung. Apakah pengkhianat bergurau dengan Kaisar? Jepit ia dengan tang yang kuat, tempe1kan batang logam yang menyala ke tubuhnya. Keluarkan rantai yang paling kuat, garpu api, dan tempat tidur berparut. Taruh temp at tidur itu dalam api; dan ketika sudah menyala merah, ikat tangan dan kaki pengkhianat itu, lalu panggang ia, bakar ia, ayunkan ia, bolak-balik ia. Siksa ia dengan cara apa pun yang bisa kamu pikirkan atau kamu sendiri akan disiksa.” 
Sebe1um ia selesai berteriak-teriak, siksaan itu segera dimulai. Sete1ah mengalami banyak siksaan yang kejam, hamba Kristus yang rendah hati itu mulai dibaringkan di temp at tidur yang menyala. Namun, karena pemeliharaan Allah, tempat tidur itu teras a seperti bulu-bulu yang lembut dan Lawrence yang saleh terbaring di sana lalu mati seolah-olah sedang beristirahat dengan pulas. 

Di Afrika, penganiayaan yang sangat hebat mulai berkobar. Ribuan orang menjadi martir bagi Kristus. Sekali lagi, kita hanya bisa mengisahkan beberapa cerita saja dari mereka. 

Di Utica, tepat di barat daya Kartago, gubernur provinsi memerintahkan agar 300 orang Kristen ditempatkan di sekeliling pinggiran lubang pembakaran kapur yang sedang menyala. Sepanci batu arang dan dupa untuk menyembah berhala disiapkan lalu orang-orang Kristen diberi tahu bahwa mereka harus memilih: memberikan persembahan kepada dewa Jupiter atau dilemparkan ke dalam lubang. Semua menolak kemudian bersama-sama melompat ke dalam lubang yang membuat napas mereka tercekik, terbakar dalam asap, dan nyala api yang mengerikan. 

Tidak jauh dari sana, tiga orang perawan Kristen, Maxima, Donatilla, dan Secunda, dijatuhi hukuman karena menolak untuk menyangkal Kristus. Mereka diberi empedu dan cuka untuk diminum, mungkin untuk meringankan penderitaan mereka, atau untuk meniru Yesus (lihat Matius 27:34). Mereka kemudian dicambuk dengan kejam dan luka-lukanya digosok dengan jeruk limau. Setelah itu mereka digantung dan disiksa di gantungan lalu dihanguskan dengan batang logam menyala, dicabik-cabik oleh binatang buas dan akhirnya dipenggal kepalanya. 

Di Spanyol, Fructuosus, penilik gereja di Tarragona dan dua diakennya, Augurius dan Eulogius, dijadikan martir dalam kobaran api. 

Di Palestina, Alexander, Malchus, Priscus, dan seorang perempuan yang tidak diketahui namanya dihukum dengan cara diumpankan kepada singa-singa sete1ah dinyatakan di depan umum bahwa mereka adalah orang Kristen. Hukuman mereka dilaksanakan segera. 



Pada tahun 260 M, anak Valerian, Gallienus, menggantikannya. Selama pemerintahan Gallienus gereja terbebas dari penganiayaan secara umum selama beberapa tahun.

Penganiayaan Ketujuh, di Bawah Kaisar Decius (249-251 M)

Penganiayaan ini dimulai oleh Decius karena kebenciannya kepada pendahulunya Philip, yang dipercaya adalah seorang Kristen, dan oleh kemarahannya karena kekristenan berkembang dengan sangat cepat dan dewa-dewa kafir mulai ditinggalkan. Oleh karena itu ia memutuskan untuk menyingkirkan agama Kristen beserta semua pengikutnya. Penduduk Roma yang kafir sangat antusias untuk mendukung keputusan Decius dan memandang bahwa pembunuhan orang-orang Kristen akan bermanfaat bagi kekaisaran. Se1ama penganiayaan ini,jumlah para martir begitu banyak sehingga tidak bisa dicatat oleh seorang pun juga. Di bawah ini ada beberapa nama mereka.

St. Chrysostomus, bapa gereja Kenstantinope1 pada tahun 398, menulis bahwa Julian, seorang Sisilia, ditangkap karena menjadi orang Kristen, dimasukkan ke dalam tas kulit dengan beberapa ekor ular dan kalajengking kemudian dilemparkan ke dalam laut. 

Seorang laki-laki muda, Peter, yang terkenal karena memiliki kualitas mental dan tubuh yang kuat, menolak untuk mempersembahkan kurban bagi Dewi Venus ketika ia disuruh melakukannya. Dalam pembelaannya, ia berkata, “Saya heran bahwa kamu mempersembahkan kurban kepada perempuan yang terkenal jahat, yang penyelewengannya dicatat dalam tulisan-tulisanmu sendiri dan yang kehidupannya dipenuhi dengan tindakan yang menyimpang, yang seharusnya dihukum oleh undang-undangmu. Tidak, saya akan mempersembahkan kurban puji-pujian dan doa yang berkenan kepada Allah.” Ketika gubernur Asia, Optimus, mendengar hal ini, ia rnemerintahkan agar Peter ditarik di atas roda sampai semua tulangnya patah kemudian dipancung. 

Seorang Kristen yang lemah, Nichomachus, dibawa ke hadapan Optimus dan disuruh memberikan kurban kepada berhala kafir. Nichomachus menjawab, “Saya tidak bisa memberikan penghormatan yang seharusnya hanya saya berikan kepada Yang Mahatinggi, kepada roh-roh jahat.” Ia segera diletakkan di tempat penyiksaan dan setelah menderita siksaan sesaat, ia menyangkal imannya kepada Kristus. Segera setelah ia dilepaskan dari tempat penyiksaan, ia dikuasai kesakitan yang hebat, jatuh ke tanah, dan mati.

Ketika melihat hal yang tampaknya merupakan penghukuman yang mengerikan, Denisa, seorang gadis berusia 16 tahun yang berada di antara para penonton berseru, “Oh, orang berdoa yang malang, mengapa kamu membeli kelegaan yang hanya sesaat dengan membayar kekekalan yang menyedihkan!” Ketika Optimus mendengar ini, ia memanggilnya datang kepadanya. Dan ketika Denisa mengaku bahwa ia seorang Kristen, Optimus memerintahkan ia dipancung. 

Andrew dan Paul, dua orang Kristen yang menjadi ternan Nichomachus, berpegang erat pada Kristus dan dirajam dengan batu sampai mati ketika mereka berseru kepada Penebus mereka yang diberkati.

Di Alexandria, Alexander dan Epimachus ditangkap karena mereka adalah orang Kristen. Ketika mereka mengaku bahwa mereka benar orang Kristen, mereka dipukuli dengan tongkat yang tebal, dicabik dengan pengait kemudian dibakar sampai mati. Pad a hari yang sama, empat martir perempuan dipancung kepalanya; nama mereka tidak dikenal. 

Di Nice, Trypho, dan Respisius, laki-laki yang terkenal, orang Kristen, ditangkap, dan disiksa. Kaki mereka dipaku, mereka dicambuki dan diseret sepanjangjalan, dicabik dengan pengait dari besi, dibakar dengan obor kemudian dipancung.

Quintain, gubernur Sicily, bernafsu terhadap seorang perempuan dari Silisia, Agatha, yang terkenal karena kesalehannya maupun kecantikannya yang luar biasa. Ketika ia menolak semua rayuan Quintain, sang gubernur menyerahkan ia ke tangan perempuan yang jahat, Aphrodica, yang menjalankan temp at pelacuran. Namun, perempuan yang jahat ini tidak bisa menjadikan Agatha seorang pelacur supaya Quintain bisa memuaskan nafsunya dengannya. Ketika mendengar ini, nafsuQuintain berubah menjadi kemarahan dan ia memanggil Agatha ke hadapannya lalu menanyainya. Ketika ia mengaku bahwa ia adalah orang Kristen, Quintain memerintahkan agar ia dicambuki, dicabik dengan kaitan yang tajam lalu dibaringkan telanjang di at as kayu arang yang menyala yang dicampur dengan pecahan kaca. Agatha menanggung siksaan ini dengan keberanian yang luar bias a dan dikembalikan lagi ke penjara tempat ia meninggal karena luka -lukanya pada tanggal 5 Februari 251.

Lucius, gubernur Kreta, memerintahkan Cyril, penilik gereja di Gortyna yang berusia 84 tahun, agar ditangkap karena menolak untuk menaati keputusan Kaisar untuk melakukan pengurbanan kepada berhala. Ketika Cyril muncul ke hadapannya, Lucius menasihatinya untuk melakukan pengurbanan dan dengan begitu menyelamatkan dirinya sendiri dari kematian yang mengerikan. Orang yang saleh itu menjawab bahwa ia telah lama mengajar orang-orang lain jalan untuk mengalami hidup kekal dalam Kristus dan sekarang ia harus berdiri teguh demi jiwanya sendiri. Ia tidak menunjukkan rasa takut ketika Lucius memutuskan ia untuk dibakar di tiang dan menderita di tengah kuburan api dengan sukacita dan keberanian yang luar biasa.

Pada tahun 251 M, Kaisar Decius mendirikan kuil kafir di Efesus dan memerintahkan kepada semua orang di kota itu untuk memberikan kurban kepada berhala-berhala. Tujuh prajuritnya yang adalah orang Kristen menolak untuk me1akukannya dan dimasukkan ke dalam penjara. Mereka adalah: Konstantinus, Dionysius, Joannes, Malchus, Martianus, Maximianus, dan Seraion. Decius mencoba memalingkan mereka dari iman mereka dengan menunjukkan kemurahan hati lalu memberi kesempatan kepada mereka sampai ia kembali dari ekspedisi untuk mengubah pikiran mereka. Se1ama kepergiannya ketujuh orang itu melarikan diri dan menyembunyikan diri di gua di bukit-bukit yang dekat dari situ. Namun, ketika Decius pulang, tempat persembunyian mereka ditemukan dan ia memerintahkan agar gua itu dimeteraikan sehingga mereka mati karena kehausan dan kelaparan. 
Pada masa penganiayaan di bawah Decius itulah Origen yang berusia 64 tahun, filosof Kristen yang terkenal, yang ayahnya, Leonidus, menjadi martir selama penganiayaan kelima, ditangkap, dan dilemparkan ke dalam penjara yang buruk di Alexandria. Kakinya diikat dengan rantai dan dimasukkan ke dalam pasungan lalu kakinya direntangkan sejauh mungkin. Ia terus-menerus diancam dengan hukuman bakar dan disiksa dengan segala alat yang membuatnya tetap hidup dalam keadaan sekarat untuk beberapa saat sebelum mati.



Untungnya, pada waktu itu Decius mati dan penerusnya Gallus segera terlibat perang untuk memukul mundur penyerbuan Goth, pasukan Jerman dari utara. Hal ini untuk sementara menghentikan penganiayaan terhadap orang-orang Kristen dan Origen mendapatkan kebebasannya lalu pergi ke Tirus, serta tinggal di sana sampai ia mati lima tahun sesudahnya pada tahun 254 M.

Penganiayaan Keenam, di Bawah Kaisar Marcus Clodius Pupienus Maximus (164-238 M)


Maximus seorang raja lalim yang memerintahkan semua orang Kristen diburu dan dibunuh. Begitu banyaknya orang yang dibunuh sehingga kadang-kadang mereka mengubur mayat orang-orang itu 50 atau 60 orang sekaligus dalam satu lubang besar. 

Di antara mereka yang dibunuh adalah Pontianus, Uskup Roma, yang diasingkan ke Sardinia karena berkhotbah menentang penyembahan berhala dan dibunuh di sana. Penerusnya, Anteros, juga menjadi martir setelah menduduki jabatannya selama 40 hari saja karena mengusik pemerintah dengan mengumpulkan sejarah para martir. Senator Roma, Pammachius dan keluarganya serta 42 orang Kristen lainnya dipancung pada hari yang sama lalu kepala mereka dipertontonkan di pintu gerbang kota. Imam Kristen, Calepodius, diseret sepanjang jalan-jalan Roma kemudian dilemparkan ke dalam Sungai Tiber dengan digantungi batu yang diikatkan pada lehernya. Seorang perawan muda yang cantik juga berbudi halus bernama Martina dipancung dan Hippolitus, imam Kristen diikatkan pada kuda liar lalu diseret sepanjang jalan sampai ia mati. 

Maximus meninggal pada 238 M dan digantikan oleh Gordian, yang kemudian digantikan oleh Philip. Se1ama kedua orang itu memerintah, gereja terbebas dari penganiayaan se1ama se1ang mas a 6-10 tahun. Namun, pada tahun 249 M penganiayaan yang hebat di Alexandria dikobarkan lagi oleh imam kafir tanpa sepengetahuan Kaisar. Se1ama penganiayaan itu, penatua Kristen, Metrus, dipukuli dengan pentung, ditusuk dengan jarum, dan dirajam dengan batu sampai mati karena menolak untuk menyembah berhala. Seorang perempuan Kristen, Quinta, dicambuki, kemudian diseret di atas batu-batu api dalam keadaan berdiri lalu dirajam dengan batu sampai mati. Seorang perempuan berusia 70 tahun, Appolonia, yang mengaku bahwa ia adalah orang Kristen, diikat pada tiang dan dibakar. Setelah api disiapkan, ia memohon untuk dibebaskan. Orang banyak menyangka bahwa ia akan menyangkal Kristus. Namun, mereka terkejut ketika ia me1emparkan dirinya sendiri ke dalam nyala api dan mati.

Penganiayaan Kelima, Dimulai Kaisar Lucius Septimius Severus (193-211 M)


Untuk masa yang singkat, Severus bersikap baik kepada orang-orang Kristen karena dikatakan bahwa ia te1ah disembuhkan dari sakit yang parah sete1ah dilayani oleh seorang Kristen, tetapi tidak lama kemudian prasangka dan kemarahan penduduk Romawi memuncak sehingga hukum kuno dihidupkan kembali dan digunakan untuk melawan orang-orang Kristen. Dan sekali lagi, mereka disalahkan serta dihukum atas setiap bencana alam yang terjadi.

Sekalipun penganiayaan berlangsung lagi, gereja dan Injil tetap berdiri teguh, pun menyala terang me1aluinya; dan Tuhan terus menambahkan jumlah anggota tubuh-Nya di seluruh kekaisaran Romawi. Tertullian, teo log dari Kartago yang bertobat menjadi Kristen pada tahun 193 M, berkata bahwa jika semua orang Kristen meninggalkan provinsi Romawi, kekaisaran itu hampir-hampir kosong. 

Selama penganiayaan, Victor, Uskup Roma, menjadi martir pada tahun 201 M Leonidus, ayah Origen, filosof Kristen Yunani yang terkenal atas penafsirannya terhadap Perjanjian Lama, dipancung. Banyak pendengar Origen juga menjadi martir: Plutarchus, Serenus, Heron, dan Herac1ides dipancung. Seorang wanita bernama Rhais dituangi aspal yang mendidih di atas kepalanya dan kemudian dibakar, seperti juga ibunya, Marcella. Saudaranya, Potainiena, mengalami nasib yang sama se perti yang dialaminya, tetapi se1ama penyiksaannya, Basilides, kepala pasukan yang diperintahkan untuk menyaksikan eksekusinya, bertobat pada Kristus. Tidak lama sesudahnya, ketika ia diminta untuk bersumpah pada berhala Romawi, ia menolak karena ia sudah menjadi Kristen. Pertama-tama orangorang yang bersamanya tidak percaya hal yang mereka dengar, tetapi ketika ia mengulangnya, ia diseret di depan hakim, dikutuk dan dipancung.

Irenaeus (130-202 M), bapa Gereja Yunani dan Uskup Lyons, dilahirkan di Yunani dan menerima pendidikan sekuler maupun Kristen. Dipercaya bahwa ia menulis kisah penganiayaan di Lyons. Ia dipancung pada202 M.

Sekarang penganiayaan berkembang ke Afrika Utara, yang merupakan satu di antara provinsi Romawi. Banyakorang menjadi martir di wilayah itu. Berikut beberapa orang di antaranya.

Perpetua, seorang wanita yang te1ah menikah yang masih menyusui bayinya; Felicitas, yang pada saat itu sedang hamil, dan Revocatus dari Kartago, seorang budak yang sedang diajar prinsip-prinsip kekristenan. Tahanan lainnya yang menderita pada saat yang sama adalah Saturninus, Secundulus, dan Satur. Ketiga orang terakhir ini disuruh berlari di antara dua baris laki-laki yang dengan kejam mencambuk mereka ketika mereka lewat.

Setelah muncul di depan prokonsul Minutius dan ia ditawari kebebasan jika ia mau mempersembahkan kurban kepada berhala, bayi Perpetua yang masih menyusu dirampas darinya dan ia dilemparkan ke dalam penjara. Saat menje1askan iman dan kehidupannya kepada ayahnya di penjara, ia memberi tahu ayahnya, “Lubang penjara ini bagi saya adalah istana.” Be1akangan ia dan tahanan 1ainnya muncul di depan hakim Hilarianus. Ia juga menawarkan untuk membebaskannya jika ia mau mempersembahkan kurban. Ayahnya berada di sana dengan bayinya dan memohon kepadanya untuk meslakukan pengurbanan. la menjawab, “Saya tidak akan memberikan kurban.” 

“Apakah kamu seorang Kristen?” tanya Hilarianus. 

“Saya seorang Kristen,” Perpetua menjawab. 

Semua orang Kristen yang bersamanya berdiri teguh bagi Kristus dan mereka diperintahkan untuk dibunuh binatang buas untuk memberi hiburan bagi orang banyak pada hari libur kafir berikutnya. Laki-laki dicabik-cabik oleh singa-singa dan macan tutul serta orang perempuan diserang oleh sapi jantan. 

Pada hari pelaksanaan hukuman, Perpetua dan Felicitas pertama-tama ditelanjangi lalu digantung di jala-jala, tetapi kemudian dilepaskan dan diberi pakaian lagi karena orang banyakkeberatan. Ketika kembali ke arena, Perpetua diseruduk ke sana kemari oleh sapi gila dan hampir jatuh pingsan, tetapi tidak terluka parah; namun Felicitas terluka parah terkena tanduk-tanduk sapi itu. Perpetua bergegas lari ke sisinya dan memegangnya sementara mereka menunggu sapi jantan itu menyerang mereka lagi, tetapi sapi itu menolak untuk me lakukannya dan mereka diseret keluar dari arena. Hal ini membuat orang banyak kecewa. 

Setelah sesaat, mereka dimasukkan ke arena lagi dan dibunuh oleh gladiator. Felicitas terbunuh dengan cepat, tetapi gladiator muda dan belum berpengalaman yang ditugasi untuk membunuh Perpetua gemetar dengan hebat dan hanya bisa menikamnya dengan lemah beberapa kali. Melihat bagaimana ia gemetar, Perpetua memegang mata pedangnya lalu mengarahkan itu pada bagian vital tubuhnya. 

Nasib orang laki-1aki juga sarna. Satur dan Revocatus dibunuh oleh binatang-binatang buas. Saturninus dipancung dan Secundu1us mati karena luka-lukanya di penjara.

Penganiayaan Keempat, di Bawah Kaisar Marcus Aurelius Antoninus (162-180 M)



Marcus Aurelius seorang filosof dan menulis Meditations, karya klasik stoikisme, yang bersikap acuh tak acuh terhadap kesenangan atau penderitaan. Ia juga kejam dan tidak berbelas kasihan terhadap orang-orang Kristen, dan bertanggung jawab atas penganiayaan keempat kepada mereka

Kekejaman terhadap orang-orang Kristen dalam penganiayaan ini begitu tidak manusiawi sehingga banyak orang yang menyaksikannya merasa muak dengan kekejaman itu dan merasa takjub me1ihat keberanian orang yang mengalami siksaan itu. Beberapa martir, kakinya dihancurkan dengan alat penjepit dan kemudian dipaksa berjalan di atas duri, paku, kerang yang tajam, dan benda-benda tajam lainnya. Orang lainnya dicambuk sampai otot dan pembuluh darah mereka pecah. Kemudian sete1ah mengalami penderitaan melalui siksaan yang paling mengerikan yang bisa dipikirkan, mereka dibunuh dengan cara yang mengerikan. Namun, hanya sedikit yang berpaling dari Kristus atau memohon kepada para penyik sa mereka untuk meringankan penderitaan mereka. 

Ketika Germanicus, seorang Kristen sejati yang masih muda diserahkan kepada singa yang buas karen a kesaksian imannya, ia bersikap begitu penuh keberanian sehingga beberapa orang kafir bertobat pada iman yang memuneulkan keberanian semacam itu. 

Polikarpus, seorang murid Rasul Yohanes dan penilik gereja di Smirna. Ia mendengar bahwa para prajurit menearinya lalu berusaha me1arikan diri, tetapi ia ditemukan oleh seorang anak. Sete1ah memberi makan para penjaga yang menangkapnya, ia meminta waktu satu jam untuk berdoa dan permintaannya dikabulkan mereka. Ia berdoa dengan begitu tekun sehingga para penjaga itu meminta maafkepadanya karena mereka ditugaskan untuk menangkapnya. Namun, ia akhirnya dibawa ke depan gubernur dan dihukum bakar di tengah pasar. 
Setelah putusan hukumannya ditentukan, gubernur berkata kepadanya, “Celalah Kristus dan aku akan melepaskan kamu.” 

Polikarpus menjawab, “De1apan puluh enam tahun aku te1ah me1ayani Dia; Ia tidak pernah berbuat salah kepadaku. Bagaimana mungkin aku mengkhianati Rajaku yang telah menye1amatkan aku?” 

Di tengah pasar, ia diikat di tonggak dan tidak dipaku seperti kebiasaan pada saat itu karena ia menjamin mereka bahwa ia akan berdiri tanpa bergerak dalam nyala api dan tidak akan me1awan mereka. Pada saat kayu-kayu kering yang diletakkan di sekitarnya dinyalakan, nyala api itu berkobar dan me nyelubungi tubuhnya tanpa membakarnya. Maka pelaksana hukuman diperintahkan untuk menusuknya dengan pedang. Ketika ia me1akukannya, darah yang sangat banyak menyembur ke1uar dan memadamkan api itu.

Meskipun ternan-ternan Kristennya memohon agar tubuhnya diberikan kepada mereka supaya mereka dapat menguburkannya, musuh-musuh Injil bersikeras agar tubuhnya dibakar dengan api, dan itu dilaksanakan. 

Felicitatis, seorang wanita kaya dari ke1uarga Romawi yang terkenal, seorang Kristen yang saleh dan setia. Ia memiliki tujuh anak yang juga adalah orang Kristen yang setia. Mereka semua menjadi martir. 

Januarius, anaknya yang tertua, dicambuk, dan ditekan dengan beban yang berat sampai mati. Felix dan Philip, dua anak berikutnya, otaknya terlempar ke1uar ketika dipukul dengan pentung. Silvanus, anak keempat, dilemparkan dari tebing yang euram. Ketiga anak yang paling muda, Alexander, Vitalis, dan Martial, dipancung dengan pedang. Felieitatis kemudian dipancung dengan pedang yang sama. 

Justinus, teolog Yunani yang mendirikan sekolah filsafat Kristen di Roma dan menulis Apology dan the Dialogue,juga menjadi martir se1ama masa penganiayaan ini. Ia adalah penduduk asli Neapolis, di Samaria, dan adalah peeinta kebenaran serta ilmuwan universal. Sete1ah pertobatannya pada kekristenan ketika berusia 30 tahun, ia menulis surat kiriman yang indah kepada orang-orang kafir dan menggunakan talentanya untuk meyakinkan orang-orang Yahudi terhadap kebenaran iman Kristen. 

Ketika orang-orang kafir mulai memperlakukan orang-orang Kristen dengan sangat kejam, Justinus menulis pembelaan untuk membela mereka sehingga men¬dorong Kaisar untuk mengeluarkan keputusan untuk membela orang-orang Kristen. 

Segera setelah itu, ia sering melakukan perdebatan dengan Crescens, seorang filosof sinis yang terkenal Argumen Justinus mengungguli Crescens dan itu mengganggunya sehingga ia berusaha menghancurkan Justinus. Pembelaan kedua yang ditulis Justinus untuk orang-orang Kristen memberikan kesempatan yang dibutuhkan Crescens dan ia meyakinkan Kaisar bahwa Justinus berbahaya baginya. Akibatnya ia dan keenam pengikutnya ditangkap lalu diperintahkan untuk memberikan persembahan kepada berhala kafir. Ketika mereka menolak, mereka dicambuk kemudian dipancung.

Segera setelah itu, penganiayaan mereda untuk sementara karena terjadinya pelepasan yang ajaib atas pasukan Kaisar dari kekalahan tertentu di peperangan di wilayah utara melalui doa-doa pasukan tentaranya yang semuanya adalah Kristen. Namun, penganiayaan dimulai lagi di Prancis dan siksaannya jauh melebihi kemampuan penggambaran melalui kata-kata.

Sanctus, diaken dari Vienna, bagian tubuhnya yang paling lunak ditempeli plat tembaga panas menyala dan dibiarkan di sana sampai seluruh tulangnya terbakar. 

Blandina seorang wanita Kristen yang postur tubuhnya lemah sehingga ia dipandang tidak akan mampu menjalani siksaan, tetapi ketabahannya sangat luar biasa sehingga penyiksanya menjadi kecapaian dengan pekerjaan mereka yang jahat. Ia kemudian dibawa ke amphitheater dengan tiga orang lainnya lalu digantung pada sepotong kayu yang ditancapkan di tanah dan dibiarkan menjadi makanan singa yang buas. Sementara mengalami penderitaannya, ia berdoa dengan tekun untuk teman-temannya dan menguatkan mereka. Namun, tidak satu pun dari singa-singa itu yang menyentuhnya,jadi ia dimasukkan ke dalam penjara lagi - itu terjadi dua kali.

Kali terakhir ia dibawa keluar, ia ditemani oleh seorang remaja berusia 15 tahun Ponticus. Ketabahan iman mereka membuat marah orang banyak itu sehingga sekalipun ia wanita dan temannya masih muda, tidak dipandang sama sekali; dan mereka diserahkan pada hukuman dan siksaan yang paling kejam. Blandina dicabik-cabik oleh singa itu, dicambuk dan dimasukkan dalam jaring lalu diseruduk ke sana kemari oleh seekor banteng liar kemudian diletakkan di kursi logam yang merah menyala dalam keadaan telanjang. Ketika ia bisa berbicara, ia menasihati semua orang yang berada di dekatnya untuk berpaut kuat-kuat pada iman mereka. Ponticus bertahan sampai mati. Ketika penyiksa Blandina tidak mampu membuatnya mencabut imannya, mereka membunuhnya dengan pedang. 

Total Pageviews

Praditya. Powered by Blogger.

Translate

Search