Showing posts with label Martir. Show all posts
Showing posts with label Martir. Show all posts

Kisah Kemartiran

T. B. Simatupang dan Lambertus Nicodemus Palar

Pemerintah melalui Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan menetapkan pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada tiga tokoh pada 2013 temasuk dua tokoh Kristen yakni Lambertus Nicodemus Palar dan TB Simatupang.

“Besok (8/11) pukul 16.00 WIB ketiga tokoh ini akan ditetapkan oleh Presiden RI,” kata Dirjen Pemberdayaan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan Kementerian Sosial Hartono Laras di Jakarta, Kamis (7/11), seperti dilansir sinarharapan.com.

Ketiga tokoh yang diberi gelar Pahlawan Nasional yaitu Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Radjiman Wedyodiningrat dari Yogyakarta, Lambertus Nicodemus Palar dari Sulawesi Utara, dan Letjen TNI (Purn) TB Simatupang dari Sumatra Utara.

Hartono menjelaskan, ketiga tokoh tersebut ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional dari delapan usulan calon pahlawan.

Radjiman Wedyodiningrat, kelahiran Yogyakarta 21 April 1879, adalah salah satu tokoh pendiri Republik Indonesia. Ia merupakan ketua Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Sedangkan, Lambertus Nicodemus (LN) Palar adalah tokoh yang lahir di Rurukan Tomohon, Sulut, pada 5 Juni 1900. Ia menjabat sebagai wakil RI dalam beberapa posisi diplomatik di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Sementara, TB Simatupang lahir di Sidikalang, Sumut, pada 28 Januari 1920. Dia adalah tokoh militer Indonesia yang kini namanya diabadikan sebagai salah satu nama jalan besar di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.

Setelah pensiun pada 1959 dia aktif di Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI), Dewan Gereja-gereja se-Asia, hingga Dewan Gereja-gereja se-Dunia.

Hingga saat ini, pemerintah sudah menetapkan 156 pahlawan nasional, 32 di antaranya dari kalangan TNI dan Polri.

Kepada setiap Pahlawan Nasional, pemerintah memberikan tunjangan sebesar Rp 1,5 juta tiap bulan dan bantuan kesehatan Rp 3 juta setiap tahun bagi ahli waris.

Theodora dan Didimus

Theodora adalah seorang gadis cantik, anggota jemaat yang saleh di Antiokhia. Ia ditangkap dan diadili oleh gubernur Antiokhia. Theodora diperintahkan oleh gubernur agar mempersembahkan kurban kepada dewa- dewa Roma dan Kaisar, tetapi ia menolak dengan tegas. Karena penolakannya, ia mendapat hukuman cambuk, lalu dipenjarakan di ruang bawah tanah.

Theodora mempunyai seorang tunangan bernama Didimus., yang juga seorang Kristen. Karena cintanya yang besar kepada Theodora, Dididmus menyamar menjadi tentara Romawi untuk menemui kekasihnya di ruang bawah tanah. Didimus membujuk Theodora untuk menyangkal Kristus. Sementara ia berbincang- bincang dengan Theodora, penjaga pintu datang.

Singkat cerita, mereka berdua kembali dipaksa untuk menyangkal Kristus dan mempersembahkan kurban kepada Dewa- dewa Romawi dan Kaisar. Tetapi mereka tetap mempertahankan keyakinan mereka. Akhirnya, mereka berdua dihukum mati dengan cara dipenggal kemudian mayatnya dibakar.

Sebelum mereka dipenggal, Didimus sempat mempengaruhi Theodora utnuk menyangkal Kristus. Namun, keputusan Theodora sudah bulat. Keyakinan Theodora itulah yang menyebabkan Didimus ikut mengambil keputusan yang sama, yaitu tetap mengikut Kristus.

Yustinus Martir

Flavius Yustinus (juga disebut Yustinus dari Kaisarea atau Yustinus sang filsuf, 103-165) adalah salah seorang penulis Kristen paling terkenal lewat karyanya Liber Apologeticus - “Apologi Pertama”. Pada akhir hayatnya ia menjadi martir sehingga namanya disebut sebagai Yustinus Martir. 

Sejak awal, gereja berperan di dua dunia yang berbeda, dunia orang Yahudi dan dunia non-Yahudi. Kisah Para Rasul menggambarkan lambannya dan kadang-kadang sakitnya perkembangan kekristenan di kalangan orang-orang bukan Yahudi. Petrus dan Stefanus mengadakan pekabaran Injil kepada orang-orang Yahudi, sedangkan Paulus kepada filsuf-filsuf Athena dan para penguasa Romawi.
Dalam banyak hal, kehidupan Yustinus mirip dengan kehidupan Paulus. Rasul ini adalah orang Yahudi yang lahir di daerah bukan Yahudi (Tarsus), sedangkan Yustinus adalah orang bukan Yahudi yang lahir di daerah Yahudi (Sikhem kuno).

Keduanya terpelajar dan tangguh berargumentasi untuk meyakinkan orang-orang Yahudi dan bukan Yahudi akan kebenaran Kristus. Keduanya mati syahid di Roma karena keyakinan mereka.

Menjelang pertengahan abad kedua, di bawah pemerintahan yang adil oleh para kaisar seperti Trajanus, Antoninus Pius dan Marcus Aurelius, gereja mulai membuka diri pada dunia luar untuk meyakinkan keberadaannya. Yustinus menjadi salah seorang apologist (orang yang mempertahankan pendiriannya dalam argumentasi) Kristen pertama, yang menjelaskan imannya sebagai sistem yang masuk akal. Bersama-sama penulis lain, seperti Origenes dan Tertulianus, ia menafsirkan kekristenan dalam istilah-istilah yang mudah dikenal orang-orang Yunani dan Romawi terpelajar pada masa itu.

Karya tulis Yustinus, “Apologi Pertama”, ditujukan pada Kaisar Antoninus Pius (dalam bahasa Yunani berjudul Apologia, yaitu suatu kata yang mengacu pada logika yang menjadi dasar kepercayaan seseorang).

Seperti Paulus, Yustinus tidak meninggalkan orang-orang Yahudi ketika ia berpaling kepada orang-orang Yunani. Dalam karya besar Yustinus lainnya, “Dialog dengan Tryfo”, ia menulis kepada seorang Yahudi kenalannya, bahwa Kristus adalah penggenapan tradisi Ibrani.

Di samping menulis, Yustinus mengadakan perjalanan yang cukup jauh. Dalam perjalanannya ia selalu berargumentasi tentang iman yang diyakininya. Di Efesus, ia bertemu dengan Tryfo. Di Roma, ia bertemu Marcion, pemimpin Gnostik. Pada suatu perjalanannya ke Roma, ia pernah bersikap tidak ramah terhadap seseorang yang bernama Crescens, seorang Cynic. Ketika Yustinus kembali ke Roma pada tahun 165, Crescens mengadukannya kepada penguasa atas tuduhan memfitnah. Yustinus pun ditangkap, disiksa dan akhirnya dipenggal kepalanya bersama-sama enam orang percaya lainnya.

Ia pernah menulis, “Anda dapat membunuh kami, tetapi sesungguhnya tidak dapat mencelakakan kami.” Keyakinan ini ia pegang sampai mati. Dengan demikian ia telah meraih nama yang disandangnya sepanjang masa: Yustinus Martir.

Kisah Para Martir

Santa Rufina dan Secunda

Rufina dan adiknya Secunda adalah anak-anak dari seorang Senator Romawi. Mereka dibunuh secara kejam kira-kira pada tahun 257, selama masa penganiayaan orang-orang Kristen oleh Kaisar Valerianus (253-260). Menurut tradisi, Rufina dan Secunda bertunangan dengan dua orang pemuda beragama Kristen. Rufina bertunangan dengan Armentarius dan Secunda dengan Verinus. Selama masa penganiayaan, kedua lelaki Kristen itu dengan semangat menyebarkan agama Kristen. Rufina dan Secunda sebaliknya enggan melakukan hal itu. Kedua bersaudara itu pergi ke Roma dan di sana mereka ditangkap dan dipenjarakan. Tak satu siksaan pun mampu mematahkan ketetapan hati dan keteguhan iman mereka. Karena itu akhirnya mereka dibunuh. Jenazah mereka dimakamkan di basilika Santo Yohanes Lateran, Gereja Katedral kota Roma.

Santa Veronika Yuliani

Veronika lahir pada tahun 1660. Ia kemudian menjadi suster dan membimbing para novis ordo Kapusin di Italia. Ia dikarunia berbagai rahmat istimewa seperti penglihatan-penglihatan, kemampuan bernubuat dan stigmata Yesus. Ia meninggal pada tahun 1727.

Santo Erik IX

Erik adalah Raja Swedia yang beragama Katolik. Ia menduduki tahkta kerajaan pada tahun 1150 dan berjasa menyusun undang-undang Nasional Swedia. Pada masa kekuasaannya, ia menaklukkan negeri Finlandia dan memberi wewenang penuh kepada Santo Henry, Uskup Uppsala untuk menobatkan bangsa Finlandia yang masih kafir.

Karena dukungan dalam usaha penyebaran iman Katolik, ia dimusuhi oleh banyak bangsawan Swedia. Kemudian atas hasutan Danes, bangsawan-bangsawan itu bersekongkol untuk menjatuhkan dia dari tahkta kekuasaannya, bahkan melenyapkan nyawanya. Dalam suatu pertempuran di dekat Uppsala, mereka berhasil membunuh Erik. 

Sejak lahirnya reformasi Protestan, Erik dihormati sebagai pelindung bangsa Swedia, walaupun ia tidak pernah secara resmi dikanonisasikan sebagai orang kudus. Jenazahnya dikebumikan di Gereja Katedral Uppsala. Peristiwa pembunuhan atas dirinya terjadi pada tanggal 18 Mei 1161.

Santo Kanut IV

Raja Denmark ini memerintah dari tahun 1080 sampai tahun 1086. Tanggal dan tempat kelahirannya tidak diketahui pasti. Beliau adalah cucu raja Kanut Agung yang memerintah Inggris sekaligus Denmark pada awal abad kesebelas. Kanut dibunuh oleh para pemberontak di pulau Funen (sekarang Fyn) pada tanggal 10 Juli 1086 karena tegas-tegas berusaha memperbaharui hidup Gereja.

Pada masa kekuasaannya, ia melanjutkan karya kakaknya Harold yang digantinya dengan menghadiahkan berbagai pemberian kepada Gereja dan mewajibkan rakyatnya memberikan derma kepada Gereja. Ia juga memberikan berbagai hak istimewa kepada para rohaniwan-rohaniwati. Pada tahun 1085, ia merencanakan penyerangan ke Inggris untuk menguasai Inggris, sebagaimana dahulu dilakukan oleh moyangnya Kanut Agung. Rencana ini digagalkan oleh pengkhianatan saudara Olaf. 

Setahun kemudian, Olaf memimpin suatu pemberontakan rakyat melawan kebijaksanaan Kanut. Kanut melarikan diri ke Funen dan bersama para pengikutnya berlindung di dalam Gereja Santo Albanus di kota Odense. Kanut dibunuh ketika sedang berdoa di muka altar gereja itu. Laporan-laporan tentang mukzijat-mukzijat yang terjadi di kuburannya di kirim ke Roma oleh salah seorang saudaranya. Pada tahun 1100, Paus Paskalis II (1099-1118) membenarkan mukzijat-mukzijat itu. 

Santo Olaf II

Olaf, raja Norway dihormati oleh orang-orang Norwegia sebagai pelindung mereka dan sebagai promotor kemerdekaan bangsa Norwegia. Ia bertobat dan dipermandikan pada tahun 1010. Tatkala ia menjadi raja pada tahun 1015, ia mengusir pergi orang Danes dan Swedia yang menguasai Norwegia pada masa itu. Ia membantu menyebarluaskan agama Kristen di seluruh negeri secara politis. Ia menempatkan orang-orang dari keluarga terhormat pada jabatan-jabatan tinggi. Kebijakan ini mengakibatkan amarah dari pihak bangsawan-bangsawan Norwegia. Tetapi hal itu bisa diatasinya dengan baik. 

Kira-kira pada tahun 1028, banyak bangsawan menggabungkan diri dengan raja Kanut dari Denmark dan Inggris dan berhasil menjatuhkan Olaf. Olaf meninggal dalam pertempuran di Stiklestad dalam suatu usaha untuk memenangkan kembali tahkta kerajaan.

Polikarpus


Karena orang-orang Kristen menolak menyembah kaisar dan dewa-dewa Romawi, tetapi memuja Kristus secara sembunyi-sembunyi di rumah masing-masing, mereka dianggap orang kafir. Orang-orang Smyrna memburu orang-orang Kristen dengan pekikan, “Enyahkan orang-orang kafir.”

Polikarpus, uskup yang disegani di kota itu, diburu oleh prajurit Smyrna. Para prajurit itu sudah mengirim orang-orang Kristen lainnya untuk dibunuh di arena, kini mereka menghendaki sang pemimpin. Polikarpus telah meninggalkan kota itu dan bersembunyi di sebuah ladang milik teman-temannya. Bila pasukan mulai menyergap, ia pun melarikan diri ke ladang lain. Meskipun hamba Tuhan ini tidak takut mati, dan memilih berdiam di kota, teman-temannya mendorongnya bersembunyi. Mungkin karena mereka takut kalau-kalau kematiannya akan memengaruhi ketegaran gereja.

Ketika polisi mendatangi ladang pertama, mereka menyiksa seorang budak untuk mencari tahu tentang Polikarpus. Kemudian mereka menyerbu dengan senjata lengkap untuk menangkap uskup itu. Meskipun ada kesempatan lari, Polikarpus memilih tinggal di tempat, dengan tekad, “Kehendak Allah pasti terjadi.” Di luar dugaan, ia menerima mereka seperti tamu, memberi mereka makan dan meminta izin selama satu jam untuk berdoa. Ia berdoa dua jam lamanya.

Beberapa penangkap merasa sedih menangkap orang tua yang hegitu baik. Dalam perjalanannya kembali ke Smyrna, kepala prajurit yang memimpin pasukan itu berkata, “Apa salahnya menyebut Tuhan Kaisar dan mempersembahkan bakaran kemenyan?”

Dengan tenang Polikarpus mengatakan bahwa ia tidak akan melakukannya.

Gubernur Romawi yang mengadilinya berusaha mencarikan jalan keluar untuk membebaskan uskup tua itu. “Hormatilah usiamu, Pak Tua,” seru gubernur Romawi itu. “Bersumpahlah demi berkat Kaisar. Ubahlah pendirianmu serta berserulah, ”Enyahkan orang-orang kafir!” 

Sebenarnya, gubernur Romawi itu ingin Polikarpus menyelamatkan dirinya sendiri dengan melepaskan dirinya dari orang-orang Kristen yang dianggap “kafir” itu. Namun, Polikarpus hanya memandang kerumunan orang yang sedang mencemohkannya. Sambil mengisyaratkan ke arah mereka, ia berseru, “Enyahkan orang-orang kafir!”

Gubernur Romawi itu berusaha lagi: “Angkatlah sumpah dan saya akan membebaskanmu. Hujatlah Kristus!”

Polikarpus pun berdiri dengan tegar. Ia mengatakan kalimat terakhirnya yang terkenal, ”Selama delapan puluh enam tahun aku telah mengabdi kepada Kristus dan Ia tidak pernah menyakitiku. Bagaimana aku dapat mencaci Raja [Kristus] yang telah menyelamatkanku?”

Pertukaran pendapat antara sang uskup dan gubernur Romawi berlanjut. Pada suatu saat, Polikarpus menghardik lawan bicaranya: “Jika kamu... berpura-pura tidak mengenal saya, dengarlah baik-baik: Saya adalah seorang Kristen. Jika Anda ingin mengetahui ajaran Kristen, luangkanlah satu hari khusus untuk mendengarkan saya.”

Gubernur Romawi itu pun mengancam akan melemparkan dia ke binatang-binatang buas. “Panggil binatang-binatang itu!” seru Polikarpus. “Jika hal itu akan mengubah keadaan buruk menjadi baik, tetapi bukan keadaan yang lebih baik menjadi lebih buruk.”

Ketika ia diancam akan dibakar, Polikarpus menjawab, “Apimu akan membakar hanya satu jam lamanya, kemudian akan padam, namun api penghakiman yang akan datang adalah abadi.”

Akhirnya Polikarpus dinyatakan sebagai orang yang tidak akan menarik kembali pernyataan-pernyataannya. Rakyat Smyrna pun berteriak: “Inilah guru dari Asia, bapa orang-orang Kristen, pemusnah dewa-dewa kita, yang mengajar orang-orang untuk tidak menyembah (dewa-dewa) dan mempersembahkan korban sembelihan.”

Gubernur Romawi menitahkan agar ia dibakar hidup-hidup. la diikat pada sebuah tiang dan dibakar. Namun, menurut seorang saksi mata, badannya tidak termakan api. “la berada di tengah, tidak seperti daging yang terbakar, tetapi seperti roti di tempat pemanggangan, atau seperti emas atau perak dimurnikan di atas tungku perapian. Kami mencium aroma yang harus, seperti wangi kemenyan atau rempah mahal.” Ketika seorang algojo menikamnya, darah yang mengalir memadamkan api itu.

Kisah ini tersebar ke jemaat-jemaat di seluruh kekaisaran. Gereja menyimpan laporan-laporan semacam itu dan mulai memperingati hari-hari kelahiran serta kematian para martir. Bahkan mereka juga mengumpulkan tulang-tulangnya serta peninggalan lainnya.

Tanggal kematian Polikarpus diperdebatkan. Eusebius mencatat kematiannya pada masa pemerintahan Marcus Aurelius, 166–167 Masehi. Namun, sebuah catatan yang ditambahkan setelah masa Eusebius menuliskan kematian Polikarpus pada Sabtu, 23 Februari pada masa pemerintahan konsul Statius Quadratus yang berkuasa pada 155 atau 156 Masehi. Tanggal yang ditulis sebelumnya lebih cocok kepada tradisi yang memberitahukan hubungan Polikarpus dengan Ignatius dan Yohanes Sang Penginjil. Setiap tanggal 23 Februari, diperingati hari “kelahiran Polikarpus” masuk ke surga.

Martir Pater Ivan Ziatyk


Meskipun mengalami siksaan yang kejam, Pater Ivan tidak mengkhianati imannya dan tidak tunduk kepada rezim ateis.

Karena budinya yang luhur, terutama daya tahan, keberanian, dan kesetiaannya kepada Gereja Kristus selama masa penganiayaan, Pater Ziatyk diakui sebagai martir pada 6 April 2001.

Pada 23 April 2001, kemartirannya diverifikasi, dan pada 24 April 2001, Paus Yohanes Paulus II menandatangani keputusan Beatifikasi Pater Ivan Ziatyk, martir iman Kristen.

Ivan Ziatyk lahir pada 26 Desember 1899 di Desa Odrekhova, 20 kilometer sebelah barat daya Sanok (sekarang termasuk wilayah Polandia). Ayahnya bernama Stefanus dan ibunya bernama Maria.Stefanus dan Maria bekerja sebagai petani.Penghasilan mereka tidak cukup untuk kebutuhan hidup sehari-hari.Ketika Ivan berusia 14 tahun, ayahnya meninggal dunia.Ivan dibesarkan oleh ibu dan kakaknya Mykhailo, yang menggantikan ayahnya sebagai tulang punggung keluarga.

Ivan Ziatyk adalah anak yang tenang dan penurut.Ia mengenyam pendidikan dasar di desanya. Ia telah menunjukkan bakat dan kemampuan yang besar di bidang intelektual, serta kesalehannya. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, Ivan melanjutkan ke pendidikan menengah di Sanok. Tahun 1911-1919, ia belajar di sana. Kinerjanya baik dan perilakunya sangat terpuji.

Pada 1919, Ivan masuk Seminari Katolik di Przemysl, Ukraina. Pada 30 Juni 1923, ia dinyatakan lulus dengan pujian dari seminari tersebut. Setelah menyelesaikan studi teologi, Ivan Ziatyk ditahbiskan menjadi imam.

Sejak 1925-1935, Pater Ivan Ziatyk bekerja sebagai Pamong Seminari Katolik Ukraina di Przhemysl, tempat ia juga pernah menjadi seminaris. Di seminari itu, ia mengajar teologi dogmatik dan katekese. Selain itu, ia juga menjadi pembimbing rohani para seminaris. Pater Ivan juga melakukan tugas sebagai pembimbing rohani dan guru katekese di Ukraina Girls’ Gimnasium di Przemysl.

Pater Ivan Ziatyk adalah teladan kebaikan, ketaatan, dan kedalaman spiritual. Ia selalu membuat kesan yang mendalam bagi orang-orang di sekitarnya.

Pada 15 Juli 1935, Pater Ivan memutuskan bergabung dalam Kongregasi Redemptoris (CSsR). Masa Novisiat ia jalani di Holosko (dekat Lviv) sampai 1936. Usai mengikrarkan kaul pertama dalam Kongregasi Redemptoris, ia diutus ke Biara Bunda Maria Selalu Menolong di Stanislaviv, meski hanya sebentar.

Pada musim gugur 1937, Pater Ziatyk dipindahkan ke Biara Redemptoris di Jalan Zyblykevycha (sekarang, Ivana Franka) Lviv, sebagai ekonom komunitas dan menggantikan tugas superior jika berhalangan.

Pada 1934, di Holosko didirikan Seminari Redemptoris. Pater Ivan bergabung dengan fakultas tersebut sebagai dosen Kitab Suci dan teologi dogmatik. Kurun 1941-1946, Pater Ziatyk menjabat Rektor Seminari Maria Bunda Selalu Menolong di Zboiska.

Berakhirnya Perang Dunia II merupakan awal dari periode yang mengerikan dalam sejarah Ukraina, Gereja Katolik-Yunani, dan Kongregasi Redemptoris di Propinsi Lviv. Pada musim semi 1946, polisi rahasia Uni Soviet menahan semua uskup Katolik-Yunani. Semua biarawan Redemptoris (CSsR) dari Ternopil, Lviv, Zboiska, dan Stanislavis dikumpulkan di Holosko. Mereka ditempatkan di sebuah ruang yang tidak memiliki pemanas dan selama dua tahun dalam pengawasan yang ketat dan tetap dari polisi rahasia. Mereka diperiksa tiga sampai empat kali dalam seminggu. Para biarawan itu sering diambil dan diinterogasi dalam rencana untuk mengajak mereka mengkhianati iman dan panggilannya.

Pada 17 Oktober 1948, para Redemptoris yang tinggal di Holosko diangkut dengan truk dan dibawa ke Biara Univ. Sedangkan Provinsial Redemptoris, Pater Joseph De Vocht, diasingkan ke Belgia. Sebelum ia dipindahkan, tugasnya sebagai Provinsial dan Vikaris Jenderal Gereja Katolik-Yunani, Ukraina diserahkan kepada Pater Ivan Ziatyk. Hal ini menyebabkan Pater Ivan mendapat perhatian khusus dari polisi rahasia. Pada 5 Januari 1950, sebuah keputusan untuk menangkap Pater Ivan dibuat. Surat perintah penangkapannya dikeluarkan pada 20 Januari. Setelah diinterogasi, pada 4 Februari 1950, Pater Ivan mendapat tuduhan sebagai anggota Redemptoris yang sejak 1936 mempromosikan ide-ide dari Paus di Roma untuk menyebarkan iman Katolik di seluruh dunia dan menjadikan mereka umat Katolik.

Penyelidikan terhadap kasus Pater Ivan Ziatyk berlangsung selama dua tahun. Selama itu, Pater Ivan menghabiskan waktunya di Lviv dan penjara Zolochiv. Antara 4 Juli 1950 sampai 16 Agustus 1951, ia diinterogasi sebanyak 38 kali.

Pater Ivan tidak mengkhianati imannya dan tidak tunduk kepada rezim ateis. Putusan mengenai kasus Pater Ivan diumumkan pada 21 November 1951 di Keiv. Dia dihukum 10 tahun penjara dengan tuduhan bekerjasama dengan organisasi Nasionalis anti-Soviet dan mendukung propaganda anti-Soviet. Ia dipenjara di Lager Ozernyi dekat Kota Bratsk di wilayah Irkutsk.

Pater Ivan mengalami berbagai macam penganiayaan dan penyiksaan yang mengerikan selama masa tahanannya. Ada kesaksian, pada Jumat Agung 1952, Pater Ivan dipukul dengan tongkat, direndam dalam air, dan dibiarkan di luar rumah pada musim salju di Siberia. Tiga hari kemudian ia meninggal dunia di rumah sakit penjara akibat pemukulan dan suhu dingin. Ia dimakamkan di daerah Taishet, dekat Irkutsk pada 17 Mei 1952.

Kemartiran Marinus


Marinus adalah seorang tentara Romawi. Marinus adalah seorang tentara yang cakap. Oleh Karena itu, ia dengan mudah mendapatkan jabatan penting dalam ketentaraan Roma. Menurut kebiasaan yang berlaku, seharusnya Marinus haruslah bukan seorang Kristen. Menurut Hukum Romawi kuno, seorang Kristen dilarang menduduki jabatan tertinggi dalam pemerintahan.

Marinus dilaporkan bahwa dia adalah seorang Kristen. Oleh karena itu, Arkheus, hakim di Kaisarea, memanggil Marinus untuk meneliti kebenaran laporan tersebut. Di depan hakim, Marinus berterus terang menagku bahwa dia adalah seorang Kristen. Arkheus membujuk Marinus agar dia mau menyangkal imannya supaya ia tetap menduduki jabatan tersebut. Jika tidak, ia akan dibunuh.

Pada saat itu, Marinus menghadapi dilema; pada satu sisi ia berharap dapat menduduki jabatan itu, namun pada sisi lain ia harus menyangkal Kristus, yang mengakibatkan ia kehilangan kehidupan kekal yang dianugerahkan Kristus. Akhirnya, Marinus memilih untuk tetap mempertahankan imannya, dan Arkheus mengeluarkan perintah untuk menghukum mati Marinus dengan cara dipancung.

Kemartiran David Barret

David Barrett dalam statistik World Christian Encyclopedia yang dicetak oleh percetakan Oxford University melaporkan 45 juta orang Kristen mati martir sepanjang abad ke 20 ini.Dan Voice of the Martyrs pada video presentasinya memperkirakan 450 orang Kristen perhari atau 162,000 pertahun dianiaya di seluruh dunia (negara Islam, Komunis termasuk negara Indonesia)

Perhatian: Martir atau Martyr (English) bersumber dari kata Yunani yang berarti ”saksi” Martir dalam iman Kristen artinya seorang yang dipanggil untuk bersaksi tentang kepercayaannya dan karena kesaksiannya ini ia menderita dan mati, dengan kata lain seorang martir Kristen adalah seorang beriman yang mati diadili karena mempertahankan imannya. Hal ini tidak sama dengan ”mati sahid”dalam ajaran Islam. Sahid (bahasa Arab) artinya juga “saksi”, namun maknanya berbeda: Dalam Islam seorang dikatakan mati sahid lebih dari sekedar mempertahankan imannya, yaitu mati di dalam berjihad,mati berperang atau berjuang demi Allah dan dan nabi Muhammad untuk perkembangan Islam.

Nubuatan Yeshua tentang “pedang” akan mengikuti orang-orang yang beriman kepada ajaran Alkitab telah terbukti dan tergenapi. 10 tahun terakhir ini India yang mayoritas penduduknya beragama Hindu juga telah mengirim “pedang” kepada orang-orang Kristen di India.Anda bertanya, mengapa banyak aliran agama dan ajaran komunis membenci Kekristenan atau iman Kristen yang bersumber dari Yeshua ini?

Yeshua menjawab pertanyaan Anda di atas. ”Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya.Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. “ (Injil Yohanes 15:19)

Yeshua adalah Kebenaran (Injil Yohanes 14:6) dan Bumi ini telah direbut oleh Iblis dari tangan manusia, yang dipercayakan YAHWEH untuk merawat Bumi ini (Kejadian 1:26-28). Itulah juga sebabnya waktu Yeshua berumur dua tahun, raja Herodes, penguasa kerajaan Romawi untuk Israel dan Samaria, memerintahkan tentara-nya untuk membunuh semua bayi di Berlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun kebawah (Injil Matius 2:16). Herodes tidak ingin ada Juru Selamat datang membebaskan umat Israel dan penduduk dunia ini.

Iblis dan malaikat-malaikat hitamnya tidak senang kebenaran dinyatakan kepada penduduk Bumi ini, itulah sebabnya penguasa-penguasa alam roh ini memakai siapa saja yang dapat mereka tipu untuk menghentikan pekerjaan pemberitaan Kabar Kesukaan yang diajari oleh Yeshua dan para pengikut-Nya: yaitu bahwa keselamatan hanya melalui iman kepada Yeshua Ha Mashiah saja, seperti tertulis:Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Elohim yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Elohim, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: ”Orang benar akan hidup oleh iman.” (Roma 1:16-17)

Jadi jelas apa yang dimaksud oleh Yeshua bahwa ”Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.” (Injil Matius 10:34), Injil Lukas menulis ayat sama sebagai berikut: Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. (Injil Lukas 12:51)

Pedang atau pertentangan terjadi oleh karena pemimpin-pemimpin dunia ini yang cinta kegelapan dan kejahatan tidak ingin perbuatan jahat mereka dibongkar.

Itulah sebabnya mengapa penterjemah-penterjemah Alkitab dianiaya dan dibakar hidup-hidup oleh pemimpin Gereja Roma Katolik, dan setelah diterjemahkan Alkitab dilarang dibaca oleh masyarakat di beberapa negara Europa dahulu kala. Dan untuk kita ingat sampai sekarang Alkitab adalah satu-satunya buku yang dilarang dimiliki di negara-negara Islam dan Komunis!!

Menarik untuk diingat bahwa bab terakhir pada kitab terakhir dari Alkitab tertulis: ”Lalu Ia berkata kepadaku: “Perkataan-perkataan ini tepat dan benar, dan YAHWEH, Elohim yang memberi roh kepada para nabi, telah mengutus malaikat-Nya untuk menunjukkan kepada hamba-hamba-Nya apa yang harus segera terjadi.” ”Sesungguhnya Aku datang segera.Berbahagialah orang yang menuruti perkataan-perkataan nubuat kitab ini!” (Wahyu 22:6-7)

Kemartiran Antonie dan Ida


Tana Toraja bertahun-tahun lamanya dahulu adalah sebuah wilayah yang banyak dari para penduduknya masih menganut animisme.Berbagai ritual yang tidak sesuai dengan Alkitab kerap mereka praktikkan.Namun di tengah keadaan suram tersebut, datanglah seorang pendeta dari Belanda bernama Antonie Aris van de Loosdrecht. Bersama sang istri, Alida van de Loosdrect, mereka melakukan pelayanan kepada masyarakat sekitar.

Namun, Pendeta Anton dan Ida yang menikah pada 7 Agustus 1913 di Belanda itu tidak langsung mengunjungi Tana Toraja, melainkan mereka tinggal selama beberapa waktu di desa Tentena, Poso. Adapun alasan keduanya melakukan itu karena mereka menyadari mereka perlu mempelajari bahasa penduduk setempat agar bisa berkomunikasi. Dibantu oleh penerjemah Alkitab N. Adriani, pasangan suami-istri ini pun akhirnya mampu melancarkan bahasa Toraja.

Setelah sukses belajar bahasa, Anton dan Ida kemudian pergi ke Tana Toraja. Adapun lokasi yang mereka jadikan sebagai daerah tempat tinggal adalah Rentepao. Di sana keduanya mendapat sambutan yang hangat baik dari penduduk biasa maupun para kepala suku dan juga para parenge” atau para imam.

Awal pekerjaan Anton di wilayah Tana Toraja adalah mendirikan sekolah. Anton menganggap pendidikan merupakan yang paling dibutuhkan oleh orang-orang dimana ia dan istrinya kini berada. Untuk mewujudkan itu, ia dari lewat subuh hingga tengah malam, banting tulang mencari cara membangun tempat pendidikan belajar yang layak.

Usahanya pun kemudian berhasil. Sejumlah anak di Rentepao bahkan berhasil dibawanya untuk dibekali ilmu pengetahuan. Seiring dengan bidang pendidikan berhasil dijalankan, pemberian tindakan medis juga sukses ia dan istrinya bangun. 

Meski kedua bidang itu menunjukkan hasil positif, tetapi sampai beberapa waktu lamanya ternyata belum ada satu pun yang bisa mereka bawa kepada Kristus. Memang salah satu yang membuat mereka sulit untuk memuridkan penduduk lokal disana adalah karena mereka sangat mementingkan kualitas iman yang dari pemahaman benar akan iman Kristen.

Anton dan Ida akan menolak membaptis seseorang yang kurang jika ia tidak ikut pelajaran Katekisasi dulu. Meski sepertinya kaku, tetapi pada akhirnya ada empat pemuda yang bisa mereka muridkan. Perlahan tapi pasti murid yang dihasilkan dari pelayanan suami-istri ini pun bertambah dan bertambah jumlahnya. 

26 Juli 1917 adalah tanggal dimana sebuah hal yang tidak terduga terjadi. Saat Anton sedang berbincang-bincang mengenai rencana penerjemahan cerita-cerita alkitab ke dalam bahasa Toraja dengan seorang guru di Bori”, tiba-tiba pria asal Belanda tersebut diserang oleh seseorang yang telah melumuri diri dengan arang. Sebuah tombak pun tertancap di jantungnya.

Begitu sukses menghujamkan senjata tajam tersebut, sang pembunuh melarikan diri. Guru yang alami ketakutan itu kemudian bersiap-siap berangkat ke kediaman sang misionaris di Rentepoa. Namun, hal itu dicegah.

Dalam keadaan tubuh penuh darah, Anton berkata kepada guru sekolah yang bersamanya tersebut, “Tidak usah! Sebentar lagi saya akan mati, sampaikan salam saya kepada Istri yang sangat saya cintai dan juga anak-anak saya, sekarang tinggalkan saya sendiri, saya ingin berdoa”. Dalam keadaan berdoa inilah Anton meninggal dunia.

Sampai dengan kini, Pendeta Antonie Aris van de Loosdrech dikenang sebagai Martir untuk Tana Toraja.

Tana Toraja, sebagaimana yang kita ketahui, merupakan salah satu daerah di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Kristen



St. Paulus Miki dan Para Martir Nagasaki

St. Paulus Miki

Mari kita berkenalan dengan tokoh-tokoh utama dalam drama penyaliban ini. Tokoh yang menjatuhkan hukuman mati kepada ke-26 martir tersebut ialah Toyotomi Hideyoshi, yang lebih dikenal dengan nama Taikosama, seorang penguasa Jepang yang tinggal di Benteng Osaka. Pelaksana hukuman mati ialah Terazawa Hazaburo, saudara Gubernur Nagasaki. Sebagai tokoh utama adalah ke-26 martir yang dijatuhi hukuman mati. Ikut serta mengiringi mereka ialah para misionaris Yesuit dari Nagasaki, para pelaut Spanyol, para pedagang dari Macao, para prajurit serta para algojo.

Terazawa dan kerumunan orang banyak sudah menunggu ke-26 orang yang dijatuhi hukuman mati tersebut di Bukit Nishizaka -sekarang lebih dikenal dengan sebutan Bukit Kudus atau Bukit Para Martir. Suatu tugas yang amat berat bagi Terazawa. Seorang dari para tawanan, Paulus Miki, adalah sahabat karibnya; ia sering mendengarkan khotbahnya. Para tawanan itu tidak melakukan kejahatan apapun dan Terazawa tahu itu. Oleh karenanya, Terazawa memperkenankan sedikit kelonggaran, misalnya mengijinkan dua orang imam Yesuit - P. Pasio dan P. Rodriguez - untuk mendampingi para martir menjelang ajal mereka.

Jam setengah sebelas rombongan para martir tiba. Di barisan depan tampak para pengawal membuka jalan melalui khalayak ramai yang telah menunggu. Dibelakang mereka, berjalan para martir. Mereka tampak amat letih. Tenaga mereka telah terkuras habis oleh tiga puluh hari perjalanan yang meletihkan dari Urakami ke Nagasaki 600 mil (±966 km). Tangan mereka terikat erat, kaki mereka, yang bersusah-payah berjalan di atas timbunan salju, meninggalkan tetesan-tetesan darah di sepanjang jalan. Daun telinga kiri mereka telah dipotong sebulan yang lalu sebelum mereka meninggalkan Kyoto. Badan mereka memar dan penuh luka karena sepanjang perjalanan mereka disiksa dan dengan demikian dijadikan contoh pelajaran bagi warga lainnya. Sungguh suatu Jalan Salib yang amat berat dan panjang.

Ketika rombongan martir tiba di atas bukit, 26 kayu salib sudah siap tergeletak di tanah menanti mereka. Panjangnya rata-rata lebih dari dua meter, dua balok yang saling menyilang dengan sebuah pasak dimana para korban dapat duduk mengangkang.

P. Ganzalo, yang pertama tiba, langsung menghampiri salah satu salib tersebut: “Inikah untukku?” tanyanya. Ia berlutut dan memeluk salibnya. Para martir yang lain ikut melakukan hal yang sama. Kemudian, satu per satu, para martir diikatkan pada kayu salib. Tidak ada paku. Kaki dan tangan serta leher mereka dibelenggu pada tiang salib dengan gelang besi. Sebuah tali diikatkan melingkar pada pinggang mereka agar mereka terikat erat pada salib. Bagi P. Petrus Bautista, gelang besi tidak cukup kuat. “Paku saja, saudaraku,” pintanya kepada seorang algojo sembari merentangkan tangannya. 

Ternyata cukup sulit mengikatkan Paulus Miki pada kayu salib. Calon imam Jepang itu terlalu pendek dan kakinya tidak mencapai gelang besi. Seorang algojo mengikatkan tubuh Paulus Miki pada salib dengan lilitan kain linen. Ketika algojo menginjak-injak tubuhnya untuk mempererat lilitan kain, seorang misionaris tidak dapat menahan diri. “Biarkan ia melakukan tugasnya, Romo,” kata Paulus Miki, “percayalah, tidak terlalu sakit.” 

Ketika semua martir telah terikat pada kayu salib, keduapuluh enam salib tersebut secara serempak diberdirikan dan dengan sebuah hentakan keras salib-salib tersebut ditancapkan ke tanah. Para martir merasakan sakit yang amat hebat di sekujur tubuh mereka akibat hentakan tersebut. Kemudian para martir bersatu dalam suatu paduan suara puji-pujian dimana doa, harapan, iman dan kemenangan yang telah menanti bercampur menjadi satu.

Yohanes dari Goto pagi itu baru saja mengucapkan sumpah pertamanya sebagai seorang Yesuit. Remaja berumur 19 tahun itu telah siap untuk mempersembahkan kepada Tuhan hidup yang tanpa cela, hati yang belia, yang penuh harapan dan semangat sukacita. Ketika Yohanes mendekati salibnya, seorang misionaris berusaha menguatkan hatinya. Surga sudah hampir berada di tangan. “Jangan khawatir, Romo,” jawab Yohanes dengan tersenyum, “saya sadar akan hal itu.”

Di sebelahnya, disalibkan Louis Ibaraki, berumur 12 tahun. Ketika seseorang menyebutkan kata ‘surga’ kepadanya, remaja itu meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari belenggunya, seolah-olah hendak terbang ke angkasa. Suara soprannya terdengar sayup-sayup ditelan keributan massa: “Surga, surga…Yesus, Maria!”

Alasan hukuman mati bagi para martir ditancapkan pada ujung sebuah tombak. Paulus Miki dapat membacanya dari salibnya: “Karena orang-orang ini berasal dari Filipina dengan menyamar sebagai duta besar dan tinggal di Miyako, menyebarkan agama Kristen, yang selama bertahun-tahun ini saya larang dengan keras, saya sampai pada keputusan untuk menghukum mati mereka, bersama dengan orang-orang Jepang yang telah menerima agama tersebut.”

Paulus meluruskan tubuhnya yang tergantung di kayu salib, memandang ke arah orang banyak dan berseru dengan suara nyaring: “Kalian semua yang berada di sini, dengarkanlah saya.”

Keheningan segera meliputi seluruh bukit: “Saya tidak datang dari Filipina, saya ini seorang Jepang asli, seorang saudara dari Serikat Yesus. Saya tidak melakukan kejahatan apapun, dan satu-satunya alasan mengapa saya dijatuhi hukuman mati ialah bahwa saya telah mewartakan ajaran Tuhan kita Yesus Kristus. Saya sungguh merasa bahagia diperkenankan meninggal oleh karena alasan tersebut, kematian saya merupakan suatu anugerah besar dari Tuhan. Pada saat yang genting ini, saat dimana kalian bisa percaya bahwa saya tidak akan menipu kalian, saya ingin menekankan dan menyatakan dengan gamblang bahwa tidak ada seorang pun beroleh keselamatan jika tidak melalui ajaran Kristen.” 

Paulus juga melihat Terazawa dan para algojo. Bagi mereka, ia juga menyampaikan pesannya yang terakhir: “Agama Kristen mengajarkan agar kita mengampuni musuh-musuh kita dan semua orang yang bersalah kepada kita. Oleh karena itu saya hendak mengatakan bahwa saya mengampuni Taikosama. Saya mendambakan semua orang Jepang menjadi Kristen.” 

Kemudian Paulus Miki mengarahkan jiwanya ke surga: “Tuhan ke dalam tangan-Mu aku menyerahkan jiwaku. Datanglah menyambutku, ya Para Kudus Allah…”

St. Martin menyanyikan madah “Kemuliaan” dan “O, pujilah Tuhan, ya segala bangsa…”. Fr. Gonzalo mendaraskan Bapa Kami. Para martir yang lain memadahkan nyanyian serta puji-pujian. Kemudian di seluruh bukit, termasuk orang banyak yang menonton, dengan penuh semangat menggemakan: Yesus, Maria….Yesus, Maria.”

Tetapi tidak semua. Seorang martir, Fr Filipus dari Yesus, tidak bisa ikut menyanyi. Pasaknya di kayu salib terlalu rendah; dan seluruh tubuhnya bergantung pada gelang besi di lehernya, mencekiknya hingga sulit bernapas. Dengan sisa-sisa kekuatannya, Fr Filipus menyerukan nama Yesus tiga kali. Terazawa melihatnya sekarat dan tidak ingin melihatnya menderita lebih lama lagi. Ia memberi perintah dan dua algojo mengakhiri penderitaan martir Meksiko tersebut dengan sebilah tombak. Pada saat yang sama ibunya di Meksiko sedang mempersiapkan perlengkapan jubahnya untuk Misanya yang pertama. Pohon ara di rumah orangtuanya tiba-tiba bersemi dengan daun-daun baru.

Kematian Fr Filipus menjadi tanda dimulainya pelaksanaan hukuman mati. Empat orang algojo segera bersiap-siap. Tombak mereka panjang dengan pisau yang menyerupai pedang, tersembunyi di balik sarung pedang mereka. Setelah mengambil posisi, para algojo membuka sarung pedangnya. Dengan tikaman di dada, jiwa-jiwa para martir dihantar ke surga.

Ketika tiba giliran P. Blanco, sambaran tombak menyebabkan tangannya lolos dari belenggu gelang besi. P. Blanco berusaha keras kembali ke posisi semula agar ia pun dapat mati disalib seperti Yesus Kristus. Ketika P. Martin ditikam dengan tombak, mata tombaknya terlepas dan tertancap di dadanya. Algojo naik ke atas salib, merogoh lukanya dan mencabut mata tombak dari dadanya. P. Martin tetap tenang dan tak bergeming, tabah menunggu tikaman berikutnya.

Martir yang paling akhir wafat ialah P. Bautista. Sepanjang pelaksanaan hukuman salib, ia nyaris tak bergerak, tenggelam dalam doa dan ekstasi. Sekarang, ketika para algojo dan tombak yang berlumuran darah itu berada di hadapannya, ia menggerakkan bibirnya untuk mengucapkan doanya yang terakhir: “Tuhan, ke dalam tangan-Mu kuserahkan jiwaku.” Kemudian ia tidak bergerak lagi, bahkan ketika tombak menghujam di dadanya. Darah mengalir dengan deras tetapi ia tampak seperti masih hidup. Sempat tersiar kabar bahwa ia tidak wafat disalib. Beberapa hari sesudah hukuman mati itu, beberapa orang melihat tubuhnya bergerak-gerak, sebagian lagi bahkan melihatnya mempersembahkan Misa di RS St. Lazarus! (Jenasah para martir dibiarkan tergantung pada kayu salib hingga beberapa minggu kemudian).

Orang-orang Kristen Portugis dan Jepang yang hadir dalam pelaksanaan hukuman mati tersebut tidak dapat menahan diri lagi. Mereka menerobos para pengawal, maju mendekati salib dan membasahi sobekan-sobekan kain dengan darah para martir serta mengumpulkan bongkahan-bongkahan tanah yang telah disucikan oleh darah mereka. Mereka bahkan menyobek jubah dan kimono para martir untuk dijadikan reliqui. Para pengawal memukuli mereka dan mengusir mereka pergi. Darah orang banyak yang mengalir kemudian bercampur dengan darah para martir. Terazawa menempatkan para pengawal di seluruh bukit dan mengeluarkan larangan keras bagi siapa saja untuk tidak mendekati salib. Setelah menyelesaikan tugasnya, Terazawa meninggalkan bukit. Orang banyak yang hadir melihat bahwa seorang prajurit yang tegar seperti Terazawa itu menangis.

Sinar matahari sore menyinari bukit di mana ke-26 martir masih tergantung di kayu salibnya masing-masing. Mereka seperti sedang tertidur, beristirahat setelah perjalanan yang panjang dan melelahkan. Ke-26 martir itu sesuai dengan urutan salibnya ialah:
  • St. Fransiskus, seorang tukang kayu dari Kyoto, seorang yang teguh dan setia. Ia memaksa mengikuti para martir hingga ia sendiri akhirnya ditangkap dan boleh bergabung dengan rombongan para martir. 
  • St. Cosmas Takeya, seorang pembuat pedang dari Owari. Ia dibaptis oleh Serikat Yesus dan bekerja sebagai seorang katekis bersama Ordo Fransiskan (OFM) di Osaka.
  • St. Petrus Sukejiro, seorang pemuda dari Kyoto yang dikirim oleh P. Organtino untuk mendampingi para martir dalam perjalanan mereka ke Nagasaki. Pengabdiannya yang besar pada tugasnya menghasilkan rahmat baginya untuk bergabung dalam bilangan para martir.
  • St. Mikael Kozaki, berusia 46 thun, berasal dari Ise, seorang pembuat busur. Dengan keahliannya sebagai tukang kayu, ia ikut serta membangun biara-biara serta gereja-gereja OFM di Kyoto dan Osaka. Ia mempercayakan miliknya yang paling berharga kepada para biarawan OFM, yaitu anaknya, Thomas.
  • St. Yakobus Kisai, berusia 64 tahun, seorang Serikat Yesus awam. Devosinya kepada Sengsara Kristus amat mendalam. Dikenal sebagai seorang yang lemah lembut dan hatinya penuh kedamaian. Ia berasal dari Okayama dan bertugas mengurus para tamu yang berkunjung ke kediaman Serikat Yesus.
  • St. Paulus Miki, berusia 30 tahun, berasal dari Tsunokuni, putera seorang perwira yang gagah berani bernama Miki Handayu. Rasa syukurnya atas panggilannya untuk mewartakan Injil melebihi apapun juga. Sebentar lagi tiba saatnya bagi Paulus Miki untuk ditahbiskan sebagai seorang imam. Seorang pengkhotbah terbaik di daerahnya. Ia baru diam ketika algojo menghujamkan tombak ke dadanya. 
  • St. Paulus Ibaraki, berasal dari Owari dari sebuah keluarga samurai. Ia bersama keluarganya tinggal dekat biara OFM. Hidup miskin tetapi banyak membantu orang-orang lain yang lebih miskin darinya. Ia juga seorang pengkhotbah. 
  • St. Yohanes dari Goto, pemuda berusia 19 tahun dari pulau Goto ini penuh dengan sukacita. Ia melayani Tuhan sepanjang hidupnya. Ia bersekolah di sekolah Serikat Yesus untuk menjadi seorang Katekis dan membantu para misionaris dengan keahliannya melukis dan bermain musik. Ia ditempatkan di Osaka di bawah bimbingan P. Morejon sampai Tuhan menawarkan mahkota kemartiran kepadanya.
  • St. Louis Ibaraki, berusia 12 tahun, yang termuda dari rombongan para martir. Ia dilahirkan di Owari, keponakan St. Paulus Ibaraki dan St. Leo Karasumaru. Anak yang menyenangkan dan disayangi semua orang. Ia tetap menyanyi dan tertawa ketika serdadu memotong telinga kirinya. Sepanjang perjalanan yang jauh ke Nagasaki dan selama tergantung di atas kayu salib, ia membuktikan ketabahan dan kebesaran hatinya. Ia menolak mentah-mentah ketika dibujuk untuk mengingkari imannya. “Ada Louis kecil bersama kita,” tulis P. Fransiskus Blanco di malam menjelang hukuman mati, “dan ia begitu penuh keberaninan dan semangat yang mengharukan semua orang.”
  • St. Antonius, berusia 13 tahun, dilahirkan di Nagasaki. Ayahnya seorang Cina dan ibunya seorang Jepang. Remaja yang polos ini belajar di biara OFM di Osaka. Hal yang amat memilukan hatinya ialah ketika melihat ibunya menangis tidak jauh dari salibnya. Ajal menjemput ketika ia memadahkan lagu-lagu pujian.
  • St. Petrus Baptista, berusia 50 tahun, berasal dari San Esteblan del Valle (Avila, Spanyol). Pemimpin Misi OFM (Saudara-saudara Dina) di Jepang, dulunya seorang duta besar dari Spanyol. Ia merupakan ayah bagi kaum lepra dan pemimpin rombongan martir. Hidupnya penuh dengan kebajikan dan kekudusan.
  • St. Martin dari Kenaikan (Yesus ke surga), berusia 30 tahun, berasal dari Guipuzcoa, Spanyol. Kesucian hatinya sungguh mengagumkan. Biasa menghabiskan waktu malamnya dengan doa.
  • St. Filipus dari Yesus, seorang Meksiko berusia 24 tahun. Hidupnya penuh dengan tantangan yang membingungkan, adu kekuatan antara Kristus dan Filipus, tidak satupun dari mereka yang mau kalah. Pada akhirnya Kristus menjadi pemenang dan sekarang Filipus penuh dengan semangat untuk menebus masa-masa dimana ia menjadi anak yang hilang: ia yang wafat pertama sebagai martir.
  • St. Gonzalo Garcia, berusia 40 tahun, berasal dari Bazain, India. Ayahnya seorang Portugis dan ibunya seorang India. Seorang katekis bersama Serikat Yesus. Ia masuk OFM awam, dan menjadi tangan kanan St. Petrus Baptist. Masyarakat India mengangkatnya menjadi santo pelindung Bombay.
  • St. Fransiskus Blanco, berasal dari Monterrey (Galacia, Spanyol). Datang ke Jepang bersama dengan St. Martin dari Kenaikan. Seorang yang pendiam, lembut dan genius.
  • St. Fransiskus Dari St Mikael, berusia 53 tahun, berasal dari La Parrilla (Valladolid, Spanyol). Seorang awam ordo OFM.
  • St. Matias, kita tidak mengetahui latar belakangnya. Para prajurit mencari Matias lain yang tidak dapat diketemukan, atau ia menawarkan diri untuk menggantikan Matias yang dicari. Para prajurit dengan senang hati menerima dia. Tuhan juga menerimanya juga.
  • St. Leo Karasumaru, berasal dari Owari, adik dari St. Paulus Ibaraki. Hidupnya merupakan teladan. Memberikan sumbangan besar kepada OFM dalam membangun gereja dan mengelola rumah sakit. Seorang katekis yang penuh semangat dan doa.
  • St. Bonaventura, dibaptis ketika masih bayi, tak lama kemudian ibunya meninggal. Ibu tirinya mengirim Bonaventura ke biara Budha. Suatu hari ia mengetahui perihal pembaptisannya dan mengunjungi Biara OFM di Kyoto untuk mendapatkan lebih banyak keterangan. Di biara, ia mendapatkan kedamaian hati. Sepanjang perjalanannya menuju hukuman mati, ia berdoa bagi iman ayahnya dan pertobatan ibu tirinya.
  • St. Tomas kozaki, berusia 14 tahun, berasal dari Ise. Seorang anak desa yang tingkah lakunya kasar, tetapi hatinya mulia. Ia membantu ayahnya yang bekerja sebagai tukang kayu. Ia tinggal di biara OFM. Seorang yang jujur, tegas, dan memiliki semangat pengabdian yang tinggi dalam melayani Tuhan. Surat perpisahannya kepada ibunya menjadi reliqui yang amat berharga.
  • St. Yoakim sakakibara, berusia 40 tahun, berasal dari Osaka. Ketika sedang sakit keras, seorang katekis membaptisnya. Sebagai rasa terima kasih, St. Yoakim membantu pendirian biara OFM di Osaka dan kemudian tinggal di sana sebagai juru masak. Ia unggul dalam kebaikan hati dan kesediaannya untuk melayani. 
  • St. Fransiskus, berusia 48 tahun, berasal dari Kyoto. Seorang dokter dan pengkhotbah yang penuh semangat. Setelah ia dan isterinya dibaptis, mereka tinggal di dekat biara OFM. Mereka merawat orang-orang sakit tanpa memungut bayaran dan membawa mereka kepada Kristus.
  • St. Tomas dangi, seorang penjual obat, wataknya keras. Dengan rahmat Tuhan ia berkembang menjadi seorang katekis yang lembut hati. Ia mendirikan tokonya di sebelah biara OFM, dan sementara ia menjual obat, ia juga menunjukkan kepada para pelanggannya jalan menuju surga.
  • St. Yohanes Kinuya, berusia 28 tahun, berasal dari Kyoto. Seorang penenun dan pedagang kain sutera. Ia memindahkan tokonya dekat biara OFM. 
  • St. Gabriel, berusia 19 tahun, berasal dari Ise. Dibaptis dan dibimbing oleh Fr. Gonzalo. Ia maju pesat dalam iman. Gabriel bekerja sebagai seorang katekis.
  • St. Paulus Suzuki, berusia 49 tahun, berasal dari Owari. Ia unggul dalam semagat pewartaan, salah seorang katekis terbaik yang membantu OFM. Ia diserahi tugas mengelola Rumah Sakit St Yusuf di Kyoto.
Banyak yang percaya bahwa itulah saat akhir kehidupan Kristiani di Jepang. Bagaimana pun juga, semua orang melihat apa yang telah terjadi. Ketika para misionaris kembali ke Jepang sekitar tahun 1860-an, pada awalnya mereka tidak menemukan tanda-tanda kehidupan Kristiani di sana. Baru setelah mereka menetap di sana, mereka menemukan beberapa orang Kristen. Kemudian, mereka menemukan ribuan orang Kristen di daerah sekitar Nagasaki. Mereka ini memelihara imannya secara sembunyi-sembunyi.

Kedua puluh enam martir Jepang ini dibeatifikasi pada tahun 1627, dan diangkat sebagai santo oleh Paus Pius IX pada tahun 1862. Pestanya dirayakan setiap tanggal 6 Februari.

Richardus Kardis Sandjaja


Martir adalah seorang yang berani berjuang hingga mati demi membela iman dan kepercayaannya terhadap Tuhan Yesus Kristus. Adalah Richardus Kardis Sandjaja, Pr (1914-1948) yang menjadi martir pertama di Indonesia.

Sandjaja dilahirkan di desa Sedan, Muntilan, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia, pada tanggal 20 Mei 1914. Ayahnya bernama Willem Kromosendjojo, bekerja sebagai pembantu perawat di sebuah klinik Katolik yang dipimpin oleh missionaris Yesuit di Muntilan. Ibunya bernama Richarda Kasijah, dari keluarga katolik yang baik. Sandjaja mempunyai dua kakak perempuan dan seorang kakak laki-laki. Salah satu dari kakak perempuannya menjadi suster Fransiskan. 

Sejak masa kanak-kanak Sandjaja sangat terkenal disekolahnya karena kepandaiannya. Dia masuk di SD Katholik yang dipimpin oleh para Bruder. Karena kecerdasannya, maka tidak mengherankan bahwa beliau lebih suka belajar dari pada bermain dalam hari-hari senggangnya. Beliau seorang yang berkepribadian sederhana, rendah hati, jujur dan terbuka terhadap satu sama lain. Beliau sangat suka memperhatikan hidup doanya, rajin mengikuti misa harian di gereja, dan sering mengunjungi gua Maria di Desa Sendangsono, untuk berdoa dan berefleksi. Ketertarikannya untuk menjadi imam berkembang ketika beliau masih di SD. 

Beliau diterima di seminari setelah dia lulus dari SMA. Beliau hidup dalam kesucian yang luar biasa selama di seminari. Beliau ditahbiskan sebagai imam diosesan pada tanggal 13 Januari 1943 di Muntilan. Setelah pentahbisannya, beliau terpilih sebagai pastor paroki di Muntilan. Beliau mendapat banyak kesulitan karena situasi perang, namun demikian beliau sangat kuat dan percaya akan penyelenggaraan Ilahi, dan dengan alasan itulah beliau dapat menjalankan tugas-tugasnya dengan baik sebagai pastor paroki yang sangat bijaksana dan disukai oleh seluruh umat paroki Muntilan. Untuk beberapa kali bangunan Gereja dirusak oleh tentara perang yang tidak senang dengan karya missi. Walau begitu, beliau tetap tabah dan disemangati oleh umat parokinya untuk memperbaiki dan membangun kembali gereja mereka. Bagi umat parokinya, beliau selalu menunjukan kesederhanaannya, bijaksana dan memperhatikan sesama dalam seluruh hidupnya sebagai seorang pastor paroki. Meskipun banyak kesulitan, beliau dapat menjaga hubungan baik dengan pemerintah resmi. 

Selama penjajahan Jepang tahun 1942 - 1945, banyak gereja yang dirusak dan kekayaan mereka dirampas. Dalam situasi seperti itu, Sandjaja harus melarikan diri dan bersembunyi di desa-desa untuk keselamatan sampai keadaan membaik. Selanjutnya, beliau dapat kembali ke parokinya untuk membangun kembali gerejanya. Kemudian, beliau mendapat tugas baru untuk mengajar di Seminari Tinggi di Yogyakarta, dan untuk membantu paroki tetangga di Magelang. Pada tahun 1948 beliau terpilih sebagai guru dan Rektor di Seminari Menengah di Muntilan.

Beliau selalu menunjukkan sikap kesediaannya untuk membantu Gereja dimanapun dan bagaimanapun kondisinya, dan beliau melakukannya dengan baik.

Pada tanggal 20 Desember 1948, beliau menyelamatkan hidup teman imamnya dan seminaris dalam Seminarinya dengan menyerahkan dirinya kepada kelompok Muslim ekstrimis yang tidak menyukai umat Kristen dan para missionaris. Pemuda kauman Muntilan merampok dan membakar sebagian dari komplek persekolahan di Muntilan. Delapan pemuda itu yang belakangan diketahui berasal dari kelompok orang-orang Hisbullah itu menculik imam dan frater. Dia adalah Romo Sandjaja, Pr dan Frater Herman A. Bouwens, SJ.

Bersama seorang seminaris Yesuit dari Belanda itu mereka disiksa dengan kejam, lalu dibunuh secara keji oleh pembrontak Muslim di lapangan terbuka di daerah pinggiran Muntilan. Jenazahnya bergelimpangan di sawah antara desa Kembaran dan Patosan. Dengan cepat Bapak Willem dan anaknya, Yohanes Redja pergi ke tempat tersebut. Mereka menyaksikan jenazah Frater Bouwens telanjang bulat dan hidungnya disumbat dengan kayu runcing. Mukanya rusak berlumuran darah, sementara badannya biru memar bekas pukulan-pukulan hebat. Romo Sandjaja hanya mengenakan kaos dalam. Kedua kakinya dari bawah hingga ke atas penuh luka-luka kecil bekas tusukan upet (puntung api) Bahu dan badannya membiru bekas pukulan. Tengkuk dan dahinya berlubang tertembus peluru pistol. Sangat mengerikan! 

Berat sekali penganiayaan bengis yang dilakukan oleh gerombolan yang tidak bertanggung jawab terhadap pencinta Tuhan ini. Jenazah mereka disapu dengan handuk kemudian dikubur di situ juga. Makamnya tidak dalam. Pemakaman ini dilakukan sekedar untuk menghilangkan jejak saja. Dua rohaniwan itu menjadi korban fanatisme yang sempit. Jenazah keduanya lalu dimakamkan kembali secara besar-besaran pada tanggal 5 Agustus 1950 di Kerkhop Muntilan. Dengan khidmat peti-peti mayat diusung oleh pramuka dan anggota-anggota Angkatan Udara dan dimakamkan di tempat pendiri Gereja di antara orang Jawa, yaitu Romo van Lith yang sudah beristirahat sejak tahun 1926. 

Beliau menjadi salah satu martir pertama yang sangat terkenal di Pulau Jawa. Bagi kita, Sandjaja telah menjadi symbol ketabahan, kesucian, kesederhanaan, kesetiaan dan Kasih abadi Kristus Tuhan Kita.

Maria Goretti


Maria Goretti (lahir 16 Oktober 1890 – meninggal 6 Juli 1902 pada umur 11 tahun) merupakan seorang perawan-martir Italia yang berasal dari Gereja Katolik Roma yang merupakan salah satu dari orang-orang kudus termuda yang dikanonisasikan. Beliau telah menjadi martir setelah wafat karena beberapa luka tusukan yang ditimbulkan oleh seorang pemerkosa setelah ia menolak dia karena kasihnya kepada Yesus dan kesetiaannya kepada Sepuluh Perintah Allah.

Goretti lahir dengan nama Maria Teresa Goretti pada tanggal 16 Oktober 1890 di Corinaldo, Provinsi Ancona, Kerajaan Italia. Orang tuanya bernama Luigi Goretti dan Assunta Carlini hanya seorang petani kecil yang miskin. Ia anak ketiga dari enam bersaudara. Pada usia enam tahun, keluarganya melarat sehingga mereka dipaksa untuk menyerahkan pertanian mereka dan harus bekerja dengan petani lainnya. Tak lama kemudian, ayah Maria meninggal karena sakit ketika Maria baru berusia sembilan tahun Sehingga saudara-saudaranya dan ibunya bekerja di ladang, Maria akan memasak, menjahit, dan menjaga rumah agar tetap bersih. Itu merupakan jalan kehidupan yang amat keras namun membuat keluarga tersebut sangat dekat. Mereka berbagi kasih yang mendalam bagi Allah dan iman. Ia dan keluarganya lalu pindah ke Le Ferriere dekat Latina dan Nettuno di Lazio dimana mereka tinggal di sebuah gedung bernama “La Cascina Antica” dan berbagi bersama keluarga Serenellis. Waktu Maria Goretti berumur dua belas tahun, ia belajar utuk menyiapkan diri supaya dapat menerima Komuni Kudus. Dia rajin menyiapkan hatinya untuk menerima Tuhan Yesus dalam Komuni Kudus dengan hati yang murni dan tulus. Kepada ibunya, Maria Goretti yang masih kecil itu berkata: “Lebih baik mati seribu kali daripada berbuat dosa satu kali”.

Pada tanggal 5 Juli 1902, pada pagi hari ketika Maria sedang sendirian menjahit. Alexsandro Serenelli datang dan mengancam Maria dengan maut jika tidak melayani nafsu bejatnya. Maria tak mau dan memprotes bahwa yang ingin dia lakukan adalah dosa besar yang dapat membuatnya masuk neraka. Ia mati-matian berjuang untuk menghentikan niat Alessandro. Maria terus berteriak “Tidak! Ini adalah perbuatan dosa! Allah tidak menginginkannya!”. Maria Goretti berusaha sekuat-kuatnya melawan Alexsandro. Perlawanan ini membuat Alexsandro menjadi bermata gelap. Maka, dicabutnya sebuah pisau yang sudah disiapkan sebelumnya lalu menikam tubuh Maria Goretti sebanyak dua belas kali. Maria yang terluka mencoba untuk meraih pintu. Tetapi Alexsandro menghentikannya dengan menikamnya tiga kali lagi sebelum melarikan diri.

Sehingga membuat adik Maria bernama Teresa kemudian terbangun dan menangis. Ketika ayah Serenelli dan ibu Maria datang untuk memeriksa Teresa mereka menemukan almarhumah Maria dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Maria lalu menjalani operasi tanpa obat bius. Keesokan harinya tepatnya pada tanggal 6 Juli 1902, Maria Goretti menerima Komuni Kudus untuk pertama kalinya dalam keadaan sakit parah. Cita-cita Maria Goretti untuk menerima Komuni Kudus akhirnya tercapai. Ahrirnya setelah dua puluh jam setelah perlawanannya, Maria Goretti masih dapat berdoa untuk Alexsandro agar dia berada didekatnya di surga kelak. Maria kemudian wafat karena luka-lukanya sambil melihat gambar Bunda Maria yang amat indah.

Alexsandro kemudian ditangkap setelah tak lama setelah kematian Maria. Awalnya ia akan dihukum seumur hidup. Namun karena masih dibawah umur hukumannya diringankan menjadi 30 tahun penjara. Alexandro tetap tidak bertobat dan tidak komunikasi selama tiga tahun hingga uskup setempat bernama Monsignor Blandini Giovanni mengunjunginya di penjara. Serenelli menulis catatan terima kasih kepada Uskup meminta doa-doanya dan bercerita tentang sebuah mimpi dimana Maria Goretti memberinya bunga lili yang dibakarnya langsung di tangannya. 

Setelah dibebaskan, Alessandro Serenelli kemuadian mengunjungi ibu Maria yang ternyata masih hidup dan memohon maaf padanya. Dia mengatakan bahwa jika Maria sudah memaafkannya di ranjang kematiannya maka ia tidak bisa melakukannya lagi dan lalu mereka menghadiri misa bersama pada hari berikutnya serta menerima Komuni Kudus secara berdampingan. Dikabarkan bahwa Alexsandro selalu berdoa setiap hari untuk Maria Goretti yang kini ia juluki “santa kecilku”.

Alexsandro kemudian menjadi putra altar, tinggal di sebuah biara serta bekerja sebagai resepsionis dan tukang kebun sampai mati pada tahun 1970.

Sementara jenazah Maria Goretti hingga kini masih diistirahatkan di dalam gereja di kota Nettuno, Italia.

Maria Goretti yang bergelar kudus sebagai seorang santa sampai sekarang kita menghormati Santa Maria Gorreti setiap tanggal 6 Juli. Tanggal 6 Juli ini kemudian dimasukkan ke dalam Kalender Katolik Roma orang-orang kudus untuk pertama kalinya ketika direvisi pada tahun 1969. Banyak gadis remaja berdoa memohon kekuatan dari Tuhan untuk hidup murni melalui Santa Maria Goretti. Banyak mukjizat terjadi melalui doa-doa yang ditunjukan kepada Tuhan dengan perantaraan Santa Maria Goretti. Maria Goretti adalah santa pelindung kemurnian, korban pemerkosaan, pemudi, gadis remaja, kemiskinan, kemurnian dan pengampunan.

Karya dan Penganiayaan Terhadap Martin Luther (1517-1546)

Martin Luther, anak penambang Saxon, dilahirkan di Eisleben, Saxony, pada 10 November 1483. Luther muda belajar di Magdeburg dan Eisenach kemudian masuk Universitas Erfurt. Ketika ia lulus pad a 1505, ia mulai belajar hukum karena dorongan ayahnya, tetapi pada bulan Juli ia meninggalkan studi hukumnya, meninggalkan dunia, dan masuk biara Para Pertapa Augustinian di Erfurt. Ia mengatakan bahwa keputusannya yang tiba-tiba ini ia ambil setelah ia terperangkap dalam badai guntur dan terjatub ke tanah karena tersambar petir. Ketika ia terbaring di tanah dengan ketakutan, ia menyadari bahwa hidupnya yang sementara hanya sedikit nilainya, dan yang penting hanyalah kehidupan jiwa yang kekal.

Pada 1508, Luther ditahbiskan di biara, dan pada 1509, dikirim ke Universitas Wittenberg temp at ia me1anjutkan studinya dan mengajar filsafat moral. Pada 1510, Luther berkunjung ke Roma karena urusan ordonya dan kaget ketika melihat korupsi yang terbuka di antara para pejabat gereja yang terkemuka. Pada 1511, ia menerima gelar doktor teologi dan diangkat menjadi profesor Alkitab di Wittenberg.

Meskipun Luther sangat mengenal teologi skolastik Gereja Roma, keseriusannya dalam kekristenan dan kondisi jiwanya menuntunnya pada krisis pribadi yang parah. Dalam teologi yang diajarkan kepadanya, ia tidak bisa menemukan jawaban untuk pergumulannya yang makin meningkat ten tang apakah mungkin memperdamaikan tuntutan hukum Allah dengan ketidakmampuan manusia untuk menjalani hukum tersebut. Untuk menemukan jawabannya ia menjadikan studi Alkitab sebagai pusat pekerjaannya dan dalam studinya yang dipus atkan pada surat-surat Rasul Paulus, terutama surat Paulus kepada jemaat di Roma. Di sanalah ia menemukan jawabannya.

Dalam kematian Kristus di kayu salib, Allah telah memperdamaikan manusia dengan diri- Nya sendiri. Kristus sekarang merupakan satu-satunya perantara antara Allah dengan manusia, dan pengampunan dosa serta keselamatan dihasilkan melalui kasih karunia Allah semata yang diterima melalui iman. Oleh karena itu yang dibutuhkan bukanlah ketaatan seseorang yang ketat pada hukum atau pemenuhan kewajiban agama, melainkan respons iman untuk menerima hal yang telah dikerjakan Allah melalui karya Kristus yang sudah lengkap. Pada saat iman semacam itu matang, respons iman akan menuntun pada ketaatan yang tidak dida sarkan pada rasa takut akan hukuman, melainkan pada kasih

Pada saat Luther melanjutkan studinya, ia menyadari bahwa doktrin Paulus secara radikal berbeda dari keyakinan tradisional dan ajaran Gereja Roma. Hal ini memengaruhi pengajaran pribadi Luther, dan mereka secara bertahap segera berpaling dari keyakinan dan doktrin itu. Tidak lama sesudahnya ia sarna sekali menentang teologi skolastik Roma yang menekankan peran manusia untuk mendapatkan keselamatannya sendiri dan menentang banyak praktik gereja yang menekankan pembenaran melalui perbuatan baik. Pemahamannya yang baru ten tang Injil yang sejati dan karya Kristus yang sudah lengkap segera mengakibatkan konflik antara ia dengan pejabat gereja.

Pada 1517, Luther mengalami konfrontasi langsung pertama dengan gerejanya tentang penjualan surat pengampunan dosa. Untuk menggalang dana untuk membangun Basilika St. Petrus di Roma, Paus Leo X mulai menjual surat pengampunan dosa kepada penganut Gereja Roma. Surat itu menjanjikan pengurangan sebagian jumlah waktu yang harus diderita seseorang, entah pembeli surat pengampunan itu sendiri atau orang yang ia kasihi, di api penyucian atas dosa-dosa mereka. Segera setelah itu, imam yang cerdik melihat penjualan sur at pengampunan dosa sebagai cara mendapatkan uang untuk gereja lokal atau untuk diri mereka sendiri. Luther meman dang dirinya sebagai imam Roma yang baik, tetapi ia menolak praktik ini dengan keras karena hal ini tidak alkitabiah dan merendahkan kasih karunia- Nya yang memberikan pengampunan juga merendahkan penderitaan dan penyaliban Yesus Kristus

Luther dan Paus Leo segera bertikai atas hal ini, tetapi Paus Leo memandang keberatan Luther tidak berdampak apa-apa karena ia memandang rendah Luther. Jadi pada 31 Oktober 1517, Luther memakukan satu daftar berisi 95 dalil atau tesis di pintu utama gereja istana di Wittenberg. Isinya antara lain penyangkalan atas hak paus untuk mengampuni dosa dengan penjualan surat pengampunan dosa. Hampir seketika daftar tersebut beredar luas diJerman sehingga menyebabkan kontroversi besar. Di pihak gereja, biarawan, dan imam di seluruh wilayah itu mulai menyerang Luther dan ajarannya melalui khotbah dan tulisan mereka. Satu di antaranya berkata, “Luther adalah pengikut bidat dan pantas dihukum dengan api.” Ia kemudian membakar beberapa tulisan dan khotbah Luther sebagai simbol pembakaran Luther

Segera setelah itu, Maximian, kaisar Jerman, Charles V, kaisar Roma yang Kudus dan raja Spanyol sebagai Charles I, serta Paus, menghubungi Frederick III, Duke of Saxony dan meminta agar ia membungkam Luther. Frederick tidak bergerak segera, tetapi berkonsultasi dengan banyak orang yang berpendidikan tinggi tentang masalah itu, termasuk Erasmus. Erasmus menjawab Duke dengan mengatakan bahwa Luther melakukan dua kesalahan besar: ia menyentuh perut imam dan ia akan menyentuh mahkota paus. Yang lebih serius, teolog itu memberi tahu Duke bahwa Luther benar dalam keinginannya untuk memperbaiki kesalahan di gereja. Ia kemudian menambahkan peneguhannya ini: “Dampak doktrin Luther itu benar.

Belakangan pada tahun itu, Erasmus menulis surat kepada Uskup Agung Mentz. Dalam suratnya, ia menyatakan: “Dunia ini dibebani oleh institusi manusia dan dengan tirani biarawan yang senang menuntut. Dulu orang yang menentang Injil dipandang sebagai bidat. Namun, sekarang orang yang tidak seperti biarawan dianggap bidat dan apa pun yang tidak mereka pahami mereka anggap kesesatan. Mengetahui bahasa Yunani itu kebidatan, atau berbicara lebih baik daripada mereka,juga dianggap kebidatan.

Pada tanggal 7 Agustus 1518, Hierome, Uskup Ascoli, mengeluarkan surat kutipan yang meminta Luther untuk muncul di Roma. Duke Frederick dan Universitas Wittenberg mewakili Luther, menulis surat kepada Paus. Mereka menulis sur at yang sama kepada Carolus Miltitius, bendahara paus, orang percaya kelahiran Jerman yang mereka nilai cukup bersimpati pada Luther. Dalam surat-surat mereka, mereka meminta supaya Luther didengarkan oleh Kardinal Cajetan di Augsburg, bukan di Roma. Paus menjawab dengan memberi tahu Cajetan untuk memanggil Luther ke hadapannya di Augsburg dan segera membawanya ke Roma, jika perlu dengan paksa.

Pada Oktober 1518, Martin Luther pergi ke Augsburg sebagai respons terhadap perintah kardinal. Ia membawa beberapa surat penghargaan bersamanya. Ia menunggu di Augsburg selama tiga hari sampai ada jaminan keamanan yang ia peroleh dari Kaisar Maximillian. Luther kemudian muncul di depan Kardinal Cajetan, yang menuntut tiga hal kepadanya
1. Supaya ia bertobat dan menarik kembali kesalahannya;
2. Supaya ia tidak mengulang kembali kesalahannya itu;
3. Supaya ia menahan diri dari segala sesuatu yang mungkin menyebabkan kesulitan pada gereja.

Ketika Martin Luther bertanya kepada kardinal apakah kesalahannya yang spesifik, kardinal menunjukkan kepadanya salinan bulla Gereja Roma Paus Leo tentang surat pengampunan dosa dan pengampunan dosa yang dihasilkannya serta menyatakan bahwa iman tidak diperlukan untuk seseorang yang menerima sakramen serta paus tidak mungkin salah dalam semua masalah iman.

Dalam jawabannya secara tertulis, Luther berkata bahwa pausbisaberbuatsalah, dan hanya ditaati sejauh hal yang ia katakan sesuai dengan Alkitab, dan siapa pun orang Kristen yang setia memiliki hak untuk tidak setuju dengannya, terutama untuk menunjukkan kesalahan paus dari firman Allah. Ia juga menyatakan bahwa tidak ada seorang pun yang benar, dan manusia tidak bisa dibenarkan dengan melakukan perbuatan baik serta setiap orang yang menerima sakramen harus memiliki iman kepada karya Kristus yang sudah selesai. Dalam setiap hal, Luther mengutip ayat Alkitab yang sesuai untuk meneguhkan kata-katanya

Namun, kardinal tidak ingin mendengar ayat Alkitab dikutip untuknya dalam masalah ini. Ia mengabaikan argumen Luther yang Alkitabiah dan menjawab dengan doktrin intelektual dan tradisional dari kepalanya sendiri, bukan dari Alkitab. Ia kemudian menyuruh Luther pergi sampai ia siap untuk bertobat

Luther tinggal di Augsburg selama tiga hari kemudian mengirim surat kepada kardinal, yang memberitahukan kepadanya bahwa ia akan berdiam diri terhadap syarat, dan pengampunan yang ditawarkan kepadanya jika musuh-musuhnya melakukan hal yang sarna. Ia juga meminta agar semua masalah kontroversi tersebut dirujuk kepada paus untuk meminta keputusannya. Ia kemudian menunggu selama tiga hari lagi, tetapi ia tidak menerima jawaban dari kardinal. Oleh nasihat teman-temannya, ia meninggalkan Augsburg lalu kembali ke Wittenberg. Sebelum ia berangkat, ia mengirim penjelasan kepada kardinal, dan permohonan kepada Paus, yang ia taruh di temp at umum sebelum ia pergi.

Sebagai respons terhadap permohonan Luther kepadanya, Paus mengeluarkan keputusan baru. Ia menyatakan bahwa surat pengampunan dosa merupakan bagian dari doktrin “Induk Gereja Roma yang kudus, putra mahkota semua gereja” serta menyatakan bahwa paus adalah penerus Petrus, dan akibatnya, mereka adalah wakil Kristus. Ia menyatakan lebih lanjut bahwa mereka memiliki kuasa, dan otoritas untuk melepaskan seseorang dari dosa, dan melakukan pengampunan dosa, terutama untuk memberikan surat pengampunan dosa kepada orang yang masih hidup maupun sudah mati -yaitu orang-orang yang masih ada di api penyucian. Ia mengatakan bahwa doktrin ini harus diterima oleh semua pengikut Kristus yang setia, dan memperingatkan penganut Gereja Roma bahwa jika mereka tidak menerima, dan mempraktikkan doktrin ini, mereka akan mengalami penderitaan akibat kutukan yang dahsyat, termasuk perpisahan sama sekali dari gereja.

Luther menjawabnya dengan mengimbau diadakannya sidang umum Gereja Roma, dan memprotes surat keputusan Paus. Ketika Paus Leo X mengetahui keluhan Luther kepada sidang umum, ia mengutus bendaharanya, seorang kelahiran Jerman, Carolus Miltitius dengan mawar emas untuk diberikan kepada Duke Frederick. Miltitius juga membawa surat rahasia dari Paus untuk bangsawan lain di wilayah itu. Surat-surat itu menyatakan dukungan mereka terhadap kepentingan Paus, dan penolakan mereka terhadap dukungan Duke terhadap Luther

Namun, sebelum Miltitius sampai di Jerman, Kaisar Roma yang Kudus Maximillian I meninggal (Januari 1519). Dua pemimpin penting lainnya, segera bertikai untuk memperebutkan takhta yang kosong: Francis I, raja Prancis; dan Charles I, raja Spanyol. Pada akhir Agustus, Charles telah dipilih menjadi raja Jerman, dan sekaligus kaisar Roma yang Kudus, sebagai Charles V, menggantikan Maximillian, yang merupakan kakeknya dari pihak ayah.

Selama musim panas 1519, kontroversi tentang Luther dan ajarannya terus berlanjut. Debat publik secara formal berlangsung di Leipsic, sebuah kota dalam kekuasaan George, Duke of Saxon, paman Duke Frederick. Debat itu terjadi antara biarawan bernama John Eckius dan doktor dari Wittenberg bernama Andreas Carolostadt. Eckius te1ah menyerang ajaran tertentu yang diberikan Luther, terutama yang berkaitan dengan pengampunan dosa oleh paus. Pada sisi lainnya, Carolostadt membela Luther dengan kuat. Duke George menjanjikan keamanan kepada para peserta dan audiens mereka. Martin Luther memutuskan untuk hadir dalam acara debat itu, tetapi tidak ikut ambil bagian, melainkan sekadar mendengarkan hal yang dikatakan

Meskipun awalnya tidak mau ikut terlibat perdebatan, Luther akhirnya terpaksa berdebat dengan Eckius. Masalah khusus yang mereka bahas adalah otoritas paus. Luther mengambil posisi yang sudah dikenal tentang keputusan Paus. Ia menyatakan bahwa jika keputusan Paus tidak didukung oleh Alkitab, itu tidak sah.

Eckius mengambil posisi garis gereja tradisional dengan mengatakan bahwa paus merupakan penerus St. Petrus, oleh karena itu, mereka memiliki otoritas rohani sepenuhnya atas gereja sebab mereka adalah wakil Kristus di bumi. Ia dengan tegas menyatakan bahwa Uskup yang diberi otoritas Roma secara kokoh didasarkan pada hukum Allah

Debat berlanjut selama lima hari. Eckius seorang yang kasar, senang menentang, dan penuh tipu muslihat dalam pendekatannya. Ia ingin menyerahkan musuhnya ke dalam tangan paus. Ia menyatakan alasannya dengan cara berikut: “Seperti halnya gereja, sebagai satu tubuh sipil, tidak bisa ada tanpa kepala karena ia berdiri dengan hukum Allah, resimen sipillainnya seharusnya tidak melepaskan kepalanya; demikian juga hukum Allah mewajibkan agar paus menjadi kepala gereja Kristus secara universal.

Martin Luther menentang argumen ini dengan mengatakan bahwa gereja memiliki kepala - yaitu Yesus Kristus sendiri. Ia mengatakan bahwa Yesus adalah satu-satunya kepala gereja. Ia berkata, “Gereja tidak membutuhkan kepala yang lain karena gereja adalah lembaga rohani, bukan lembaga yang temporal.”

Kemudian Eckius mengutip kata-kata Yesus seperti tercatat dalam Injil Matius, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat- Ku.” (Matius 16:18)

Luther menjelaskan bahwa ayat ini merupakan pengakuan iman dan Petrus mewakili gereja universal, bukan hanya ia sendiri. Batu karang itu adalah Yesus Kristus dan firman-Nya, bukan Petrus

Dalam usaha mendapatkan ayat Alkitab lainnya untuk mendukung argumennya, Eckius mengutip kata-kata Yesus dalam Injil Yohanes, “Gembalakanlah domba-dombaKu.” (Yohanes 21: 16). Ia berkata bahwa kata-kata ini dikatakan Tuhan hanya kepada Petrus sendiri

Martin Luther menunjukkan bahwa setelah Yesus mengucapkan kata-kata ini kepada Petrus, otoritas yang sama diberikan kepada semua rasul dan Yesus memerintahkan kepada mereka untuk menerima Roh Kudus dan Sang Guru melanjutkan dengan berkata, “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni” (Yohanes 20:23)

Mencari sumber otoritas lainnya untuk meneguhkan posisinya, Eckius menunjukkan keputusan Konsili Constance. Ia mengutip keputusan mereka untuk berpaut pada paus, yang menurut konsili, adalah “kepala gereja tertinggi.” Ia berkata bahwa konsili umum tidak mungkin salah dalam masalah sepenting itu

Luther berkata bahwa keputusan tertentu dan otoritas Konsili Constance harus dihargai, tetapi hal-hal lain yang berkaitan dengan sidang masih harus dipertanyakan karena itu sekadar keputusan manusia. Ia berkata, “Ini merupakan hal yang paling pasti, bahwa tidak ada sidang yang memiliki kuasa untuk membuat artikel iman yang baru.

Laporan tentang debat ini, yang tidak menghasilkan kesimpulan khusus, beredar luas di seluruh Eropa. Eckius tetap yakin akan posisinya, sementara Luther berpegang erat pada keyakinannya tentang pembenaran oleh iman serta Alkitab merupakan peraturan iman dan praktik yang paling utama

Pada 1520, Luther menyelesaikan tiga bukunya, yang di dalamnya ia menyatakan pandangannya. Buku pertama berjudul Address to the Christian Nobility of the German Nation, ia mendorong pangeran di Jerman untuk mengambil reformasi gereja dalam tangan mereka sendiri. Buku kedua adalah A Prelude Concerning the Babylonian Captivity of the Church, dan di dalamnya ia menyerang Gereja Roma dan teologi sakramennya. Buku ketiga adalah On the Freedom of a Christian Man, di situ ia menjelaskan posisi pembenaran dan perbuatan baik. Biarawan dan doktor Louvian serta Cologne mengutuk buku-buku Luther sebagai bidat. Luther menjawab kutukan itu dengan menyerang imam yang terlibat itu keras kepala, kejam,jahat, dan tidak beriman. Pada tanggal 15 Juni 1520, Paus Leo X mengeluarkan bulla, Exsurge Domine, yang mernberikan kesempatan 60 hari kepada Luther untuk mencabut pandangannya, tetapi bulla itu tidak memberikan dampak apa-apa pada dirinya dan doktrinnya.

Dalam bukunya yang pertama kepada bangsawan Jerman, Luther menentang tiga premis paus, yaitu
1. Tidak ada hakim sementara atau non-religius yang memiliki kuasa atas kerohanian, tetapi orang-orang ini memiliki kuasa at as yang lainnya
2. Jika ada ayat Alkitab, yang diperdebatkan, yang harus diputuskan, tidak ada manusia yang menjelaskan Alkitab, atau menjadi hakim atasnya, tetapi hanya paus
3. Tidak ada seorang pun yang memiliki otoritas untuk mengadakan sidang kecuali paus

Ia juga membahas beberapa masalah lain dalam bukunya
1. Kesombongan Paus tidak boleh didiamkan
2 Terlalu banyak uang yang dikirimkan dari Jerman ke Paus
3. Imam-imam seharusnya diizinkan memiliki istri
4. Seharusnya tidak ada larangan untuk memakan daging
5. Kemiskinan yang disengaja seharusnya dihapuskan
6. Kaisar Sigismund seharusnya mendukung John Huss dan Jerome
7. Bidat seharusnya diyakinkan dengan firman Allah, bukan dengan api
8. Ajaran pertama untuk anak-anak harus difokuskan pada Injil Yesus Kristus; bukan pada tradisi Gereja Roma

Setelah Charles V dimahkotai menjadi raja Jerman, dan Kaisar Roma yang Kudus di Aix-la-Chapelle, Paus Leo mengutus dua kardinal kepada Duke Frederick. Misi mereka adalah untuk meyakinkan Duke untuk mengambil tindakan menentang Luther. Kedua kardinal itu pertama berusaha mendapatkan perkenan Duke dengan memuji kebangsawanan, kepemimpinan, garis keluarga, dan kebajikannya lainnya. Kemudian mereka mengajukan dua permintaan khusus demi nama Paus - yaitu untuk membakar semua buku Luther dan mengirim Luther ke Roma atau mengeksekusinya.

Duke menjawab mereka dengan berkata bahwa bendahara paus sendiri telah berkata bahwa Luther harus tetap berada di wilayahnya sehingga ia tidak bisa memengamhi Gereja Roma di negara lainnya. Ia kemudian meminta agar kedua kardinal itu memohon kepada Paus untuk memberikan izin agar teolog dan doktor yang terpelajar memeriksa tulisan-tulisan dan ajaran Luther untuk menentukan apakah ia seorang bidat. Jika ia memang terbukti bidat dan tidak mau mencabut pendapatnya, Duke tidak akan melindunginya lagi, tetapi sementara itu ia masih bertekad melindunginya

Sebelum kardinal itu kembali ke Roma, mereka mengumpulkan buku Luther sebanyak mungkin yang bisa mereka temukan dan membakarnya di muka umum. Ketika Luther mendengarnya, ia mengumpulkan banyak muridnya dan pengurus fakultas di Universitas Wittenberg lalu mengadakan pembakaran keputusan Paus dan bulla yang dikeluarkan untuk menentangnya di muka umum. Pembakaran dokumen ini terjadi pada 10 Desember 1520

Pada Januari 1521, Paus Leo X mengutuk Luther sebagai bidat dan mengeluarkan Bulla Pengucilan, Decet Romanum Pontificem, menentang Luther dan memerintahkan Kaisar Charles V untuk melaksanakannya. Namun, Kaisar justru memanggil “diet”, atau sidang, di Worms; dan pada April 1521, memanggil Luther untuk muncul di hadapannya

Audiensi pribadi dengan Kaisar dan beberapa bangsawan lainnya dijadwalkan di istana Earl Palatine. Luther secara diam-diam dikawal ke sana, tetapi kemunculannya di depan Kaisar tidak bisa dirahasiakan lagi. Orang banyak datang ke istana untuk melihat Luther yang misterius. Pengawal istana tidak mampu menahan mereka dan banyak orang memanjat balkon tempat mereka bisa melihat dan mendengar rapat tersebut. Suatu kali ketika Luther sedang berusaha berbicara, Ulrick dari Pappenheim memerintahkan kepadanya untuk diam sampai tiba waktunya ia diminta untuk berbicara

Wakil uskup dari Treves membuka sesi itu dengan berkata, “Martin Luther! Keagungan kerajaan yang kudus dan tak terkalahkan telah memerintahkan dengan persetujuan semua negara di kekaisaran yang kudus, agar kamu muncul di hadapan takhta kita yang agung untuk menjawab dua pertanyaan utama: Apakah kamu menulis buku yang kami tumpuk di depanmu? Maukah kamu mencabut dan menarik kembali buku-buku itu, atau apakah kamu akan bertahan dengan hal yang telah kamu tulis?” 
Luther menjawab, “Saya dengan rendah hati memohon kepada keagungan kekaisaran untuk memberikan kebebasan dan waktu luang untuk bermeditasi sehingga saya bisa menjawab interogasi yang dilakukan kepada saya tanpa melanggar firman Allah dan membahayakan jiwa saya sendiri.

Setelah para pangeran mendebatkan permintaannya, Eckius memberikan keputusan Kaisar: “Kaisar yang agung, semata-mata karena grasi yang ia berikan, memberikan waktu satu hari kepadamu untuk merenungkan jawabannya. Besok pada jam yang sama, kamu harus memberikan jawaban kepada kami, tidak secara tertulis, tetapi dengan suaramu sendiri.

Para bentara kemudian mengawal tokoh reformasi itu ke kamarnya, temp at Luther berdoa dan belajar untuk mengetahui kehendak Allah dengan pasti tentang jawaban yang harus ia berikan

Banyak orang berkumpul untuk mendengar jawaban Luther keesokan harinya. Eckius berkata kepada Luther, “Sekarang sesuai perintah Kaisar, berikan jawaban. Apa kah kamu akan tetap mempertahankan buku-buku yang telah kamu akui sebagai tulisanmu, atau kamu akan menarik kernbali sebagian dari buku-bukumu dan menyerahkan dirimu kepada penguasa yang ditunjuk Allah atasmu?” 
Martin Luther menjawab, “Mempertimbangkan fakta bahwa raja kita yang berdaulat dan hakim-hakim yang terhormat menghendaki jawaban yang jujur, saya mengatakan dan mengakui dengan ketetapan hati, sebulat mungkin, tanpa ragu-ragu [ketidakpastian] atau berbelit-belit [mungkin berarti argumen yang menyesatkan], bahwa jika tidak, saya tidak yakin terhadap kesaksian Alkitab sendiri - sebab saya tidak pereaya kepada paus, maupun sidang umumnya yang telah berbuat kesalahan berulang-ulang dan telah bertentangan dengan dirinya sendiri karena hati nurani saya sudah terikat dan ditawan oleh ayat-ayat Alkitab dan firman Allah maka saya tidak akan dan tidak mungkin menarik kembali sikap saya. Jika saya menentang hati nurani saya sendiri, itu akan merupakan hal yang tidak sah dan tidak saleh. Di sinilah saya berdiri dan beristirahat. Saya tidak memiliki sesuatu yang lain untuk dikatakan. Ya Allah, kasihani saya!

Setelah para pangeran bersidang lagi, Eekius berkata kepada Luther, “Kaisar yang agung menuntut jawaban yang sederhana darimu, entah negatif atau peneguhan, terhadap pertanyaan ini: Apakah kamu bermaksud mempertahankan semua hasil karyamu sebagai seorang Kristen?

Luther berpaling kepada Kaisar dan para bangsawan lalu memohon kepada me reka untuk menghormati hati nuraninya. Ia memohon dengan sangat kepada mereka untuk tidak memaksanya menentang hati nuraninya, yang ia katakan diteguhkan oleh Alkitab yang kudus. Ia menyimpulkan jawabannya dengan kata-kata langsung: “Saya terikat oleh Alkitab.

Ketika malam tiba, orang-orang yang terkemuka yang sedang bersidang tidak bisa mencapai kesimpulan akhir tentang Luther. Mereka meninggalkan rapat lalu menyuruh Luther digiring kembali ke kamarnya. Ketika kelompok itu bersidang lagi, surat dari Kaisar dibaeakan kepada sidang. Sesungguhnya, surat itu menyatakan bahwa sekalipun Luther bersalah karena tidak menyangkal posisinya, Kaisar akan menghormati janjinya untuk menjamin keamanannya. Oleh karena itu Luther boleh kembali ke rumahnya. Namun sebelum ia pergi, Luther diberi tahu bahwa ia harus kembali ke sidang Kaisar dalam waktu 21 hari

Kampanye menentang Luther yang gencar mulai berkobar pada saat itu. Plakat-plakat yang menentangnya ditempelkan di banyak tempat dan di seluruh kekaisaran. Nama Luther dibiearakan oleh semua orang - imam maupun orang awam. Selama penangguhan hukuman tiga minggu, Kaisar dan Paus berkolaborasi menyusun rencana; dan Kaisar mengarahkan agar surat perintah yang khidmat ten tang proses pencabutan perlindungan hukum dikeluarkan terhadap Luther dan semua orang yang memihak ia, di mana pun Luther ditemukan ia akan ditangkap, dan semua bukunya akan dirampas dan dibakar. Luther mengungsi di puri Wartburg, tempat ia tinggal di pengasingan selama 8 bulan. Selama waktu itu ia menerjernahkan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Jerman dan menulis sejumlah pamflet

Pada saat yang sama Raja Henry VIII dari Inggris menulis surat menentang Luther. Ia memarahi Luther atas sikapnya terhadap surat pengampunan paus dan ia membela supremasi Uskup Roma. Akibat dukungan Henry secara tertulis, Paus menghormati raja dengan memberikan kepadanya, dan para penerusnya gelar yang mulia, “Pembela iman.

Pada November 1521, Paus Leo X terserang demam dan meninggal pada 1 Desember. Ia berumur 47 tahun. Banyak orang curiga ia telah diracun, Penggantinya bernama Adrianus VI, seorang sarjana yang pernah menjadi kepala sekolah Kaisar Charles. Adrianus berasal dari Jerman yang dibesarkan di Louvain. Ia seorang yang berpendidikan tinggi dengan gaya hidup yang moderat dan lemah lembut, tidak seperti para pendahulunya.

Meskipun Adrianus adalah paus pertama yang memberi respons terhadap Reformasi Protestan dengan berusaha memperbarui Gereja Roma, ia masih memandang Luther sebagai musuh gereja dan paus. Tidak lama setelah penunjukan Adrianus sebagai paus, Kaisar mengadakan sidang lain negara-negara Jerman di Nuremberg pada 1522. Adrianus menulis surat kepada sidang, yang di dalamnya ia menyatakan pandangannya tentang Martin Luther. Bagan surat kirimannya sebagai berikut

Kami mendengar bahwa Martin Luther, pembangun kembali bidat lama yang sudah dikutuk, pertama sete1ah pengumuman bapa-bapa kerasulan; kemudian, sete1ah hukuman yang juga merupakan kutukan terhadap ia, dan terakhir, setelah keputusan putra kami terkasih, Charles V, kaisar terpilih Roma dan Raja Spanyol yang berafiliasi kepada Gereja Roma, yang te1ah diberitakan di se1uruh negara Jerman, tetapi ia be1um dibatasi sesuai perintah atau belum menahan diri sendiri dari kegilaannya, tetapi hari demi hari tidak pernah berhenti mengganggu dan memenuhi dunia dengan buku-buku baru, yang penuh dengan kesalahan, kesesatan, arogansi, dan hasutan, dan yang menulari negara Jerman, dan wilayah lain di sekitarnya dengan pes; dan masih terus berusaha merusak jiwa yang sederhana, dan tingkah laku manusia dengan racun dari lidahnya yang jahat secara moral. Dan yang paling buruk dari semuanya, ia memiliki pendukung bukan hanya dari rakyat jelata, melainkan juga beberapa bangsawan yang berbeda-beda yang juga mulai me1anggar hak-hak imam, berlawanan dengan ketaatan yang harus mereka berikan kepada rohaniwan, dan pejabat dunia, dan sekarang akhirnya juga telah berkembang menjadi perang sipil, dan perpecahan di antara mereka sendiri

Apakah kamu tidak mempertimbangkan, O pangeran, dan rakyat Jerman, bahwa ini barulah awal, dan permulaan kejahatan, dan kerusakan yang dirancang, dan dikehendaki oleh Luther dengan sekte Lutherannya? Apakah kamu tidak me1ihat dengan je1as, dan menangkap dengan matamu, bahwa pembe1aan kebenaran Injil, yang pertama dimulai oleh penganut Lutheran hanyalah kepura-puraan, dan sekarang telah nyata maksudnya untuk merusak hal-hal yang baik darimu, yang telah mereka inginkan sejak lama? Atau tidakkah menurutmu para pelanggar itu memiliki maksud lain, bahwa atas nama kebebasan untuk menggantikan ketaatan, yang dengan demikian membuka kebebasan umum bagi setiap orang untuk melakukan hal yang ia sukai

Orang yang menolak untuk memberikan ketaatan yang sepatutnya kepada imam-imam, uskup, dan Uskup Agung dari semua, yang setiap hari berada di depan wajahmu sendiri melakukan penjarahan terhadap harta benda gereja, dan benda-benda yang dipersembahkan kepada Allah, apakah kamu berpikir bahwa mereka akan menahan diri dari barang-barang rampasan dari jemaat? Menurut kamu apakah mereka tidak akan mengambil dari kamu segala sesuatu yang bisa diperoleh tangan mereka

Bencana yang menyedihkan akhirnya akan memiliki dampak pada dirimu, barang-barangmu, rumahmu, istrimu, anak -anakmu, kekuasaanmu, harta bendamu, dan bait suci [gereja] yang kamu kuduskan dan hormati, kecuali jika kamu melakukan pengobatan segera terhadap hal yang sama

Oleh karena itu, kami meminta kepadamu, demi ketaatan yang harus diberikan semua orang Kristen kepada Allah dan kepada St. Petrus serta kepada wakilnya di sini di bumi, agar kamu memberikan tangan pertolonganmu untuk memadamkan api publik ini serta berusaha mempelajari sebaik mungkin, bagaimana kamu bisa mengurangi pengaruh Martin Luther itu dan semua penipu lainnya yang melakukan gangguan dan kesalahan ini untuk membuat kesesuaian dan tukar-menukar yang lebih baik dalam hidup maupun iman. Dan jika mereka yang telah terinfeksi menolak untuk mendengar nasihatmu, buatlah ketetapan agar bagian yang masih sehat jangan dirusak oleh penyakit yang sama. Jika kebusukan moral yangjahat ini tidak bisa disembuhkan dengan obat-obat yang lunak dan lembut, obat penenang yang lebih keras harus diberikan dan dibakar dengan keras. Anggota yang sudah menjadi busuk harus dikerat dari tubuh sebab jika tidak, bagian yang sehat juga akan terinfeksi

Secara demikianlah Allah melemparkan saudara Datan dan Abiram yang menyebabkan perpecahan ke neraka; dan ia yang tidak taat kepada otoritas imam, Allah memerintahkan agar ia dihukum mati. Demikian juga, Petrus, yang terutama di antara rasul-rasul, menempelak Ananias dan Safira yang berbohong kepada Allah sehingga menyebabkan kematian mereka seketika. Demikian juga kaisar- kaisar kuno yang saleh memerintahkan jovinian dan Priscillian sebagai bidat yang harus dipenggal kepalanya

Sama halnya, St. Jerome berharap agar Vigilant, sebagai bidat, diserahkan tubuhnya untuk dihancurkan agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan. Demikian juga para pendahulu kita di Konsili Constance menghukum mati John Huss dan pengikutnya, Jerome; dan Huss sekarang tampaknya hidup kembali dalam diri Luther. Jika kamu mau meniru tindakan yang pantas dan teladan nenek moyangmu itu, kita tidak akan ragu-ragu, grasi Allah yang murah hati akan mendatangkan kelegaan bagi gerejanya.

Para raja di kekaisaran itu menjawab imbauan Paus untuk menghukum Luther dengan surat mereka sendiri. Inilah parafrase inti sari jawaban mereka: Kami memahami bahwa kekudusannya dirongrong dukacita yang besar berkaitan dengan Luther dan sektenya. Kami juga menyadari bahwa jiwa-jiwa yang dipengamhi olehnya berada dalam bahaya kebinasaan kekal. Kami ikut merasakan kedukaanmu

Banyak orang di Jerman berpaut pada pandangan yang sama dengan Luther, dan itulah sebabnya hukuman formal untuk Luther tidak bisa berlangsung. Hal ini akan menyebabkan kehebohan besar, bahkan mungkin perang, dalam wilayah kekaisaran

Jika keluhan di antara penduduk umum tidak direformasi, tidak ada harapan lagi bagi keharmonisan antara pihak sekuler dengan gereja dalam masalah ini

Oleh karena itu, kami merekomendasikan agar Paus, seizin Kaisar, mengadakan sidang Kristen di temp at yang nyaman diJerman sesegera mungkin. Dalam sidang ini orang-orang harus didorong untuk berbicara dengan bebas

Kami merekomendasikan agar Duke Frederick menjaga supaya Luther dan para pengikutnya tidak diperbolehkan menulis, memaparkan, atau mencetak segala sesuatu lainnya. Dan semua pengkhotbah di wilayah Duke dilarang untuk berkhotbah dengan pandangan Luther

Setiap imam yang tidak menaati petunjuk ini hams dihukum. Setiap buku baru harus diserahkan kepada otoritas gereja untuk disetujui sebelum dijual

Imam-imam yang menikah atau meninggalkan otoritas mereka harus dihukum oleh petugas gereja yang tetap

Segera setelah itu, satu pengikut Luther, Andreas Carolostadt dari Wittenberg, mendorong orang-orang untuk mengambil tindakan yang memprovokasi Paus dan wakil gereja lebih jauh. Di antara hal lainnya, Carolostadt mendorong orang-orang untuk membuang gambar dan patung di Gereja Roma. Pada bulan Maret 1522, Luther kembali ke Wittenberg untuk memulihkan tatanan terhadap ikonoklas yang terlalu antusias ini yang menghancurkan mezbah, patung, dan salib.

Karya reformasi Luther selama tahun-tahun berikutnya mencakup penulisan Katekismus Kecil dan Besar, buku-buku khotbah, lebih dari se1usin himne, lebih dari 100 jilid traktat, makalah, komentar Alkitab, ribuan surat, dan terjemahan seluruh Alkitab ke dalam bahasa Jerman.

Bersama Philipp Melanchthon dan orang lainnya, Luther mengorganisir gereja injili di wilayah Jerman karena didukung oleh para pangeran. Ia menghapuskan banyak praktik tradisional, termasuk pengakuan dosa dan kebaktian pribadi.

Luther berusia 63 tahun ketika ia meninggal pada 18 Februari 1546. Melanchthon menggambarkan jam-jam terakhir sang pembaru itu sebagai berikut: Hari Rabu, 17 Februari, Dr. Martin Luther menderita sakit yang sudah biasa dideritanya, yaitu karena gangguan cairan tubuh di saluran atau lubang perutnya.

Penyakit itu menyerangnya setelah makan malam, yang ia lawan dengan keras dan membuatnya dibawa ke ruang sebelah dan di sana ia terbaring di temp at tidurnya selama dua jam. Selama waktu itu sakitnya makin meningkat. Ketika Dr. Jonas berbaring di kamarnya, Luther bangkit lalu memohon kepadanya untuk bangun dan memanggil Ambrose, kepala sekolah anak-anaknya agar menyalakan api di kamar lainnya. Ketika ia baru saja masuk kamar itu, Albert, Earl of Mansfield, bersama istrinya dan orang-orang lain segera datang ke kamarnya

Akhirnya, karena merasa saat-saat terakhirnya sudah mendekat, sebelum pukul sembilan pagi, pada 18 Februari, ia menyerahkan dirinya kepada Allah dalam doanya yang saleh ini: “Bapaku di surga, Allah yang kekal dan pemurah, Engkau telah menyatakan kepadaku Anak- Mu yang kekasih, Tuhan kami Yesus Kristus. Aku telah mengajarkan tentang Dia, aku telah mengenal Dia, aku mengasihi Dia sebagai hidupku, kesehatanku, dan penebusanku. Orang-orang yang jahat telah menganiaya, mernfitnah, dan menyebabkan Dia yang aku kasihi menderita. Ambillah nyawaku untuk-Mu.

Beberapa saat berlalu kemudian Luther mengulang doa penyerahan nyawanya tiga kali: “Aku menyerahkan rohku ke dalam tangan-Mu. Engkau telah menebus aku, Oh Allah kebenaran.”Ia mengikuti doanya dengan kutipan ayat Alkitab favoritnya: “Oleh karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16)

Akhirnya, ia menutup matanya dan tidak membuka lagi. Musuh-musuh Luther bersukacita ketika mengetahui kematiannya karena berpikir bahwa pekerjaannya mungkin akan mati bersamanya. Namun, tentu saja tidak demikian sebab pekerjaannya didasarkan pada kebenaran firman Allah. Dan seperti halnya firman, doktrin Luther bertahan dan menyebarkan Injil Yesus Kristus yang benar ke seluruh dunia.

Total Pageviews

Praditya. Powered by Blogger.

Translate

Search