Kemartiran William Tyndale (1536)

Sekarang kita sampai pada kisah tentang martir Allah, William Tyndale, yang pasti telah dipilih Allah untuk menggali akar dan fondasi pemerintahan paus. Akibatnya, pangeran besar kegelapan karena telah berbuat jahat terhadap Tyndale, tidak membiarkan sebuah batu tak terguling dalam usahanya untuk menjebak Tyndale, mengkhianatinya, dan mencabut nyawanya.

Tyndale dilahirkan dekat perbatasan Wales pada tahun 1494. Ia dididik di Oxford dan Cambridge, serta segera memulai pekerjaannya seumur hidup menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Inggris. Ketika ia meninggalkan Cambridge, ia menjadi kepala sekolah untuk anak-anak Master Welch ksatria Gloucestershire di Inggris.

Master Welch menyajikan pesta makan malam yang terkenal sehingga sering dikunjungi oleh pejabat gereja yang terdidik dari kalangan atas. Oleh karena menjadi anggota keluarga itu, Tyndale ikut makan malam bersama mereka dan bergabung dalam diskusi ten tang orang-orang seperti Martin Luther, teolog Jerman, dan Desiderius Erasmus, sarjana Renaissance dari Be1anda, dan teolog Gereja Roma - dan mengambil bagian dalam diskusi mereka tentang kontroversi gereja dan pertanyaan-pertanyaan ten tang Alkitab.

Oleh karena Tyndale berpendidikan tinggi dan te1ah menyerahkan dirinya untuk mempelajari firman Allah, ia tidak pernah ragu-ragu untuk memberikan penilaiannya tentang masalah-masalah Alkitab dengan kata-kata yang jelas dan sederhana. Ketika mereka tidak setuju dengannya, ia menunjukkan kepada mereka dalam Alkitab hal yang dikatakan Alkitab, bagaimana mereka salah dalam keyakinan dan doktrin mereka. Hal ini sering terjadi di rumah Welch, dan imam lokal segera menjadi khawatir dengan referensi Tyndale yang konstan pada Alkitab dan kritikannya terhadap doktrin mereka lalu mulai menaruh dendam secara diam-diam terhadapnya dalam hati mereka. 

Tidak berapa lama kemudian imam itu mengundang Master dan Lady Welch ke pesta tanpa Tyndale, dan segera mulai menguraikan doktrin mereka yang salah dengan bebas dan tanpa gangguan. Tidak diragukan lagi mereka merencanakan ini sebagai usaha untuk membuat Master Welch dan istrinya menentang Tyndale lalu mendukung doktrin mereka. Mereka hampir berhasil dalam hal ini sebab tidak lama setelah Master dan Lady Welch pulang ke rumah, mereka mulai berdebat dengan Tyndale tentang hal-hal yang dibicarakan imam-imam di pesta tadi. Tyndale menggunakan Alkitab dan mulai berdebat dengan mereka bagaimana hal-hal yang telah diberitahukan kepada mereka itu salah. Kemudian Lady Welch dengan cara yang agak menghina, berkata kepadanya, “Satu di antara doktor [ilmu ketuhanan] yang hadir di sana bisa membe1anjakan uangnya seratus pound jika ia mau; dan yang lain, dua ratus pound; dan yang lain, tiga ratus pound. Jadi, dengan alas an apa kami bisa memercayai kamu dan bukan mereka?” 

Tyndale melihat bahwa tidak ada gunanya baginya untuk menjawabnya, jadi sete1ah itu ia hanya sedikit berbicara tentang masalah-masalah itu. Namun, pada saat itu ia mengerjakan terjemahan buku Erasmus, The Manual of the Christian Knight, yang telah diterbitkan pada 1509, dan ia memberikan satu salinan terjemahannya kepada tuan dan nyonyanya lalu meminta kepada mereka untuk membacanya. Mereka membaca buku itu; dan sejak saat itu, hanya sedikit imam yang diundang ke rumah mereka untuk makan malam; dan ketika mereka diun dang mereka tidak diberi kesempatan untuk menguraikan doktrin Gereja Roma mereka dengan bebas. 

Ketika hal ini berlanjut dan imam itu menyadari bahwa pengaruh Tyndale yang makin besar di rumah Welch yang menjadi penyebab sikap mereka itu, mereka berkumpul dan berbicara menentang Tyndale di kedai minum atau tempat-tempat lainnya. Mereka mengatakan bahwa yang ia ajarkan itu sesat. Mereka juga menuduhnya di depan wakil uskup [sekretaris] dan beberapa pegawai uskup. 

Akibatnya, Wakil Uskup memerintahkan kepada imam-imam itu untuk muncuI di hadapannya dan memerintahkan Tyndale untuk hadir juga. Tyndale tidak ragu-ragu bahwa sesi itu dimaksudkan bukan untuk memanggil para pejabat gereja, me1ainkan untuk membuat tuduhan dan ancaman terhadapnya.Jadi, dalam perjalanan ia berdoa sungguh-sungguh dan dalam hati kepada Allah agar Dia memberikan kekuatan kepadanya untuk berdiri teguh dalam kebenaran firrnan-Nya.

Ketika saatnya tiba untuk muncul di depan Wakil Uskup, ia diancam, dicaci-maki, dan dibicarakan seolah-olah ia adalah anjing. Banyak tuduhan yang diarahkan kepadanya, tetapi tidak seorang pun yang muncul ke depan untuk membuktikan tuduhan tersebut meskipun semua imam dari wilayah itu ada di sana. Jadi, Tyndale terlepas dari cengkeraman mereka lalu kembali ke Master Welch. 

Di dekat keluarga Welch tinggal seorang doktor ilmu ketuhanan dan mantan sekretaris uskup yang bersikap bersahabat kepada Tyndale se1ama beberapa saat. Tyndale mendatanginya dan menjelaskan banyak hal yang ia temukan dalam Alkitab yang bertentangan dengan doktrin paus dan yang menimbulkan masalah baginya dengan imam lokal dan uskup sebab ia tidak takut membuka hatinya kepada orang ini. Doktor itu berkata kepadanya, “Tidak tahukah kamu bahwa pemimpin Gereja Roma sesungguhnya adalah antikris yang dibicarakan Alkitab? Namun, berhati-hatilah dengan hal yang kamu katakan sebab jika seseorang menemukan kamu memiliki pendapat itu, itu akan mendatangkan risiko bagi jiwamu.” 

Tidak lama sesudahnya, Tyndale berselisih dengan teolog tertentu tentang kebenaran Alkitab sampai orang itu meneriakkan kata-kata penghujatan ini karen a frustrasi, “Kami akan menjadi lebih baik tanpa hukum-hukum Allah daripada tanpa paus.” 

Ketika Tyndale mendengar hal ini, semangat kesalehannya menyembur keluar dan ia menjawab, ‘‘Aku menentang paus dan semua hukumnya! jika Allah memelihara hidupku, tidak sampai beberapa tahun aku akan membuat setiap anak yang bekerja di sawah dan membajak ladang mengetahui lebih banyak ayat Alkitab daripada paus!” 

Ketika waktu berlalu, imam-imam semakin mencerca Tyndale dan menuduhnya banyak hal, seraya mengatakan bahwa ia bidat. Tekanan serangan mereka menjadi begitu besar sehingga Tyndale menemui Master Welch dan berkata bahwa ia ingin meninggalkan pekerjaannya lalu pergi ke tempat lain. “Saya yakin,” katanya, “Saya tidak akan diizinkan untuk tinggal di sini lebih lama dan kamu tidak akan mampu melindungi saya meskipun saya tahu kamu akan berusaha melakukannya. Namun, hanya Allah yang tahu apa kesulitan yang akan kamu alami jika kamu tetap mempertahankan saya di sini, saya akan menyesal jika itu terjadi.” Jadi, Tyndale pergi dengan berkat Master Welch, menuju London dan di sana menyampaikan khotbah untuk beberapa saat, seperti yang telah ia lakukan di negara itu. 

Tidak lama setelah ia tiba di London ia berpikir tentang Cuthbert Tonstal, yang pada saat itu menjadi Uskup London, dan terutama catatan Erasmus dalam bukunya saat ia memuji Tonstal karena pengetahuannya yang luas. Ia merasa bahwa ia akan sangat senang jika ia bisa bekerja untuk Tonstal. Tyndale menulis surat kepada Uskup kemudian pergi menemuinya, sambil membawa salinan orasi Isocartes, orator dan guru dari Atena, yang te1ah ia terjemahkan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Inggris, tetapi Uskup memberikan berbagai alas an mengapa ia tidak memiliki pekerjaan untuknya dan menyarankan agar ia mencari pekerjaan di tempat lain di London. Percaya bahwa Allah dalam hikmat- Nya telah menutup pintu karena alasan tertentu, Tyndale kemudian menemui Humphrey Mummuth, anggota dewan kota di London lalu meminta tolong kepadanya. Mummuth menerimanya di rumahnya, tempat ia tinggal se1ama sekitar setahun.

Sementara ia ada di sana, Mummuth berkata, Tyndale hidup seperti seorang imam yang baik, be1ajar siang dan malam serta hanya makan makanan yang sederhana dan hanya minum satu gelas bir, pun mengenakan pakaian yang paling sederhana. 

Selama tahun itu Tyndale merasakan dorongan yang kuat untuk menerjemahkan Perjanjian Baru dari bahasa Latin ke bahasa yang lebih sederhana. Namun, ketika ia melihat bagaimana para pengkhotbah menyombongkan diri mereka sendiri dan mengklaim otoritas total dalam masalah-masalah rohani serta betapa sia-sia segala sesuatu yang dilakukan Uskup dan seberapa besar ia tidak disukai oleh mereka semua, ia menyadari bahwa tidak ada temp at baginya untuk me1akukannya di London atau Inggris. Allah segera menyediakan uang yang cukup baginya me1alui Mummuth dan beberapa orang lain untuk meninggalkan Inggris, lalu pergi ke Jerman, tempat Martin Luther baru saja selesai menerjemahkan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Jerman (1521), dan sedang mengerjakan banyak traktat, katekismus, dan terjemahan seluruh Alkitab. 

Setelah bertemu dengan John Frith, Martin Luther, dan ternan-ternan lainnya, Tyndale memutuskan bahwa satu-satunya jalan ia bisa mendapatkan manfaat yang ia inginkan dari terjemahannya adalah dengan menggunakan bahasa yang diucapkan oleh rakyat jelata, agar mereka bisa membaca dan melihat firm an Allah yang sederhana dan jelas. Tidak diragukan bahwa keputusannya diperngaruhi ketika ia melihat terjemahan Luther dan dampak yang dihasilkan pada orang Jerman. 

Tyndale tahu bahwa tidak mungkin meneguhkan orang awam dalam kebenaran apa pun kecuali Alkitab dibentangkan dengan gamblang di depan mata mereka dalam bahasa mereka sendiri sehingga mereka bisa memahami arti teks itu. jika tidak, musuh kebenaran akan menghancurkan itu dengan menggunakan argumen yang mirip dengan itu, tetapi menyesatkan, tradisi yang mereka buat sendiri tanpa dasar Alkitab, dengan mengubah teks, dan menguraikannya sedemikian rupa sehingga tidak mungkin untuk menentukan apakah hal yang mereka katakan benar maknanya atau tidak. 

Ia yakin bahwa penyebab utama semua masalah dalam gereja adalah karena firman Allah disembunyikan dari rakyat, jadi untuk waktu yang begitu lama, berbagai pengajaran dan kebenaran-kebenaran firm an sangat tergantung pada para pejabat gereja. Oleh karena itulah para imam berusaha melakukan apa pun semampu mereka untuk membiarkan Alkitab tetap tersembunyi supaya Alkitab tidak bisa dibaca sarna sekali. Dan bahkan jika ada seseorang yang bisa membaca Alkitab, imam menyimpangkan maknanya sehingga orang awam yang tidak berpendidikan yang memandang rendah penyimpangan mereka tidak dapat menyelesaikan teka-teki dalam doktrin mereka meskipun dalam hati mereka bahwa tahu hal yang diajarkan imam kepada mereka itu salah. 

Oleh karena alasan ini dan yang lainnya, Allah mendorong orang yang baik ini untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Inggris untuk kepentingan orang sederhana di negaranya. Tyndale mulai mencetak terjemahan Perjanjian Barunya pada 1525 di Cologne, Jerman, tetapi digang gu oleh keputusan legal, dan menyelesaikan percetakannya di Worms pada 1526. Segera sete1ah itu, terjemahannya muncul di Inggris.

Ketika Cuthbeth Tonstal, Uskup London, dan Sir Thomas More, jurubicara MPR, melihat terjemahan itu mereka merasa sakit hati dan mulai merancang cara untuk menghancurkan hal yang mereka sebut “terjemahan yang salah dan menyesatkan.” 

Ketika itu terjadi, Augustine Packington, pedagang tekstil, berada di Antwerpen di Belanda dalam perjalanan bisnis dan di sana bertemu dengan Uskup Tonstal, yang berada di sana karena Tyndale telah pindah ke sana dari Worms. Packington menyukai Tyndale, tetapi ia memberi tahu Uskup bahwa ia tidak menyukainya. Tonstal dan Thomas More telah merancang cara mereka bisa membeli semua buku Tyndale sebelum buku itu sampai di Inggris dan ia memberitahukannya kepada Packington. Packington menjawab, “Tuanku! Aku bisa melakukan jauh lebih banyak untuk membantumu dalam masalah ini daripada kebanyakan pedagang lain di sini, jika itu menyenangkan kamu. Saya mengenal orang Belanda, dan orang-orang asing yang te1ah membeli buku Tyndale darinya untuk dijual kembali, jadi jika kamu mau memberikan uang yang aku butuhkan, aku akan membeli setiap buku yang telah dicetak, dan masih belum terjual dari mereka.” 

Uskup, yang berpikir bahwa ia telah menginjak Allah, dan menguasai segala sesuatu, berkata, “Lakukan usahamu yang terbaik, Master Packington yang baik. Dapatkan buku-buku itu untukku, dan aku akan membayar berapa pun jumlahnya sebab aku bermaksud untuk membakar, dan menghancurkan semua buku itu di Gereja Salib Paulus di London.” 

Setelah menerima uang dari Uskup, Packington segera menemui Tyndale dan memberi tahu seluruh rencana tersebut, dan kesepakatan diadakan di an tara mereka untuk menjual semua buku yang bisa ia jual kepada Uskup. Jadi, Uskup London mendapatkan buku-buku itu, Packington mendapatkan ucapan terima kasih, dan Tyndale sekarang memiliki banyak uang untuk mencetak buku lebih banyak. 

Setelah hal ini berlangsung, Tyndale merevisi, dan memperbaiki terjemahan Perjanjian Barunya, dan meningkatkan percetakannya sehingga jumlahnya tiga kali lipat dibanding sebelumnya, dan mengirimnya ke Inggris. Ketika Uskup tahu bahwa ada lebih banyak buku yang muncul di Inggris, ia mengutus orang kepada Packington yang berada di London untuk berbisnis dan berkata kepadanya, “Bagaimana bisa ada begitu banyak Perjanjian Baru di sini? Kamu berjanji kepadaku bahwa kamu akan membeli semua buku itu bagiku.”

Packington menjawab, “Aku membeli semua buku yang tersedia, tetapi jelas mereka telah mencetak buku lebih banyak sejak saat itu. Mungkin masalahnya sejauh ini tidak lebih baik karena mereka memiliki stempel untuk mengirimkan buku-buku itu. Jadi, lebih baik kamu membeli stempelnya juga, jika kamu ingin memastikan.” Mendengar jawaban itu, Uskup tersenyum karena menyadari bahwa ia telah diperdaya, dan masalah itu berakhir di situ.

Tidak lama sesudahnya, George Constantine, yang dicurigai sebagai bidat, dimasukkan ke penjara oleh Sir Thomas More, yang sekarang telah menjadi wakil penguasa Inggris. More berkata kepadanya, “Constantine, aku ingin kamu jujur kepadaku tentang hal-hal yang aku tanyakan kepadamu. jika kamu jujur, aku berjanji akan menunjukkan kemurahan kepadamu dalam semua hallainnya yang dituduhkan kepadamu.

Di seberang laut adalah Tyndale, Joye, dan orang-orang besar seperti kamu. Aku tahu mereka tidak bisa hidup tanpa bantuan. Ada beberapa orang yang membantu memberi uang kepada mereka, dan karena kamu adalah satu dari mereka, dan kamu tahu dari mana uang mereka berasal, aku mendorong kamu untuk mengatakan kepadaku siapa yang membantu mereka.”

“Tuanku,” kata Constantine. “Aku ingin mengatakan kebenaran. Uskup dari London itulah yang telah membantu kami sebab ia telah memberi banyak uang kepada kami untuk membeli Perjanjian Baru yang dicetak untuk dibakar. Ia selalu menjadi satu-satunya penolong, dan penghibur kami dari dahulu sampai saat ini.” 

‘‘Aku memegang janjiku,” kata More, “Sebab aku sudah berpikir demikianlah halnya, oleh karena itu aku memberi tahu Uskup sebelum ia melakukannya.”

Tidak lama sesudahnya, Tyndale menerjemahkan Perjanjian Lama, dan menulis kata pengantar untuk setiap bab yang sangat berharga untuk dibaca berulang-ulang oleh semua orang yang melihatnya. Buku-buku ini dibawa ke Inggris melalui berbagai sarana, dan tidak bisa dikatakan bagaimana pintu cahaya telah dibuka melalui buku-buku itu di depan mata seluruh bangsa Inggris, yang sebelumnya telah tertutup dalam kegelapan. Buku-buku Tyndale, terutama terjemahan Perjanjian Baru, mendatangkan keuntungan rohani yang besar kepada orang awam yang saleh, tetapi mendatangkan kerugian besar bagi imam yang tidak saleh, yang takut melihat cahaya kebenaran menyinari perbuat an mereka yang gelap. Jadi, mereka mulai bangkit, dan merencanakan bagaimana mereka bisa menghentikan Tyndale.

Ketika Tyndale telah menerjemahkan Kitab Ulangan, ia ingin mencetaknya di Hamburg, Jerman, jadi ia naik kapal ke jurusan itu. Namun, kapal itu karam di pantai Belanda dan ia kehilangan semua buku, tulisan, dan salinannya, uang, dan waktu, dan harus mulai dari awallagi. Ia melanjutkan ke Hamburg dengan kapallain, dan dengan bantuan Master Coverdale, menerjemahkan kembali kelima kitab Musa - dari hari Paskah sampai Desember 1529, di rumah seorang janda yang saleh, Mistress Margaret Van Emmerson. Setelah selesai, ia kembali ke Antwerpen. 

Pada bagian akhir Perjanjian Baru bahasa Inggrisnya, Tyndale menyisipkan surat memohon orang yang membaca terjemahan itu untuk memberi tahunya jika mereka menemukan kesalahan yang paling kecil sekalipun, atau jika ada terjemahan yang mereka pan dang salah, dan harus dikoreksi. Namun, para pejabat gereja karena tidak ingin buku itu sukses, berseru menentangnya dan mengatakan bahwa ada seribu kesesatan di dalamnya, dan buku itu tidak perlu dikoreksi, tetapi disingkirkan sama sekali.

Beberapa imam berkata bahwa tidak mungkin menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Inggris. Beberapa orang berkata orang awam tidak berhak untuk memiliki Perjanjian Baru dalam bahasa umum yang mereka gunakan. Beberapa orang berkata itu akan membuat semua orang awam menjadi bidat. Dan untuk membujuk penguasa sekuler seperti Sir Thomas More untuk memihak mereka, yang sudah ia lakukan sebelumnya karena ia adalah penganut Gereja Roma yang teguh, mereka berkata bahwa itu akan membuat rakyat memberontak terhadap raja.

Imam di Inggris ini, yang seharusnya menjadi penuntun rakyat kepada terang, tidak mau menerjemahkan Alkitab sendiri atau mengizinkan orang lain menerjemahkan. Yang mereka inginkan hanyalah membiarkan orang-orang tetap dalam kegelapan, dan memanipulasi hati nurani mereka dengan tradisi dan doktrin yang salah. Dengan demikian mereka bisa memuaskan ambisi mereka pribadi, dan ketamakan mereka, dan meninggikan kehormatan mereka sendiri mengatasi kehormatan raja atau kaisar - bahkan melampaui Kristus sendiri.

Uskup, dan pejabat gereja lainnya tidak pernah beristirahat sampai raja menyetujui mereka. Dan pada tahun 1537 sebuah pernyataan dengan tergesa-gesa dibuat, dan diterbitkan di bawah otoritas sekuler yang melarang terjemahan Perjanjian Baru Tyndale di mana pun di Inggris. Namun tidak puas dengan itu, para imam membuat rencana untuk menjebak Tyndale dalam jaring mereka, dan mencabut nyawanya.

Dari pemeriksaan catatan di London, tampak jelas bahwa para uskup, dan Sir Thomas More mengurung beberapa orang yang menyertai Tyndale di Antwerpen di penjara, dan mereka dengan hati-hati menanyai mereka untuk menemukan hal yang bisa mereka ketahui tentang Tyndale, hal yang menjadi harta miliknya, di rumah siapa ia tinggal, di manakah rumah itu, seperti apakah ia, bagaimana cara ia berpakaian, kapan ia pergi keluar, ke mana ia biasanya pergi, dan tempat ia bertemu dengan orang-orang lain. Ketika mereka telah mengetahui semua ini, mereka mulai melakukan tindakan mereka yang jahat. 

Di Antwerpen, William Tyndale telah tinggal selama satu tahun di rumah Thomas Pointz, seorang Inggris yang memiliki rumah penginapan untuk para pedagang Inggris. Henry Philips, yang ayahnya adalah pedagang, dan menjalankan bisn is di Antwerpen, datang ke kota itu seolah-olah menjalankan bisnis ayahnya. Ia membawa pelayan bersamanya, dan tampak seperti seorang terhormat yang bisa dipercaya. Tyndale sering makan malam di tempat yang bias a dikunjungi para pedagang; dan di sana ia bertemu dengan Philips, yang entah bagaimana segera mendapatkan kepercayaan Tyndale, dan bersahabat dengannya. jadi, Tyndale mengajaknya berkunjung ke rumah Pointz,dan menjamu makan malam satu atau dua kali. Ia bahkan menampung Philips di rumah itu untuk sementara, dan memercayainya sedemikian rupa sehingga ia menunjukkan kepadanya buku-bukunya, dan hal-hal rahasia di ruang belajarnya. 

Namun, Thomas Pointz tidak terlalu memercayai Philips, dan bertanya kepada Tyndale bagaimana ia berkenalan dengannya. Tyndale menjawab bahwa ia adalah orang yang jujur, berpendidikan tinggi, dan sangat sesuai dengan rencananya. Melihat bahwa Philips sangat disukai oleh Tyndale, Pointz tidak berkata-kata lebih banyak, dan berpikir bahwa mereka mungkin telah berkenalan lama melalui ternan mereka masing-masing.

Setelah beberapa saat tinggal di kota itu, Philips meminta kepada Pointz untuk menunjukkan tempat-ternpat perdagangan di wilayah itu kepadanya. Selama perjalanan mereka, mereka bercakap-cakap ten tang berbagai hal, termasuk masalah raja Inggris, tetapi tidak ada apa pun yang dikatakan yang membuat Pointz mencurigai apa pun. Namun, setelah beberapa saat, Pointz mulai memahami bahwa Philips berusaha memastikan apakah ia akan membantunya dalam rencana yang ia buat demi uang. Pointz tahu bahwa Philips memiliki banyak uang karena Philips beberapa kali meminta tolong kepadanya untuk mencarikan barang-barang tertentu, dan selalu yang terbaik. Dan Philips selalu berkata, “Saya memiliki uang cukup.” Rencana, dan uang akhirnya bertemu, dan Pointz setuju dengan hal yang diinginkan Philips untuk ia kerjakan. 

Keesokan harinya Philips pergi ke Brussels, sekitar 38,6 km dari Antwerpen lalu membawa pulang jenderal-prokurator, yang merupakan pengacara Kaisar, dan beberapa petugas hukum. Sekitar tiga hari kemudian Pointz pergi ke Barrois, 29 km dari Antwerpen; dan di sana ia berkata ia memiliki bisnis yang membuatnya meninggalkan rumah selama empat sampai enam minggu. 

Beberapa hari setelah Pointz pergi, Henry Philips datang ke rumah Pointz pada subuh, dan bertanya kepada istrinya apakah Master Tyndale ada di sana. Ketika diberi tahu bahwa ia ada, ia pergi lalu menempatkan petugas yang ia bawa dari Brussels di jalan, dan di depan pintu. Sekitar tengah hari ia kembali, dan masuk ke kamar Tyndale lalu meminta kepadanya untukmeminjamkan 40 shilling kepadanya, “Sebab aku telah kehilangan dompet pagi ini dalam perjalanan dari Mechelen,” katanya. Jadi, Master Tyndale memberikan kepadanya 40 shilling, yang mudah didapatkan darinya jika ia memilikinya sebab ia orang yang mudah percaya, dan tidak berpengalaman dalam cara-cara dunia yang penuh tipu daya. Kemudian Philips berkata, “Master Tyndale, kamu akan menjadi tamuku saat makan malam nanti di sini hari ini.” 

Tyndale menjawab, “Tidak, aku akan pergi keluar untuk makan malam, dan kamu boleh ikut bersamaku dan menjadi tamuku.” 

Jadi, ketika saat makan malam tiba, mereka meninggalkan kamar Tyndale untuk pergi keluar. Di depan rumah Pointz ada jalan masuk yang sempit sehingga hanya bisa dilewati satu orang saja. Tyndale dengan sopan menawarkan kepada Philips untuk lewat lebih dahulu, tetapi Philips membuat gaya, dan mendesak agar Tyndale keluar lebih dahulu. Master Tyndale seorang yang pendek, dan Philips sedikit lebih tinggi, Ketika mereka sampai di pintu tempat Philips telah menempatkan para petugas sedemikian rupa sehingga mereka bisa melihat siapa yang keluar, ia menunjuk ke bawah ke arah Tyndale dari belakangnya untuk memberi tahu para petugas bahwa ialah orang yang harus mereka tangkap. Setelah mereka memasukkan Tyndale ke dalam penjara, para petugas memberi tahu Thomas Pointz bahwa mereka merasa menyesal ketika mereka melihat bahwa ia seorang yang sederhana, dan mudah percaya.

Setelah penangkapan Tyndale,jenderal-prokurator, dan beberapa petugas pergi ke ruang Tyndale, dan mengambil segala harta miliknya, termasuk semua tulisan, dan bukunya. Kemudian mereka membawa Tyndale ke puri Vilvorde, yang jaraknya 29 km dari Antwerpen. 

Di penjara, Tyndale ditawari jabatan prokurator untuk mewakilinya, dan advokator untuk berbicara baginya, tetapi kedua posisi itu ditolaknya seraya mengatakan bahwa ia akan berbicara bagi dirinya sendiri. Selama pemenjaraannya, Tyndale menyampaikan khotbah begitu banyak, dan bagus kepada sipir penjara, dan orang-orang yang datang untuk mengenalnya sehingga mereka melaporkan bahwa jika Tyndale bukan seorang Kristen yang baik mereka tidak memiliki cara untuk mengetahui siapa orang Kristen lain yang baik.

Meskipun Tyndale menjawab pertanyaan para penyidik Inkuisisi dengan benar, dan dengan penggunaan penalaran yang baik, tidak ada alasan yang cukup baginya untuk menyelamatkan dirinya dari kebencian, dan tekad mereka untuk menghancurkannya, dan pekerjaannya. Meskipun ia tidak layak dihukum mati, ia dihukum dengan alasan keputusan yang dibuat oleh Kaisar Romawi yang Kudus Charles V pada Diet of Augsburg pada 1530 ketika Kaisar, dan Gereja Roma menolak posisi Protestan yang dipaparkan kepada sidang.

Pada tanggal 6 Oktober 1536, di kota Vilvorde di Belanda, William Tyndale, penerjemah Allah pertama yang menerjemahkan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Inggris, dibawa ke tempat eksekusi, diikat di tiang, dicekik oleh pelaksana hukuman gantung sampai mati kemudian dibakar karena melakukan pekerjaan Allah. Ketika ia bertemu Tuhan, Tyndale berseru dengan suara yang keras, “Tuhan! Buka mata raja Inggris!”

Doktrin, dan kesalehan hidup Tyndale begitu kuat sehingga selama satu setengah tahun pemenjaraannya, dikatakan bahwa ia telah mempertobatkan sipir penjara, dan anak perempuannya, dan beberapa anggota keluarganya yang lain. 



Mengenai terjemahan Perjanjian Barunya karena musuh-musuhnya menemukan begitu banyak kesalahan dengan cara yang saling bertentangan dan menyatakan terjemahan itu penuh dengan kesalahan, William Tyndale menulis surat dari penjara kepada temannya, John Frith, ‘‘Aku memanggil Allah untuk mencatat pada hari saat kita akan muncul di hadapan Tuhan Yesus, bahwa aku tidak pernah mengubah satu pun suku kata firman Allah bertentangan dengan hati nuraniku; juga aku tidak akan melakukannya hari ini jika semua yang ada di bumi, entah itu kehormatan, kesenangan, atau kekayaan diberikan kepadaku.”

0 comments:

Post a Comment

Total Pageviews

Praditya. Powered by Blogger.

Translate

Search