Kemartiran Antonie dan Ida


Tana Toraja bertahun-tahun lamanya dahulu adalah sebuah wilayah yang banyak dari para penduduknya masih menganut animisme.Berbagai ritual yang tidak sesuai dengan Alkitab kerap mereka praktikkan.Namun di tengah keadaan suram tersebut, datanglah seorang pendeta dari Belanda bernama Antonie Aris van de Loosdrecht. Bersama sang istri, Alida van de Loosdrect, mereka melakukan pelayanan kepada masyarakat sekitar.

Namun, Pendeta Anton dan Ida yang menikah pada 7 Agustus 1913 di Belanda itu tidak langsung mengunjungi Tana Toraja, melainkan mereka tinggal selama beberapa waktu di desa Tentena, Poso. Adapun alasan keduanya melakukan itu karena mereka menyadari mereka perlu mempelajari bahasa penduduk setempat agar bisa berkomunikasi. Dibantu oleh penerjemah Alkitab N. Adriani, pasangan suami-istri ini pun akhirnya mampu melancarkan bahasa Toraja.

Setelah sukses belajar bahasa, Anton dan Ida kemudian pergi ke Tana Toraja. Adapun lokasi yang mereka jadikan sebagai daerah tempat tinggal adalah Rentepao. Di sana keduanya mendapat sambutan yang hangat baik dari penduduk biasa maupun para kepala suku dan juga para parenge” atau para imam.

Awal pekerjaan Anton di wilayah Tana Toraja adalah mendirikan sekolah. Anton menganggap pendidikan merupakan yang paling dibutuhkan oleh orang-orang dimana ia dan istrinya kini berada. Untuk mewujudkan itu, ia dari lewat subuh hingga tengah malam, banting tulang mencari cara membangun tempat pendidikan belajar yang layak.

Usahanya pun kemudian berhasil. Sejumlah anak di Rentepao bahkan berhasil dibawanya untuk dibekali ilmu pengetahuan. Seiring dengan bidang pendidikan berhasil dijalankan, pemberian tindakan medis juga sukses ia dan istrinya bangun. 

Meski kedua bidang itu menunjukkan hasil positif, tetapi sampai beberapa waktu lamanya ternyata belum ada satu pun yang bisa mereka bawa kepada Kristus. Memang salah satu yang membuat mereka sulit untuk memuridkan penduduk lokal disana adalah karena mereka sangat mementingkan kualitas iman yang dari pemahaman benar akan iman Kristen.

Anton dan Ida akan menolak membaptis seseorang yang kurang jika ia tidak ikut pelajaran Katekisasi dulu. Meski sepertinya kaku, tetapi pada akhirnya ada empat pemuda yang bisa mereka muridkan. Perlahan tapi pasti murid yang dihasilkan dari pelayanan suami-istri ini pun bertambah dan bertambah jumlahnya. 

26 Juli 1917 adalah tanggal dimana sebuah hal yang tidak terduga terjadi. Saat Anton sedang berbincang-bincang mengenai rencana penerjemahan cerita-cerita alkitab ke dalam bahasa Toraja dengan seorang guru di Bori”, tiba-tiba pria asal Belanda tersebut diserang oleh seseorang yang telah melumuri diri dengan arang. Sebuah tombak pun tertancap di jantungnya.

Begitu sukses menghujamkan senjata tajam tersebut, sang pembunuh melarikan diri. Guru yang alami ketakutan itu kemudian bersiap-siap berangkat ke kediaman sang misionaris di Rentepoa. Namun, hal itu dicegah.

Dalam keadaan tubuh penuh darah, Anton berkata kepada guru sekolah yang bersamanya tersebut, “Tidak usah! Sebentar lagi saya akan mati, sampaikan salam saya kepada Istri yang sangat saya cintai dan juga anak-anak saya, sekarang tinggalkan saya sendiri, saya ingin berdoa”. Dalam keadaan berdoa inilah Anton meninggal dunia.

Sampai dengan kini, Pendeta Antonie Aris van de Loosdrech dikenang sebagai Martir untuk Tana Toraja.

Tana Toraja, sebagaimana yang kita ketahui, merupakan salah satu daerah di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Kristen



0 comments:

Post a Comment

Total Pageviews

Praditya. Powered by Blogger.

Translate

Search